Jepang Sempat Awasi Pertemuan Trump-Xi Jinping, Ada Apa?

- Jepang memantau ketat KTT AS-China di Beijing karena khawatir Trump memberi konsesi soal Taiwan yang bisa memengaruhi stabilitas keamanan kawasan.
- Xi Jinping memperingatkan Trump agar berhati-hati menangani isu Taiwan, sementara PM Jepang Sanae Takaichi menyiapkan langkah diplomatik pasca pertemuan tersebut.
- China menjalankan strategi politik dengan mendekati oposisi Taiwan dan menekan AS agar lebih tegas menentang kemerdekaan Taiwan, situasi ini membuat Tokyo semakin waspada.
Jakarta, IDN Times – Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Amerika Serikat (AS) dan China di Beijing menyita perhatian Jepang. Tokyo disebut mencermati penuh pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping karena muncul kekhawatiran Trump dapat memberi konsesi terkait Taiwan demi melancarkan negosiasi dagang dengan Beijing.
Kekhawatiran itu muncul karena kunjungan tersebut menjadi lawatan pertama presiden AS yang sedang menjabat ke China dalam hampir 10 tahun terakhir. Hasil pembicaraan Trump dan Xi dinilai bakal berpengaruh langsung terhadap stabilitas keamanan Jepang.
1. Xi memperingatkan Trump soal Taiwan

Isu Taiwan sejak lama menjadi persoalan paling sensitif bagi China. Berdasarkan laporan dari pejabat senior pemerintah Jepang, dalam pembicaraan tertutup pada Kamis (14/5/2026), Xi memperingatkan Trump bahwa hubungan kedua negara berada dalam situasi berbahaya dan konflik dapat pecah apabila AS tak menangani isu Taiwan secara tepat.
Dilansir The Manichi, Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi dilaporkan mulai menyiapkan langkah penyeimbang. Menurut pejabat senior pemerintah Jepang, Takaichi mempertimbangkan segera berbicara lewat telepon dengan Trump setelah KTT selesai.
Langkah itu muncul di tengah hubungan Jepang dan China yang sedang memburuk. Situasi tersebut ikut dipicu pernyataan Takaichi di parlemen yang sebelumnya mengaitkan potensi krisis Taiwan dengan keterlibatan Pasukan Bela Diri Jepang.
2. Trump membahas penjualan senjata Taiwan

Secara terbuka, Jepang dan AS terus menyampaikan dukungan terhadap perdamaian di Selat Taiwan. AS tetap mempertahankan posisinya untuk tak mendukung kemerdekaan Taiwan serta meminta penyelesaian damai, sedangkan Jepang memilih jalur dialog sambil menjaga hubungan non-pemerintah dengan Taiwan.
Meski begitu, situasi di lapangan dinilai jauh lebih kompleks. Trump sebelumnya menyatakan akan membicarakan penjualan senjata AS ke Taiwan secara langsung dengan Xi, sementara China yang menganggap Taiwan bagian wilayahnya menolak keras penjualan tersebut karena dianggap bertentangan dengan Undang-Undang Hubungan Taiwan milik AS.
Xi juga pernah mengingatkan Trump dalam percakapan telepon pada Februari agar berhati-hati terkait isu itu. Ketegangan serupa sempat terlihat pada Desember lalu ketika China menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan usai pemerintahan Trump menyetujui kesepakatan penjualan senjata.
3. China menjalankan strategi politik Taiwan

Selain memberi tekanan kepada AS, China juga menjalankan pendekatan politik lain terkait Taiwan. Dilansir NHK, Xi belum lama ini bertemu ketua Kuomintang Cheng Li-wun di China, langkah yang dipandang para pakar sebagai upaya mendekati partai oposisi Taiwan yang lebih terbuka terhadap Beijing.
Para pakar juga menilai Xi kemungkinan meminta Trump mengubah pernyataan politik AS dari “tidak mendukung kemerdekaan Taiwan” menjadi secara tegas “menentang kemerdekaan Taiwan”. Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sempat menyatakan kebijakan dasar AS terhadap Taiwan tetap tak berubah.
Bagi Jepang yang memiliki keterbatasan sumber daya, tekanan situasi bertambah setelah China sebelumnya menerapkan kontrol ekspor barang-barang dual-use atau ganda guna. Berdasarkan keterangan pejabat senior Kementerian Luar Negeri Jepang, karakter Trump yang sulit diprediksi membuat Tokyo memilih menelaah seluruh hasil pertemuan itu untuk memetakan titik kesepakatan maupun perbedaan antara Trump dan Xi.



















