Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Energi Dunia Jadi Korban Konflik, 22 Negara Siap Jaga Selat Hormuz

Energi Dunia Jadi Korban Konflik, 22 Negara Siap Jaga Selat Hormuz
Tampilan satelit Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Envisat satellite/ESA)
Intinya Sih
  • Sebanyak 22 negara sepakat menjaga keamanan Selat Hormuz di tengah konflik AS-Israel-Iran, mengutuk serangan terhadap kapal dagang, dan menuntut Iran patuhi hukum internasional.
  • Negara-negara tersebut memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz dapat memicu krisis energi global serta mengancam perdamaian dan stabilitas ekonomi dunia.
  • Ke-22 negara menyatakan siap berkontribusi menjaga jalur pelayaran aman, mendukung pelepasan cadangan minyak strategis, dan bekerja sama menstabilkan pasar energi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Sebanyak 22 negara menyatakan kesiapan mereka untuk berkontribusi dalam menjaga keamanan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Jalur laut strategis tersebut menjadi sorotan global karena perannya yang vital dalam distribusi energi dunia.

Dalam pernyataan bersama, negara-negara tersebut mengutuk keras serangan terhadap kapal dagang yang tidak bersenjata. Mereka menilai tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan dan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan serta ekonomi global.

“Kami mengutuk keras serangan-serangan belakangan ini yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal dagang tak bersenjata di Teluk, serangan terhadap infrastruktur sipil termasuk instalasi minyak dan gas, dan penutupan Selat Hormuz secara de facto oleh pasukan Iran,” demikian bunyi pernyataan bersama yang disampaikan melalui Kementerian Luar Negeri Uni Emirat Arab (UEA), dikutip dari France24, Minggu (22/3/2026).

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat sejak Iran memperketat pengawasan dan membatasi lalu lintas kapal setelah serangan AS-Israel pada 28 Februari lalu. Kondisi ini berdampak langsung pada terganggunya jalur perdagangan internasional, khususnya energi.

1. 22 negara serukan serangan dihentikan dan hukum internasional dihormati

Peta Selat Hormuz.
Peta Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Ke-22 negara menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik yang terus meningkat di Timur Tengah. Mereka secara tegas meminta Iran untuk menghentikan berbagai aksi militer yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.

Negara-negara tersebut menyerukan agar Iran segera menghentikan ancaman, pemasangan ranjau, serta serangan drone dan rudal yang menargetkan jalur pelayaran komersial. Selain itu, mereka juga menuntut agar Iran mematuhi ketentuan hukum internasional yang berlaku.

“Serta untuk mematuhi Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa 2817,” demikian ditegaskan dalam pernyataan tersebut.

Lebih lanjut, mereka mengingatkan, kebebasan navigasi merupakan prinsip dasar dalam hukum internasional. Prinsip ini, termasuk yang diatur dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut, harus dijaga oleh semua negara tanpa pengecualian.

2. Ancaman global dari gangguan Selat Hormuz

kapal di Selat Hormuz
kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Negara-negara tersebut memperingatkan, dampak dari situasi di Selat Hormuz tidak hanya dirasakan di kawasan, tetapi juga secara global. Gangguan terhadap jalur ini berpotensi memicu krisis energi yang luas.

“Mereka memperingatkan dampak tindakan Iran akan dirasakan oleh semua orang di seluruh dunia, terutama mereka yang paling rentan,” demikian isi pernyataan tersebut.

Selain itu, gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasokan energi disebut sebagai ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan global. Negara-negara tersebut menilai kondisi ini membutuhkan respons kolektif.

“Sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817, kami menekankan bahwa gangguan terhadap pelayaran internasional dan terganggunya rantai pasokan energi global merupakan ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” tulis mereka.

Mereka juga menyerukan moratorium segera terhadap serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk instalasi minyak dan gas, guna mencegah eskalasi lebih lanjut.

3. Siap amankan jalur dan stabilkan energi dunia

Selat Hormuz.
ilustrasi Selat Hormuz (pexels.com/Lara Jameson)

Dalam pernyataannya, ke-22 negara menyatakan kesiapan untuk mengambil peran dalam memastikan keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen menjaga stabilitas global.

“Kami menyatakan kesediaan kami untuk berkontribusi pada upaya yang tepat guna memastikan jalur aman di Selat tersebut,” tulis pernyataan bersama itu.

Mereka juga menyambut langkah Badan Energi Internasional (IEA) yang mengizinkan pelepasan cadangan minyak strategis sebagai respons terhadap krisis energi yang mulai terasa. Langkah ini dinilai penting untuk menahan lonjakan harga minyak dunia.

“Kami akan mengambil langkah-langkah lain untuk menstabilkan pasar energi, termasuk bekerja sama dengan negara-negara penghasil tertentu demi meningkatkan produksi,” lanjut pernyataan tersebut.

Negara-negara tersebut menegaskan pentingnya kerja sama global dalam menjaga keamanan maritim. “Keamanan maritim dan kebebasan navigasi menguntungkan semua negara. Kami menyerukan kepada semua negara untuk menghormati hukum internasional dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar kemakmuran dan keamanan internasional,” seru mereka.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati
Follow Us

Latest in News

See More