Pelayaran Flotilla ke Gaza Akan Kembali, Dimulai 12 April

- Misi “Freedom and Resilience Flotilla” dijadwalkan berlayar dari Barcelona pada 12 April, membawa bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza sebagai kelanjutan upaya solidaritas internasional.
- Flotilla ini melibatkan sekitar 100 kapal dan aktivis dari 150 negara, dengan rute singgah di Italia, Tunisia, serta pelabuhan lain di Laut Mediterania sebelum mencapai Gaza.
- Aktivis menegaskan misi ini sebagai bentuk perlawanan sipil damai terhadap blokade Gaza, di tengah kondisi kemanusiaan yang masih kritis dengan puluhan ribu korban jiwa sejak 2023.
Jakarta, IDN Times - Sejumlah aktivis internasional akan kembali meluncurkan misi flotilla kemanusiaan baru untuk rakyat Palestina. Pelayaran menuju Jalur Gaza dijadwalkan berlangsung pada April mendatang.
Menurut penyelenggara, misi bertajuk “Freedom and Resilience Flotilla” itu akan mulai berlayar dari Barcelona, Spanyol, pada 12 April.
“Freedom and Resilience Flotilla akan berlayar dari Barcelona pada 12 April,” kata penyelenggara misi kemanusiaan tersebut, dikutip dari Sputnik, Kamis (26/2/2026).
Misi ini menjadi kelanjutan dari upaya sebelumnya yang pada Oktober 2025 dicegat oleh pasukan Israel sebelum mencapai Gaza.
1. Partisipasi dari 150 negara

Penyelenggara memperkirakan flotilla terbaru ini akan melibatkan sekitar 100 kapal dengan aktivis yang berasal dari 150 negara. Sebelum tiba di Jalur Gaza, armada tersebut dijadwalkan singgah di Italia, Tunisia, serta sejumlah pelabuhan lain di Laut Mediterania.
Misi ini menyusul flotilla bantuan kemanusiaan sebelumnya yang dicegat pasukan Israel pada Oktober 2025. Para aktivis yang ditangkap dalam insiden tersebut kemudian dideportasi.
Kementerian Luar Negeri Turki saat itu menyebut tindakan Israel sebagai tindak pembajakan. Mereka menegaskan, serangan terhadap aktivis damai merupakan pelanggaran berat hukum internasional.
2. Disebut perlawanan sipil damai

Dalam konferensi pers di Istanbul, juru bicara aktivis Turki Dilek Tekocak menekankan, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza masih sangat buruk, meskipun gencatan senjata tengah berlangsung.
Ia menyebutkan, 477 warga Palestina tewas selama periode gencatan senjata tersebut.
“Misi ini bukan hanya merupakan kampanye bantuan kemanusiaan yang dilangsungkan setelah mekanisme internasional yang ada terbukti gagal. Misi ini juga merupakan perlawanan sipil secara damai terhadap blokade ilegal pada taraf global,” kata Tekocak.
Pernyataan tersebut menegaskan flotilla tidak hanya dimaksudkan sebagai pengiriman bantuan, tetapi juga sebagai bentuk protes terhadap blokade yang diberlakukan atas Gaza.
3. Situasi kemanusiaan Gaza

Menurut otoritas kesehatan di Jalur Gaza, lebih dari 72.000 orang telah tewas sejak Oktober 2023. Dalam periode yang sama, jumlah korban luka diperkirakan melampaui 171.000 orang.
Angka-angka tersebut disampaikan di tengah kondisi kemanusiaan yang disebut masih kritis, meskipun terdapat upaya gencatan senjata.
Dengan latar situasi tersebut, flotilla terbaru ini direncanakan berlayar pada April sebagai bagian dari rangkaian inisiatif solidaritas internasional terhadap warga Gaza.
















