Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Volodymyr Zelenskyy sedang berbincang.
potret Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy (commons.wikimedia.org/Presidential Communications Office)

Intinya sih...

  • Tentara Ukraina yang tewas bertambah 9 ribu orang

  • Wawancara dilakukan menjelang peringatan 4 tahun perang Rusia-Ukraina

  • Rusia masih menyerang Ukraina di tengah negosiasi damai

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut 55.000 pasukan negaranya tewas selama perang melawan Ukraina sejak 2022. Informasi ini disampaikan Zelenskyy dalam sebuah wawancara yang dihelat oleh France 2 TV pada Rabu (4/2/2026) malam waktu setempat.

Dalam pernyataannya, Zelenskyy menambahkan bahwa banyak juga pasukan tentara Ukraina yang dinyatakan hilang selama perang melawan Rusia. Namun, presiden berusia 48 tahun itu tidak membeberkan berapa jumlah pasti tentara Ukraina yang hilang dalam peperangan. 

“Di Ukraina, secara resmi jumlah tentara yang tewas di medan perang, baik profesional maupun wajib militer, adalah 55.000 (orang),” kata Zelenskyy.

Meski begitu, Kementerian Dalam Negeri Ukraina mencatat ada lebih dari 70 orang Ukraina yang hilang di tengah perang dengan Rusia. Jumlah tersebut terdiri dari warga sipil dan pasukan militer.

1. Tentara Ukraina yang tewas bertambah 9 ribu orang

ilustrasi tentara Ukraina (pexels.com/Алесь Усцінаў)

Pada awal 2025 lalu, Volodymyr Zelenskyy menyebut jumlah tentara Ukraina yang tewas selama perang melawan Rusia adalah 46.000 orang. Itu berarti, pada tahun ini, jumlah pasukan Ukraina yang tewas bertambah 9.000 orang. 

Namun, pernyataan yang dilontarkan Zelenskyy rupanya berbeda dengan data yang dirilis Center for Strategic and International Studies beberapa waktu lalu. Sebab, data dari lembaga think tank asal Amerika Serikat itu menyebut bahwa hingga akhir 2025, jumlah pasukan Ukraina yang tewas dalam perang melawan Rusia adalah 140.000 orang. 

Jumlah ini sangat jauh dengan data yang disebut oleh Zelenskyy dalam pernyataannya kepada France 2 TV. Di sisi lain, masih menurut laporan yang sama, Russia juga kehilangan 325.000 pasukan militer dalam perang melawan Ukraina sejak 2022.

2. Wawancara dilakukan menjelang peringatan 4 tahun perang Rusia-Ukraina

ilustrasi perang Rusia dan Ukraina (pexels.com/Pixabay)

Wawancara yang dilakukan Presiden Volodymyr Zelenskyy dengan France 2 TV ini dilakukan menjelang peringatan 4 tahun perang Rusia-Ukraina berlangsung. Sebab, pada 24 Februari 2026 nanti, perang antara kedua pihak resmi memasuki tahun ke-4.

Saat itu, Pasukan Rusia mulai melakukan serangan ke Ukraina dalam operasi militer yang disebut “Special Military Operation”. Vladimir Putin memutuskan untuk membombardir Ukraina karena mereka bersikeras untuk bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). 

Putin tidak suka Ukraina bergabung dengan NATO. Sebab, tindakan tersebut akan memperlemah hegemoni Rusia di kancah global. Selain itu, menurut Putin, bergabungnya Ukraina ke NATO juga bakal membuat Rusia kehilangan wilayah penyangga yang sangat berharga, yakni Luhans dan Donetsk.

3. Rusia masih menyerang Ukraina di tengah negosiasi damai

ilustrasi serangan Rusia ke Ukraina (pexels.com/asim alnamat)

Hingga saat ini, perang antara Rusia dan Ukraina masih belum menunjukkan tanda-tanda perdamaian. Sebab, pasukan Rusia masih terus membombardir Ukraina. Pada Selasa (3/2/2026), misalnya, pasukan Rusia kembali melancarkan serangan ke Kyiv.

Serangan tersebut menyasar beberapa infrastruktur energi yang ada di sana. Selain Kyiv, Rusia juga kerap menyerang infrastruktur energi yang ada di beberapa kota besar lainnya, seperti Dnipro, Zaporizhzhia, Kharkiv, dan Odesa.

Serangan ini membuat ribuan warga yang mendiami kota-kota itu kehilangan pasokan listrik untuk menyalakan penghangat ruangan. Padahal, Ukraina saat ini sedang dilanda musim dingin ekstrem. Suhu di sana bisa mencapai minus 20 derajat celcius. Oleh karena itu, warga Ukraina saat ini terancam mati kedinginan.

Ukraina sendiri sebetulnya sudah mengupayakan negosiasi damai dengan Rusia. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pertemuan trilateral dengan Rusia dan Amerika Serikat di Abu Dhabi pada Kamis (5/2/2026). 

Namun, pertemuan itu belum mampu menghasilkan perdamaian. Bahkan, Juru Bicara Istana Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Rusia tetap akan melanjutkan perang dengan Ukraina sampai negosiasi di antara kedua pihak dinyatakan cukup. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team