Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Turki Tangkap 6 Aktivis Eropa, Langsung Deportasi!
Ilustrasi Bendera Turki (freepik.com/freestockcenter)
  • Enam aktivis kemanusiaan asal Eropa ditangkap otoritas Turki di Istanbul dan langsung dideportasi setelah proses hukum cepat, memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara Uni Eropa.
  • Delegasi yang terdiri dari pengacara, jurnalis, dan aktivis HAM itu datang untuk meneliti kondisi penjara “tipe sumur” di Turki yang dikritik karena sistem isolasi ekstrem terhadap tahanan politik.
  • Pemerintah Turki menuduh para aktivis memiliki kaitan dengan kelompok teroris DHKP-C, sementara pihak terkait membantah tuduhan tersebut dan menilai tindakan ini sebagai pembatasan kebebasan sipil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Otoritas keamanan di Istanbul, Turki, menangkap enam aktivis kemanusiaan asal Eropa pada Kamis (19/2/2026). Setelah melalui proses hukum yang sangat cepat, keenam delegasi internasional tersebut langsung dibawa ke Bandara Istanbul, untuk menjalani proses deportasi ke negara asal mereka pada Jumat (20/2/2026).

Penangkapan ini merupakan bentuk pengawasan ketat pemerintah Turki terhadap aktivitas warga negara asing di wilayahnya. Insiden ini dipastikan menambah ketegangan hubungan diplomatik antara Ankara dan negara-negara anggota Uni Eropa.

Perbedaan pandangan antara kedua belah pihak kini semakin memanas, khususnya yang berkaitan dengan masalah pengawasan sistem peradilan, serta kelayakan kondisi fasilitas penahanan yang ada di Turki.

1. Delegasi terdiri dari pengacara, jurnalis, serta aktivis hak asasi manusia

Penangkapan ini bermula ketika para delegasi mengunjungi Office of People’s Rights (HHB) di Turki. Delegasi tersebut terdiri dari pengacara, jurnalis, serta aktivis hak asasi manusia asal Italia, Prancis, Spanyol, Belgia, dan Rusia.

Tepat setelah pertemuan di kantor HHB pada Rabu (18/2/2026) tersebut berakhir, kepolisian setempat langsung menahan mereka. Pihak otoritas beralasan bahwa penahanan tersebut dilakukan untuk keperluan pemeriksaan administratif, yang berkaitan dengan izin tinggal dan aktivitas mereka selama berada di Turki.

Setelah penahanan, petugas kepolisian langsung menyita paspor para delegasi tersebut. Mereka kemudian dipindahkan ke direktorat migrasi, tanpa diberikan kesempatan untuk berkonsultasi dengan tim pengacara mereka.

"Mereka dipindahkan ke direktorat migrasi dan tidak diizinkan untuk bertemu dengan pengacara mereka," kata Ketua Asosiasi Pengacara Progresif (CHD) cabang Istanbul, Naim Eminoglu, dilansir The Straits Times.

2. Delegasi Eropa soroti penjara tipe sumur di Turki

Tujuan utama delegasi Eropa tersebut adalah mengobservasi langsung penjara "tipe sumur", yang banyak dikritik karena menerapkan sistem isolasi total bagi para tahanan politik di Turki. Menurut keterangan resmi HHB, para aktivis datang secara khusus untuk menjalankan misi observasi yang meneliti sistem penjara 'tipe sumur' dan penggunaan kurungan isolasi bagi beberapa tahanan politik, yang dinilai melanggar konvensi internasional.

Fasilitas penahanan ini diketahui memiliki sel yang sangat sempit dan minim cahaya matahari. Kondisi tersebut membuat para narapidana merasa seperti berada di dasar sumur yang dalam, gelap, dan terisolasi dari dunia luar.

Berbagai organisasi hak asasi manusia internasional, telah melontarkan kritik tajam terhadap kondisi penjara tersebut. Fasilitas ini diduga sengaja dirancang, guna merusak kesehatan mental dan fisik para tahanan dalam jangka panjang.

Partai Komunis Rakyat Spanyol (PCPE), yang anggotanya turut ditangkap, menegaskan bahwa tindakan Turki ini merupakan penahanan sewenang-wenang terhadap warga negara Eropa yang membela hak asasi manusia. Pada akhirnya, upaya delegasi internasional untuk mengungkap realitas di balik penjara berkeamanan tinggi ini harus berakhir dengan pengusiran. Insiden tersebut dinilai semakin memperburuk transparansi sistem peradilan pidana, khususnya di bawah pemerintahan Presiden Erdogan.

3. Turki menuduh aktivis Eropa berkaitan dengan kelompok teroris

Otoritas keamanan Turki melakukan penangkapan tersebut, berdasarkan dugaan adanya hubungan antara kolektif hukum HHB dengan Revolutionary People’s Liberation Party-Front (DHKP-C). Kelompok DHKP-C ini telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Turki, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

Tindakan ini diambil karena para aktivis dinilai melakukan aktivitas di luar batas izin kunjungan, serta berinteraksi dengan kelompok yang berada dalam pengawasan intelijen negara. Meskipun pihak HHB dan CHD secara konsisten membantah tuduhan ini, pemerintah Turki tetap menggunakan alasan keamanan nasional, untuk membatasi pergerakan aktivis asing di wilayah Istanbul.

Penangkapan para aktivis internasional ini, terjadi bersamaan dengan penahanan seorang jurnalis Deutsche Welle (DW) asal Jerman. Jurnalis tersebut ditahan atas tuduhan penyebaran berita palsu dan penghinaan terhadap presiden, yang dampaknya semakin memperburuk citra kebebasan pers di Turki.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team