Comscore Tracker

Petani Muda, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim 

Bestie, maukah kamu jadi petani milenial?

Perubahan iklim itu nyata. Sektor paling terdampak adalah pertanian. Dampak tersebut jika tidak ditangani sedari awal, akan menciptakan masalah besar di kemudian hari seperti krisis pangan dan ketergantungan terhadap produksi negara lain.

Dampak itu disampaikan oleh petani muda bernama Marlan Ifantri Lase. Dia berasal dari Nias yang telah bertani sejak usia tujuh tahun.

Dalam reportasi Hack yang berjudul Nature goes against them: Indonesian young farmers impacted by climate change (2021), Lase mengakui perubahan iklim telah mengacaukan masa tanam.

Musim hujan yang datang lebih cepat atau musim kemarau yang berkepanjangan, telah menciptakan ketidakpastian siklus pertanian. Hasil panen jadi tidak menentu dan bahkan berjumpa dengan kekasih yang tak diharapkan, yakni kegagalan panen.

Lase mengungkap kekhawatiran lebih besar: petani muda melihat peluang semakin sempit dan memilih jadi buruh di kota.

Jika itu tidak hanya terjadi di Nias, tapi juga di daerah lain di Indonesia, susutnya jumlah petani akan mengancam sektor pangan nasional. Sumber pangan Indonesia yang berasal dari tanaman petani bisa hilang sehingga bergantung dengan produk luar negeri.

Perubahan iklim yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebabkan oleh emisi gas rumah kaca, telah memerangkap panas matahari di atmosfer, menyebabkan pemanasan global dan nasib bumi yang hanya satu-satunya ini jadi terancam.

Ada banyak dampak buruk dari ancaman perubahan iklim, beberapa di antaranya munculnya badai dahsyat yang menyebabkan banjir dan merusak tanaman petani. Dampak lain adalah kemarau panjang yang meningkatkan kekeringan di lahan pertanian yang potensial.

Dalam penjelasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, secara lebih jauh perubahan iklim berdampak pada penyusutan area pertanian yang bakal yang memicu menurunnya produktivitas.

Secara otomatis, perubahan iklim ini jelas-jelas menjadi faktor utama yang bisa menghabisi kemampuan negara untuk memproduksi pangan secara mandiri. Petani muda jadi putus asa dan lahan pertanian potensial makin menyusut.

Perubahan iklim secara jelas menjadi ancaman bagi sumber pangan nasional. Masalah besar ini masih ditumpangi dengan masalah lain, yakni menyusutnya jumlah petani Indonesia.

Proses regenerasi profesi petani berjalan tertatih-tatih karena profesi tersebut tidak mampu memberikan citra sebagai pekerjaan yang bergengsi atau pekerjaan yang bisa memakmurkan diri.

Banyak anak muda yang lulus sekolah atau kuliah, lebih memilih bekerja di kota dan meninggalkan sawah orang tua di desa.

Akhirnya, para petani yang bertahan adalah petani yang berusia tua, yang sudah mudah lelah, yang sulit untuk berinovasi, sulit memahami perkembangan teknologi, sehingga akan sulit pula untuk digenjot produktivitasnya.

Pada awal Desember 2021, dilansir Kompas TV, Presiden Joko Widodo dengan jelas mengatakan bahwa jumlah petani di Indonesia telah berkurang. Presiden berharap petani muda bersemangat terjun di sektor pertanian. Tapi maukah anak muda bertani?

Apa yang disampaikan oleh Presiden Jokowi selaras dengan data yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik. Jumlah pekerja pertanian dari tahun 1990 sampai tahun 2020 terus mengalami penurunan.

Dikutip dari Kata Data, dari sekian penurunan, ada sedikit jumlah kenaikan petani. Beberapa kenaikan jumlah petani terjadi pada 2018. Pada tahun itu, jumlah petani yang bertambah berada di atas usia 45 tahun.  Sedangkan kelompok usia produktif di bawah 45 tahun justru mengalami penurunan.

Ini bukti bahwa profesi petani bukanlah profesi kalangan anak muda karena jumlah petani yang berusia di atas 45 tahun semakin bertambah banyak, sedangkan yang berusia di bawah 45 tahun justru berkurang.

Ada dua faktor utama penentu mengapa anak muda Indonesia enggan bertani. Pertama, upah rata-rata profesi petani tidak menjanjikan. Kedua, disampaikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, menyusutnya lahan pertanian.

Berdasarkan reportase IDN Times pada Agustus 2021, Presiden Joko Widodo pernah bersesumbar ingin menjadikan petani sebagai profesi yang menjanjikan sehingga generasi muda bersedia terjun ke sektor tersebut.

Said Abdullah, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KPRP), meminta Presiden Joko Widodo agar hal tersebut tidak hanya jargon belaka, namun benar-benar diwujudkan. Dua kunci utama mendorong anak muda bersedia jadi petani, kata Abdullah, adalah akses terhadap lahan pertanian dan pendapatan yang layak.

Sejauh ini, apa yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah mendorong anak-anak muda menjadi petani dengan Program Petani Milenial. Bahkan Kementerian Pertanian menargetkan ada penambahan satu juta petani muda setiap tahunnya.

Kementerian Pertanian juga meluncurkan tiga program kesejahteraan petani, yakni layanan kredit terjangkau, ekspor dan pembentukan komando strategis pertanian. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta lembaganya untuk fokus terutama pasca-produksi.

Limpo menekankan agar petani perlu keluar dari aktivitas biasa seperti budidaya langsung tanaman, tetapi juga mengerti serta memahami komersialisasi hasil panen dengan teknologi.

Harapan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo itu dikhawatirkan hanya akan tetap jadi harapan belaka. Jika program petani milenial tidak berlangsung secara sukses, maka hanya ada petani tua yang sudah sulit berinovasi dan tak paham perkembangan teknologi.

Selain itu, munculnya komunitas petani muda memang membahagiakan. Tapi, nasib mereka juga harus bertarung dengan alam, di mana perubahan iklim bakal menjadi hambatan terbesar.

Sebagai Presidensi G-20 Indonesia, Presiden Joko Widodo mengatakan, dikutip dari laman Kominfo, “penanganan perubahan iklim harus diletakkan dalam kerangka besar pembangunan berkelanjutan.” Presiden menegaskan Indonesia akan mencapai “Net Zero” atau netral karbon di tahun 2060.

Dalam pertemuan bertajuk 1st Environment Deputies Meeting Climate Sustainability Working Group (1st EDM-CSWG) di Yogyakarta pada Maret 2022, negara-negara anggota G-20 memberikan respon positif atas agenda perubahan iklim yang diusung Indonesia.

Sebagai tuan rumah penyelenggara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20, dengan tema Recover Together, Recover Stronger, pemerintahan Indonesia telah melakukan inovasi dengan membangun 61 bendungan demi mencapai ketahanan air, pangan dan energi.

Selain itu, Indonesia juga melakukan revitalisasi 500 waduk dan danau, merehabilitasi 2 juta hektare sistem irigasi, dan membangun 500 hektare sistem irigasi baru, kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono.

Ini penting untuk masa depan para petani. Lebih dari itu, pemerintah diharap memiliki keseriusan untuk mendorong anak muda terjun ke sektor pertanian, memberi pelatihan dan pendampingan dalam beradaptasi di pertanian guna meminimalkan risiko dampak perubahan iklim.

Generasi 1000 Aspirasi Indonesia Muda menginginkan pemerintah serius membuat kebijakan melawan perubahan iklim, agar anak muda yang ingin bertani, bersemangat menjadi bagian dari sumber utama ketahanan pangan nasional.

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ananda Zaura

Berita Terkini Lainnya