ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)
Hubungan Korut dengan dunia luar sempat membeku setelah Kim menghentikan dialog utama dengan AS dan Korsel usai diplomasi dengan Trump menemui jalan buntu pada 2019. Sejak itu, Kim juga menyebut Korsel sebagai “musuh paling bermusuhan” bagi negaranya.
Profesor Studi Korea Utara dari Ewha Womans University, Park Won-gon, menilai upaya memperkuat hubungan dengan sekutu tradisional seperti Korut membantu China menghadapi persaingan jangka panjang dengan AS dalam kerangka “hubungan konstruktif stabilitas strategis”. Sementara itu, Profesor Studi China dari Hankuk University of Foreign Studies, Kang Joon-young, memperkirakan Xi akan menggunakan kunjungan tersebut untuk menjelaskan langsung hasil pertemuannya dengan Trump kepada Kim.
Ketergantungan ekonomi Korut terhadap China juga masih tinggi. Perdagangan bilateral kedua negara tercatat mencapai sekitar 326 juta dolar AS (setara Rp5,7 triliun) pada April, yang menjadi level bulanan tertinggi sejak November 2017.
Kehadiran Xi dinilai dapat membuka ruang ekonomi yang lebih longgar bagi Korut, termasuk peluang menghidupkan kembali sektor pariwisata dalam skala besar. Langkah itu disebut tetap berada dalam batas sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).