Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 65 Orang

Wabah Ebola di Kongo Tewaskan 65 Orang
ilustrasi baju APD (pexels.com/Gustavo Fring)
Intinya Sih
  • Wabah Ebola di Provinsi Ituri, Kongo, menewaskan 65 orang dan mencatat 246 kasus dugaan infeksi, dengan tantangan besar akibat mobilitas tinggi serta lokasi berbatasan Uganda dan Sudan Selatan.
  • Africa CDC memperkuat koordinasi regional bersama pemerintah RDK, WHO, dan mitra internasional untuk meningkatkan pengawasan, kesiapsiagaan, serta respons lintas batas menghadapi penyebaran wabah.
  • Pakar menilai wabah berulang di Kongo dipicu faktor lingkungan dan sosial kompleks seperti kontak manusia dengan hewan pembawa virus, mobilitas penduduk tinggi, serta kondisi keamanan yang tidak stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Republik Demokratik Kongo (RDK) kembali menghadapi darurat kesehatan setelah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC) pada Jumat (15/5/2026) melaporkan wabah Ebola di Provinsi Ituri, wilayah timur negara itu, telah menewaskan 65 orang. Otoritas kesehatan juga mencatat 246 kasus dugaan terinfeksi virus tersebut.

Pengendalian wabah di Provinsi Ituri menghadapi tantangan besar karena kawasan itu berbatasan langsung dengan Uganda dan Sudan Selatan. Selain itu, wilayah tersebut juga mencakup sejumlah kota pertambangan dengan tingkat mobilitas penduduk yang sangat tinggi.

Virus Ebola diketahui menyebabkan demam berdarah berat dengan tingkat kematian yang tinggi. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh, seperti darah, muntah, atau air mani dari orang yang terinfeksi, termasuk melalui kontak dengan jenazah saat proses persiapan pemakaman.

1. Strain baru memperluas risiko penyebaran lintas batas

ilustrasi virus (pexels.com/CDC)
ilustrasi virus (pexels.com/CDC)

Dilansir Euro News, berdasarkan data laboratorium penelitian nasional RDK yang dirilis Africa CDC, virus Ebola ditemukan pada 13 dari 20 sampel yang telah diperiksa. Hasil awal menunjukkan wabah kali ini melibatkan strain berbeda dari varian Zaire, yaitu jenis Ebola yang sebenarnya sudah memiliki vaksin. Hasil sekuensing genetik lengkap disebut masih ditunggu dalam waktu 24 jam. Wabah ini juga tercatat sebagai wabah Ebola ke-17 di Kongo sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976.

Africa CDC menyampaikan kekhawatiran tinggi terhadap potensi meluasnya wabah. Faktor yang mendorong risiko tersebut meliputi mobilitas warga yang intens akibat aktivitas pertambangan di Mongwalu, persoalan keamanan di wilayah timur RDK, celah dalam pelacakan kontak erat, serta tantangan logistik di daerah terpencil.

Kasus utama saat ini dilaporkan berada di zona kesehatan Mongwalu dan Rwampara. Selain itu, sejumlah kasus dugaan juga mulai tercatat di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri, yang berjarak lebih dari 1.000 kilometer dari Kinshasa, ibu kota RDK.

2. Africa CDC memperkuat koordinasi regional

ilustrasi peta Afrika
ilustrasi peta Afrika (pexels.com/Nothing Ahead)

Merespons perkembangan wabah, Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, menyatakan lembaganya berdiri dalam solidaritas bersama pemerintah dan masyarakat RDK.

“Mengingat pergerakan penduduk yang tinggi antara wilayah yang terdampak dan negara-negara tetangga, koordinasi regional yang cepat sangat penting,” ujar Kaseya, dikutip The Guardian.

Kaseya juga menjelaskan Africa CDC sedang bekerja sama dengan pemerintah RDK, Uganda, Sudan Selatan, serta sejumlah mitra untuk memperkuat pengawasan, kesiapsiagaan, dan respons di lapangan.

Lembaga itu juga menggelar pertemuan koordinasi tingkat tinggi secara mendesak bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perusahaan farmasi, serta otoritas kesehatan dari negara-negara terdampak. Pertemuan tersebut membahas prioritas respons segera, termasuk koordinasi lintas batas, dukungan laboratorium, pencegahan infeksi, komunikasi risiko kepada masyarakat, pemakaman yang aman, hingga mobilisasi sumber daya.

3. Mengapa Ebola kerap berulang di Kongo?

ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)
ilustrasi virus (pexels.com/Daniel Dan)

Siklus wabah yang terus berulang di Kongo kembali menarik perhatian para pakar kesehatan global. Peneliti senior kesehatan global di University of Southampton, Inggris, Michael Head, menjelaskan bahwa negara itu memang kerap menghadapi fatalitas akibat Ebola. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi gabungan faktor lingkungan dan sosial yang kompleks.

“Kontak manusia yang dekat dengan reservoir hewan, kemungkinan besar kelelawar tetapi mungkin juga primata, adalah salah satu faktornya. Kekhawatiran lain mencakup pergerakan orang antara lingkungan pedesaan dan perkotaan, iklim tropis, dan cakupan hutan hujan yang luas,” kata Head, dikutip The Guardian.

Sebagai catatan, wabah Ebola pada 2014 hingga 2016 di Afrika Barat menyebabkan sekitar 28 ribu kasus dan 11 ribu kematian. Sementara itu, wabah di wilayah timur Kongo pada 2018-2020 menewaskan lebih dari 1.000 orang, sedangkan wabah terakhir di negara tersebut berakhir sekitar lima bulan lalu dengan total 43 kematian.

RDK juga masih bergelut dengan tantangan logistik dan keamanan, terutama di wilayah timur yang terdampak aktivitas kelompok bersenjata. Dalam situasi terbaru ini, Africa CDC mengimbau masyarakat di daerah terdampak untuk segera melaporkan gejala, menghindari kontak dengan kasus dugaan, serta mematuhi panduan dari otoritas kesehatan nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Related Articles

See More