Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo-Uganda sebagai Darurat Kesehatan
ilustrasi wabah Ebola (unsplash.com/Gani Nurhakim)

  • WHO menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional karena berpotensi menyebar ke negara-negara Afrika lainnya.
  • Jumlah korban di DRC mencapai 80 orang, sementara Uganda melaporkan satu kasus setelah pasien kembali dari Provinsi Ituri yang menjadi pusat penyebaran.
  • Wabah Ebola sering terjadi di DRC akibat kondisi hutan tropis dan sistem kesehatan yang lemah, membuat virus Bundibugyo mudah berkembang dan menyebar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan Uganda sebagai darurat kesehatan internasional. Status ini resmi ditetapkan pada Minggu (17/5/2026).

Menurut WHO, status ini ditetapkan karena wabah Ebola di DRC dan Uganda berpotensi menyebar ke negara lain, terutama ke negara-negara di Afrika. Oleh karena itu, WHO mengingatkan semua warga di Afrika untuk tetap waspada.

“Setelah berkonsultasi dengan negara-negara di mana peristiwa tersebut sedang terjadi, dengan ini, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyakit Ebola di Republik Demokratik Kongo dan Uganda yang disebabkan oleh virus Bundibugyo sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional (PHEIC),” bunyi pernyataan resmi WHO, seperti dilansir laman resminya. 

1. Wabah Ebola tidak akan menjadi pandemik seperti COVID-19

potret virus Ebola (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Kendati sudah ditetapkan sebagai darurat kesehatan internasional, WHO mengatakan wabah Ebola di DRC dan Uganda tidak akan berubah menjadi pandemik seperti COVID-19. Sebab, penyebarannya masih sangat terbatas dan tidak semasif COVID-19. 

“Namun, wabah ini (Ebola) tidak memenuhi kriteria keadaan darurat pandemi, sebagaimana didefinisikan dalam regulasi kesehatan internasional (IHR),” lanjut WHO dalam pernyataannya.  

Menurut WHO, negara-negara yang berbatasan dengan DRC dan Uganda berisiko tinggi terpapar wabah Ebola. Mobilitas penduduk yang tinggi di sepanjang perbatasan memperbesar risiko penyebaran virus dengan cepat.

2. Jumlah korban wabah Ebola di DRC mencapai puluhan jiwa

ilustrasi korban jiwa (pexels.com/Mario Wallner)

Kementerian Kesehatan DRC pada Jumat (15/5/2026) melaporkan, jumlah korban akibat wabah Ebola di wilayahnya kini sudah mencapai 80 orang. Semua korban tersebut berasal dari Provinsi Ituri. Sebab, di DRC, provinsi tersebut menjadi pusat penyebaran wabah. 

“Setiap hari, orang-orang meninggal dan ini sudah berlangsung sekitar seminggu. Dalam sehari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang. Saat ini, kami belum tahu pasti penyakit apa ini,” kata Jean Marc Asimwe, seorang warga di Kota Bunia, Ibu Kota Provinsi Ituri, dilansir The Guardian

Sementara itu, jumlah korban wabah Ebola di Uganda tidak terlalu banyak. Sejauh ini, otoritas kesehatan Uganda mengatakan korban wabah tersebut baru berjumlah satu orang. Korban dilaporkan terpapar Ebola usai pulang dari Provinsi Ituri yang ada di DRC.

3. Wabah Ebola sudah sering terjadi di DRC

potret suasana pedesaan di Republik Demokratik Kongo (pexels.com/Alain Nkingi)

Wabah Ebola sendiri sudah sering terjadi di DRC. Sebab, wilayah DRC yang dipenuhi hutan hujan tropis sangat cocok untuk perkembangan virus Bundibugyo yang menyebabkan Ebola. Selain itu, sistem layanan kesehatan yang masih rapuh juga membuat Ebola dengan mudah menyebar di DRC. 

Kali ini, wabah Ebola di DRC pertama kali terjadi di daerah Mongbwalu, salah satu wilayah yang ada di Provinsi Ituri. Setelah itu, wabah kemudian menyebar ke wilayah lainnya, seperti Bunia dan Rwampara. Kemudian, wabah juga menyebar ke negara tetangga DRC, seperti Uganda.

Sebetulnya, DRC sudah terbiasa menghadapi wabah Ebola. Namun, mereka kerap kali mengalami kesulitan logistik dan kekurangan pasokan alat-alat medis untuk para pasien wabah tersebut. Inilah yang membuat korban wabah Ebola di DRC jadi cukup banyak.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team