Menteri Israel Ancam Ubah Ibu Kota Lebanon Jadi seperti Gaza

- Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich mengancam akan menjadikan pinggiran selatan Beirut seperti Gaza, menyusul serangan Hizbullah terhadap Israel.
- Militer Israel memerintahkan evakuasi paksa di Dahiyeh sebelum melancarkan serangan udara besar, menewaskan 123 orang dan melukai ratusan warga Lebanon.
- Human Rights Watch memperingatkan bahwa perintah evakuasi paksa Israel berpotensi melanggar hukum perang dan membahayakan warga sipil rentan di Lebanon.
Jakarta, IDN Times - Menteri Keuangan sayap kanan Israel, Bezalel Smotrich, pada Kamis (5/3/2026), mengancam akan mengintensifkan serangan di wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon, Beirut, hingga menjadikannya seperti kota di Jalur Gaza.
"Kalian ingin membawa neraka kepada kami, tetapi justru kalian yang membawanya pada diri kalian sendiri. Pinggiran selatan akan menjadi seperti Khan Younis,” kata Smotrich, merujuk pada sebuah kota di Gaza selatan yang porak-poranda akibat lebih dari 2 tahun perang genosida Israel.
Ia menambahkan bahwa kelompok Hizbullah telah melakukan kesalahan dengan melancarkan serangan terhadap Israel dan akan menanggung akibatnya.
1. Israel gempur Dahiyeh beberapa jam setelah keluarkan perintah evakuasi

Ancaman Smotrich ini muncul hanya beberapa jam setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi paksa untuk beberapa wilayah pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai Dahiyeh. Seruan tersebut membuat warga bergegas meninggalkan rumah mereka hingga menyebabkan kemacetan di jalan-jalan utama. Beberapa jam kemudian, Israel mulai menjatuhkan bom, yang diklaim menargetkan infrastruktur Hizbullah.
“Belum pernah terjadi sebelumnya bahwa tentara Israel memerintahkan perintah evakuasi paksa ke pinggiran selatan Beirut. Tidak benar-benar ada tempat bagi mereka untuk pergi dengan cepat,” kata jurnalis Al Jazeera, Bernard Smith. Ia menyebutkan bahwa lebih dari 400 ribu orang tinggal di kawasan tersebut.
Israel sebelumnya juga mengeluarkan perintah evakuasi paksa bagi penduduk di wilayah Lebanon selatan, yang memicu gelombang pengungsian massal.
2. Korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon mencapai 123 orang

Lebanon kembali terseret ke dalam perang di Timur Tengah setelah Hizbullah mulai meluncurkan roket ke Israel sejak Senin (2/3/2026). Aksi ini merupakan respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Militer Israel kemudian melancarkan serangan udara dan darat secara besar-besaran terhadap Lebanon, dengan mengebom sejumlah wilayah di bagian selatan negara itu dan Beirut. Hizbullah juga meningkatkan aktivitas militernya dalam beberapa hari terakhir sebagai respons atas agresi Israel. Kelompok itu telah menembakkan puluhan roket dan drone ke Israel, serta menyerang pasukan Israel yang ditempatkan di dalam wilayah Lebanon.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, jumlah korban tewas akibat serangan Israel di kini telah mencapai 123 orang, sementara 683 lainnya terluka. Puluhan ribu orang juga telah mengungsi di seluruh negeri, dengan banyak keluarga mencari perlindungan di tempat-tempat penampungan di Beirut yang sudah penuh sesak.
3. HRW sebut perintah evakuasi paksa Israel dapat melanggar hukum perang

Sementara itu, Human Rights Watch (HRW) menilai perintah evakuasi paksa Israel terhadap penduduk Lebanon selatan berisiko menimbulkan pelanggaran serius terhadap hukum perang.
“Seruan agar semua orang yang tinggal di selatan Litani (Sungai) untuk segera mengungsi menimbulkan peringatan serius dari sisi hukum dan kemanusiaan, serta kekhawatiran akan keselamatan warga sipil,” kata Ramzi Kaiss, peneliti HRW Lebanon, dikutip dari The New Arab.
Ia juga mempertanyakan nasib lansia, orang sakit, dan penyandang disabilitas yang kemungkinan besar akan kesulitan untuk melakukan evakuasi.
Konflik tersebut juga menimbulkan kekhawatiran di tingkat internasional. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan diakhirinya permusuhan dan menggambarkan situasi ini sebagai momen yang sangat berbahaya bagi Lebanon.
"Hizbullah harus segera menghentikan serangannya terhadap Israel. Israel harus menahan diri dari intervensi darat atau operasi skala besar di wilayah Lebanon. Rakyat Lebanon mempunyai hak atas perdamaian dan keamanan – sama seperti semua orang di Timur Tengah," tulisnya di X.


















