anak-anak Gaza di kamp pengungsi (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)
Laporan WFP mencatat sekitar 1,4 juta orang atau 67 persen populasi Gaza menghadapi kerawanan pangan tingkat krisis atau lebih buruk (fase tiga IPC ke atas). Dari jumlah tersebut, sebanyak 200 ribu orang berada pada fase empat atau kondisi darurat yang membutuhkan pasokan bantuan segera guna mencegah kematian akibat kelaparan. Situasi makin berat karena tingkat pengangguran di Gaza melampaui 80 persen, sehingga banyak keluarga tidak mampu membeli pangan bergizi.
Kelompok anak-anak dan para ibu menjadi pihak yang paling rentan terhadap krisis pangan berkepanjangan ini. Survei UNICEF menemukan satu dari delapan anak di Gaza mengalami kekurangan gizi kronis. Sementara itu, data WFP menunjukkan hanya satu dari lima anak yang mengonsumsi variasi makanan yang cukup. Di sisi lain, sebagian besar lahan pertanian Gaza diduduki militer Israel, fasilitas irigasi rusak, dan nelayan dilarang melaut oleh angkatan laut Israel.
Perwakilan dan Direktur WFP untuk Palestina, Shaun Hughes, menyatakan perbaikan ketahanan pangan yang sempat diraih sangat mudah goyah. "Ini adalah capaian yang sangat rapuh, mudah berbalik, dan situasinya masih brutal," tegas Hughes. Warga Gaza lainnya, Nesreen Muqayed, seorang perempuan berusia 50 tahun pengidap sakit ginjal, menuturkan persediaan tepungnya telah habis dan sayur serta buah telah menjadi barang mewah yang tidak mampu dibeli keluarganya secara teratur.