ilustrasi protes di Paris, Prancis. (unsplash.com/Norbu GYACHUNG)
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sekitar 550 ribu orang turun ke jalan di berbagai kota, termasuk 110 ribu demonstran di Paris. Serikat pekerja CGT mengklaim jumlah peserta unjuk rasa mencapai 800 ribu orang. Aparat kepolisian menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang melempar benda keras serta petasan.
Perdana Menteri (PM) Prancis, Sebastien Lecornu, mengecam kerusuhan yang menyebabkan 1.200 orang ditangkap dan 150 polisi terluka. Di Kota Saint-Etienne, seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa. Sementara itu, Wali Kota Paris, Emmanuel Gregoire, menyebutkan jalan di ibu kota hancur setelah kelompok pemuda bertopeng membakar mobil dan merusak pertokoan.
Aksi penjarahan menyasar supermarket, apotek, butik mewah, hingga toko elektronik di Paris, Marseille, Nice, Nantes, Bordeaux, Limoges, Lille, Toulouse, dan Strasbourg. Kelompok pemuda bertopeng dan bersarung tangan mematikan kamera pengawas sebelum memecahkan kaca toko untuk menjarah barang.
Massa juga merusak kantor pemerintahan di Marseille dan Lille, menyerang markas polisi di Bordeaux, serta membakar kantor pariwisata di Lyon. Di Limoges, gedung balai kota berusia lebih dari 140 tahun hancur parah setelah diterobos dan dibakar oleh demonstran bertopeng.
"Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor pemerintah atau tempat usaha, maupun menjarah, bahkan di balai kota kita, akan dituntut dan dihukum," ujar Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dilansir NDTV.