Orang-orang bereaksi selama demonstrasi "Kebebasan untuk Iran" di alun-alun Potsdamer Platz di Berlin, Jerman pada 28 Februari 2026. (RALF HIRSCHBERGER/AFP)
Uni Eropa segera merespons krisis di Timur Tengah dengan meningkatkan status peringatan keamanan bagi seluruh staf diplomatik dan warga negaranya. Langkah tegas ini diambil menyusul situasi kawasan yang dinilai sudah sangat membahayakan keselamatan internasional.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengumumkan bahwa pihaknya tidak memiliki pilihan lain selain mengevakuasi darurat para personel yang tidak memegang peran sangat penting. Keputusan tersebut disepakati setelah Uni Eropa berkoordinasi intensif dengan para menteri luar negeri di kawasan serta mitra strategis.
Melalui media sosial, Kallas menyampaikan urgensi penarikan personel ini kepada publik global. Ia menekankan bahwa prioritas utama Uni Eropa saat ini adalah memastikan tidak ada warganya yang terjebak di tengah zona pertempuran aktif.
"Situasi terbaru di Timur Tengah saat ini sangat berbahaya. Tim perwakilan kami sedang bekerja penuh membantu kepulangan warga Uni Eropa, dan staf yang tidak mengemban tugas darurat juga mulai ditarik dari kawasan tersebut," ungkap Kaja Kallas dalam pernyataan resminya, dilansir Free Malaysia Today.
Selain itu, Uni Eropa juga mendesak semua pihak untuk mematuhi hukum kemanusiaan internasional demi melindungi warga sipil. Seruan serupa untuk segera menghentikan kekerasan juga datang dari pimpinan tertinggi di Brussel. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, dan Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, terus memantau dampak dari serangan rudal balistik ini terhadap keamanan kawasan secara keseluruhan.
"Kami meminta semua pihak untuk benar-benar menahan diri, menjaga keselamatan warga sipil, dan mematuhi hukum internasional," tulis pernyataan bersama dari von der Leyen dan Costa, dilansir The Straits Times.
Sementara itu, misi angkatan laut Uni Eropa bernama Aspides tetap bersiaga tinggi di perairan Laut Merah untuk memastikan jalur kapal-kapal komersial pembawa kebutuhan pokok tetap aman dan terbuka.
Sebagai bentuk antisipasi, beberapa pemerintah negara anggota Uni Eropa telah menyewa penerbangan tambahan untuk membantu kepulangan warganya melalui fasilitas transportasi yang masih beroperasi secara terbatas. Proses ini tercatat sebagai operasi logistik diplomatik terbesar yang dilakukan Uni Eropa di Timur Tengah dalam satu dekade terakhir.
Meskipun evakuasi besar-besaran sedang berlangsung, Uni Eropa menegaskan akan tetap mempertahankan kehadiran diplomatik dalam jumlah minimal. Kehadiran ini sangat penting untuk menjaga agar saluran komunikasi tetap terbuka, sekaligus mendukung upaya mediasi yang mungkin diperlukan di masa depan untuk meredakan ketegangan antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran.