Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WHO: Pasokan Medis di Gaza Menipis akibat Terbatasnya Akses Bantuan
ilustrasi layanan kesehatan di rumah sakit (unsplash.com/Hush Naidoo Jade Photography)
  • WHO melaporkan pasokan medis di Gaza hampir habis akibat terbatasnya akses bantuan, dengan stok obat esensial dan bahan operasi berada pada tingkat kritis.
  • Hanya sebagian kecil truk bantuan yang berhasil masuk ke Gaza, membuat banyak rumah sakit tidak beroperasi dan ribuan pasien menunggu evakuasi medis.
  • Serangan Israel masih berlanjut meski ada gencatan senjata, menyebabkan ribuan korban jiwa dan memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada Jumat (6/3/2026), mengatakan bahwa pasokan medis di Gaza hampir habis akibat terbatasnya akses masuk bagi bantuan ke wilayah tersebut. Persediaan sejumlah barang seperti kain kasa dan jarum suntik bahkan telah habis.

“Stok obat-obatan esensial, perlengkapan penanganan trauma, dan bahan habis pakai untuk operasi berada pada tingkat yang sangat kritis. Kekurangan bahan bakar juga terus membatasi operasional rumah sakit. Situasinya sulit, dan kami akan segera kehabisan apa pun yang masih tersisa,” kata direktur regional WHO Hanan Balkhy, mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan di Gaza.

1. Jumlah bantuan yang masuk masih sedikit

ilustrasi perawatan rumah sakit (unsplash.com/Marcelo Leal)

Balkhy menuturkan bahwa WHO telah mengirimkan sejumlah pasokan medis dan bahan bakar pada Selasa dan Rabu (3-4/3/2026). Namun, beberapa truk masih tertahan di El Arish, Mesir.

“Kita sedang membicarakan maksimal 200 dari 600 truk setiap hari yang harus masuk, jadi itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan di Gaza,” katanya, seraya menyerukan agar lebih banyak bahan bakar diizinkan masuk supaya rumah sakit tetap dapat beroperasi.

Ia menambahkan bahwa setengah dari 36 rumah sakit di Gaza masih tutup, sementara fasilitas medis yang masih beroperasi kesulitan mempertahankan layanan penting seperti operasi, dialisis, dan perawatan intensif.

2. Sekitar 18 ribu orang di Gaza masih menunggu evakuasi medis

ilustrasi truk bantuan (Israel Defense Forces, CC BY-SA 2.0 , via Wikimedia Commons)

Pada Selasa (3/3/2026), badan militer Israel yang mengontrol akses ke Gaza mengumumkan telah membuka kembali perbatasan Kerem Shalom untuk masuknya bantuan kemanusiaan secara bertahap. Sebelumnya, titik-titik penyeberangan ditutup dengan alasan adanya ancaman rudal dari Iran menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negara itu pekan lalu.

WHO mengatakan, penyeberangan Rafah menuju Mesir, yang menjadi jalur keluar utama bagi sebagian besar warga Gaza, masih ditutup dan evakuasi medis ditangguhkan. Sekitar 18 ribu orang, termasuk anak-anak yang terluka dan pasien dengan penyakit kronis, saat ini menunggu untuk dievakuasi.

3. Serangan Israel di Gaza masih terus berlanjut

kehancuran di Jalur Gaza akibat serangan militer Israel (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Meski gencatan senjata masih berlaku sejak Oktober 2025, pasukan Israel masih terus membombardir Gaza setiap hari. Dilansir dari Al Jazeera, seorang ayah dan putrinya tewas akibat serangan drone Israel di Khan Younis, Gaza selatan, pada Sabtu (7/3/2026). Tak lama kemudian, serangan Israel lainnya di kota tersebut menewaskan satu orang dan melukai seorang anak perempuan.

Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, sebanyak 640 warga Palestina telah tewas dan 1.700 lainnya terluka sejak adanya gencatan senjata. Adapun total korban tewas sejak perang meletus pada Oktober 2023 telah mencapai 72.123 orang, dengan 171.805 lainnya terluka.

Perang genosida Israel juga menyebabkan hampir seluruh populasi Gaza yang berjumlah lebih dari 2 juta orang mengungsi. Warga Palestina di sana kini sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan untuk bertahan hidup.

Human Rights Watch (HRW), dalam laporannya pada Februari 2026, mengungkapkan bahwa pembatasan yang diberlakukan Israel telah memicu krisis obat-obatan, bahan rekonstruksi, makanan dan air di Jalur Gaza.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team