Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
 Xi Jinping Dikabarkan Akan Sambangi Kim Jong Un, Ada Apa?
Sekretaris Jenderal Partai Komunis China, Xi Jinping (Press Service of the President of the Russian Federation / Roman Kubanskiy, This file comes from the website of the President of the Russian Federation and is licensed under the Creative Commons Attribution 4.0 License, via Wikimedia Commons)
  • Xi Jinping dikabarkan akan mengunjungi Kim Jong Un di Korea Utara pekan depan, menjadi kunjungan pertama setelah tujuh tahun, di tengah upaya diplomasi Beijing dengan AS dan Rusia.
  • Korsel memantau ketat rencana pertemuan Xi-Kim yang dinilai bisa membuka kembali dialog Korut-AS, sementara China memperkuat hubungan strategis dan konektivitas lintas perbatasan dengan Pyongyang.
  • Kunjungan Xi disebut berpotensi menjaga stabilitas politik-ekonomi Korut serta memperluas ruang kerja sama ekonomi, termasuk sektor pariwisata, tanpa melanggar sanksi PBB.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan akan bertolak ke Korea Utara (Korut) paling cepat pekan depan untuk bertemu Pemimpin Tertinggi Korut, Kim Jong Un. Agenda itu muncul di tengah rangkaian diplomasi Beijing setelah Xi menggelar pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, serta Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Mengutip The Independent, Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menilai lawatan Xi bertujuan membuka kembali peluang dialog baru antara Kim dan Trump. Jika terealisasi, kunjungan tersebut akan menjadi perjalanan pertama Xi ke Korut setelah tujuh tahun tak mendatangi negara itu.

1. Seoul memantau intensif rencana Pertemuan Tingkat Tinggi

Bendera Korea Utara (unsplash.com/Mike Bravo)

Laporan JoongAng Daily menyebut rencana perjalanan Xi muncul setelah pemimpin China itu menerima Trump pada 14 dan 15 Mei 2026, lalu melanjutkan pertemuan dengan Putin pada Rabu (20/5/2026) berikutnya. Pejabat di Seoul melihat rangkaian pertemuan itu sebagai sinyal kuat menuju pertemuan puncak Xi dan Kim.

Menanggapi perkembangan tersebut, Gedung Biru Korsel menyatakan pihaknya sedang mengawasi situasi secara saksama. Pemerintah Korsel berharap komunikasi intensif antara China dan Korut dapat memberi dampak positif bagi perdamaian serta stabilitas di Semenanjung Korea.

Menteri Unifikasi Korsel, Chung Dong Young, juga menilai kunjungan Xi kemungkinan akan membahas kelanjutan dialog antara Korut dan AS meski belum ada pengumuman resmi dari Beijing. Pernyataan itu disampaikan seiring meningkatnya perhatian Seoul terhadap arah hubungan Pyongyang dan Beijing.

2. China memperkuat kemitraan strategis dengan Korut

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan China dan Korut terus bergerak lebih dekat. Kerja sama kedua negara kini tak hanya berkutat pada perdagangan dan diplomasi, tetapi juga meluas ke pertukaran militer, sementara Korut tetap menjaga China sebagai sekutu tradisional sekaligus mitra ekonomi utamanya meski juga mempererat hubungan dengan Rusia melalui pengiriman pasukan dan pasokan senjata untuk perang di Ukraina.

Kedekatan kedua negara kembali terlihat saat China dan Korut membuka lagi jalur penerbangan langsung serta layanan kereta penumpang yang sempat terhenti sejak pandemi COVID-19 pada 2020. Aktivasi kembali konektivitas itu menjadi bagian dari pemulihan hubungan lintas perbatasan kedua negara.

Isu Korut turut dibahas dalam pertemuan puncak AS dan China. Dalam lembar fakta Gedung Putih setelah pertemuan itu, kedua negara disebut “mengonfirmasi tujuan bersama mereka untuk mendeknuklirisasi Korut”.

Di sisi lain, China tercatat sudah tak lagi memakai frasa “denuklirisasi Semenanjung Korea” dalam dokumen diplomatik resminya sejak 2022. Perubahan istilah itu menjadi perhatian dalam perkembangan hubungan Beijing dengan Pyongyang.

3. China menjaga stabilitas politik dan ekonomi Korut

ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Hubungan Korut dengan dunia luar sempat membeku setelah Kim menghentikan dialog utama dengan AS dan Korsel usai diplomasi dengan Trump menemui jalan buntu pada 2019. Sejak itu, Kim juga menyebut Korsel sebagai “musuh paling bermusuhan” bagi negaranya.

Profesor Studi Korea Utara dari Ewha Womans University, Park Won-gon, menilai upaya memperkuat hubungan dengan sekutu tradisional seperti Korut membantu China menghadapi persaingan jangka panjang dengan AS dalam kerangka “hubungan konstruktif stabilitas strategis”. Sementara itu, Profesor Studi China dari Hankuk University of Foreign Studies, Kang Joon-young, memperkirakan Xi akan menggunakan kunjungan tersebut untuk menjelaskan langsung hasil pertemuannya dengan Trump kepada Kim.

Ketergantungan ekonomi Korut terhadap China juga masih tinggi. Perdagangan bilateral kedua negara tercatat mencapai sekitar 326 juta dolar AS (setara Rp5,7 triliun) pada April, yang menjadi level bulanan tertinggi sejak November 2017.

Kehadiran Xi dinilai dapat membuka ruang ekonomi yang lebih longgar bagi Korut, termasuk peluang menghidupkan kembali sektor pariwisata dalam skala besar. Langkah itu disebut tetap berada dalam batas sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team