Ilustrasi peta kawasan Timur Tengah. (unsplash.com/mana5280)
Penangkapan ini terjadi di tengah pemberlakuan aturan baru yang ketat terhadap jurnalis dan anggota masyarakat, termasuk warga asing yang berkunjung, pada saat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Konflik di kawasan itu memasuki minggu kedua setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026. Akibatnya, Iran merespons dengan terus melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara sekutu AS di Teluk. Serangan itu meluas ke target non-militer, termasuk situs sipil dan fasilitas energi.
Serangan balasan Iran ke wilayah Teluk baru-baru ini dilaporkan telah merusak beberapa ikon wisata UEA, termasuk hotel Burj Al Arab dan Fairmont The Palm. Bahkan, penerbangan di seluruh Timur Tengah juga mengalami gangguan akibat konflik tersebut.
Kepemimpinan ulama Iran telah memilih putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru negara itu. Dalam pernyataan pertamanya sejak menjabat, ia bersumpah akan membalas dendam kepada AS dan Israel.
"Selat Hormuz akan tetap ditutup untuk pelayaran sebagai alat untuk menekan musuh," kata Mojtaba Khamenei pada 12 Maret 2026, dikutip dari NHK News.
Pernyataan tersebut menyerukan persatuan nasional dan mengatakan bahwa rakyat Iran tidak punya pilihan selain melanjutkan perjuangan. Pernyataan itu juga mengatakan bahwa Washington harus menutup pangkalan militernya di wilayah Timur Tengah atau menghadapi serangan.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan bahwa mereka telah menyerang sebuah kapal tanker milik AS, yang mengibarkan bendera Kepulauan Marshall di Teluk Persia. IRGC menyebut awak kapal telah mengabaikan peringatan mereka.