Jakarta, IDN Times - Ketegangan di Selat Hormuz memasuki fase baru setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran. Washington menuntut Teheran membuka kembali jalur vital tersebut dalam waktu 48 jam, atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur energinya.
Ancaman ini muncul di tengah perang yang telah memasuki pekan keempat, ketika situasi di kawasan Timur Tengah semakin tidak stabil. Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, kini berada di bawah tekanan setelah Iran secara efektif menutup akses melalui ancaman terhadap kapal, pemasangan ranjau, dan serangan terhadap sejumlah kapal.
Langkah Trump dinilai menambah dimensi baru yang berbahaya dalam konflik yang sudah kompleks. Risiko eskalasi semakin besar, dengan potensi dampak yang tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga secara global.
Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan sikap yang keras sepanjang konflik. Serangan rudal dan drone dilaporkan terus terjadi, menyasar sejumlah negara di kawasan Teluk hingga negara lain seperti Yordania, Azerbaijan, dan Turki.
