Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ukraina Tawarkan Bantuan ke Saudi untuk Tangkal Drone Iran
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (President Of Ukraine from Україна, CC0, via Wikimedia Commons)
  • Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan bantuan kepada Arab Saudi untuk mencegat drone Iran, memanfaatkan pengalaman negaranya menghadapi drone Shahed-136 selama konflik dengan Rusia.
  • Ukraina mengembangkan drone pencegat murah buatan lokal yang dapat diproduksi massal hingga 10 ribu unit per bulan, menarik minat negara-negara Teluk dan dukungan positif dari Amerika Serikat.
  • Kiev membuka peluang barter dengan negara Timur Tengah, menukar drone pencegatnya demi memperoleh rudal Patriot AS guna memperkuat pertahanan udara melawan serangan balistik Rusia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menawarkan bantuan kepada Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS), untuk mencegat drone Iran. Tawaran disampaikan di tengah meluasnya konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Keduanya dilaporkan telah mendiskusikan masalah ini melalui sambungan telepon pada Sabtu (7/3/2026).

Kiev mengandalkan pengalaman militernya selama empat tahun terakhir dalam menghadapi gempuran drone Shahed-136 buatan Iran yang banyak digunakan oleh Rusia.

“Ukraina telah berjuang melawan Shahed selama bertahun-tahun, dan semua orang mengakui bahwa tidak ada negara lain di dunia yang memiliki pengalaman seperti kami,” ujar Zelenskyy, dilansir The Straits Times.

1. Ukraina mampu produksi drone pencegat yang lebih murah

tentara Ukraina memegang drone Punisher (Maxim Subotin, CC0, via Wikimedia Commons)

Negara-negara Teluk saat ini harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk menembak jatuh persenjataan udara murah milik Iran. Sebagai perbandingan, satu unit drone Shahed diperkirakan hanya berharga sekitar 30 ribu dolar AS (sekitar Rp508 juta). Sebaliknya, sistem pertahanan udara canggih seperti rudal pencegat PAC-3 untuk Patriot menelan biaya hingga jutaan dolar AS per tembakannya.

Ukraina sendiri telah mengembangkan drone pencegat mandiri yang jauh lebih ekonomis. Sistem persenjataan ini dirancang sebagai drone kamikaze yang secara otomatis akan menabrak ancaman di udara. Kiev berhasil menekan biaya produksinya hingga kisaran 1.000-2 ribu dolar AS (Rp16-33 juta) per unitnya.

Salah satu produsen swasta asal Ukraina, Skyfall, tercatat telah menguji coba drone pencegat tangguh bernama P1-SUN. Drone ini diklaim mampu melesat dengan kecepatan maksimal hingga 310 kilometer per jam. Seluruh bagian badannya diproduksi menggunakan teknologi cetak tiga dimensi sehingga sangat mudah untuk diproduksi secara massal.

Kapasitas industri pertahanan Kiev juga dinilai sangat memadai untuk memenuhi tingginya permintaan ekspor. Kepala Dewan Industri Pertahanan Ukraina, Ihor Fedirko, memperkirakan negaranya sanggup memproduksi hingga 10 ribu unit drone pencegat setiap bulan.

2. AS sambut bantuan Ukraina

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan Presiden AS, Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selain Arab Saudi, tawaran kerja sama serupa juga diajukan ke sejumlah negara lain di kawasan Timur Tengah. Zelenskyy mengaku telah berkomunikasi dengan para pemimpin dari Bahrain, Yordania, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab (UEA). Washington bahkan telah meminta dukungan Ukraina untuk melindungi sekutunya di kawasan Teluk.

AS menginginkan pengiriman spesialis Ukraina untuk memastikan keamanan di berbagai titik vital. Presiden AS Donald Trump menyambut baik usulan ini dan menyatakan keterbukaannya terhadap segala bentuk dukungan dari negara manapun.

Zelenskyy dilaporkan telah menginstruksikan jajarannya untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis yang diperlukan. Namun, ia memberikan syarat agar pengerahan personel ke luar negeri tidak boleh melemahkan pertahanan Ukraina yang masih berperang melawan Rusia.

Data militer menunjukkan bahwa Rusia meluncurkan lebih dari 19 ribu drone serang ke wilayah Ukraina pada musim dingin lalu. Tingginya intensitas serangan udara ini memaksa Kiev untuk selalu menyiagakan operator drone terbaiknya di dalam negeri.

3. Harapan barter dengan rudal Patriot

bendera Ukraina. (unsplash.com/Richard Bell)

Krisis keamanan di Timur Tengah justru membuka peluang bagi Ukraina untuk mengamankan pasokan militernya sendiri. Zelenskyy mengusulkan skema pertukaran aset pertahanan dengan negara-negara mitra di kawasan tersebut.

Kiev bersedia menukar pasokan drone pencegatnya demi mendapatkan sokongan rudal pertahanan udara Patriot buatan AS. Saat ini, cadangan rudal Patriot Ukraina dilaporkan semakin menipis dan mereka sangat membutuhkannya untuk menangkal rudal balistik jarak jauh Rusia.

Sementara itu, tercatat sekitar 800 rudal Patriot PAC-3 telah digunakan dalam beberapa hari terakhir di Timur Tengah. Angka tersebut terbilang cukup tinggi karena jauh melebihi total keseluruhan bantuan rudal serupa yang diterima Ukraina sejak awal perang.

Pakar militer sekaligus pemimpin redaksi Defense Express, Oleh Katkov, menilai skenario kerja sama ini akan sangat menguntungkan negara-negara Teluk. Mereka memiliki sumber daya finansial melimpah tetapi kekurangan data operasional serta algoritma pertempuran yang teruji di medan perang sesungguhnya.

“Nilai bantuan tersebut terletak pada fakta bahwa kami dapat membantu membangun sistem pertahanan udara yang sesuai berdasarkan pengalaman kami sendiri,” ujar Katkov, dilansir DW.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team