Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sumber Gambar: indonesianfilmcenter.com
Sumber Gambar: indonesianfilmcenter.com

Artikel ini merupakan artikel peserta kompetisi menulis #WorthyStory yang diadakan oleh IDNtimes.com. Kalau kamu ingin artikelmu eksis seperti ini, yuk ikutan kompetisi menulis #WorthyStory sekarang juga. Informasi lebih lengkapnya, kamu bisa cek di sini.


 

Anak-anak berlarian di halaman yang sejuk. Dari raut muka mereka terpancar kebahagiaan. Segerombol anak itu berjalan ke arahku sambil menatap kaku, lalu seseorang memegang tanganku sambil berkata “Selamat hari guru ibu, aku sayang ibu”. Mereka membawa beberapa hadiah mulai dari bunga yang dipetik sendiri, lolipop sampai gambar sederhana yang penuh makna.

Kuteteskan air mata, kulihat mereka satu persatu sambil kupeluk hangat. Betapa bahagianya aku menjadi seseorang yang dipercaya Allah untuk memberikan ilmuku kepada mereka yang luar biasa.

Hari ini ku ucapkan bismillahirohmanirrohim sambil menekan kata “validasi” di komputerku. Resmi sudah aku mendaftarkan diri untuk melanjutkan kuliah setelah enam bulan aku diwisuda sarjana pendidikan khusus. Aku sangat mencintai anak-anak luar biasa, berada di dekat mereka mengajarkan aku arti kebahagiaan yang sebenarnya.

Melihat mereka membuat aku bersyukur dan selalu ingin membuat mereka tersenyum. Kubayangkan suatu saat di akhirat kelak akan ada satu diantara sekian banyak siswa ku yang silih berganti yang menarik tangan ku menuju surga. Buatku, menjadi pendidik untuk anak-anak berkebutuhan khusus adalah sebuah hal yang harus aku pertanggung jawabkan kepada yang Maha Agung.

Semakin aku mempelajari hal-hal tentang anak berkebutuhan khusus semakin aku sadari dangkalnya pengetahuanku tentang mereka. Keinginanku untuk melanjutkan perkuliahan agar ilmuku semakin mantap dan dapat mengaplikasikanya kepada anak-anak berkebutuhan khusus.

Jalanku masih panjang, ku tuliskan setiap mimpiku di sebuah kertas berwarna merah jambu, tersimpan rapi di dalam sebuah map yang selalu kubawa. Agar setiap aku merasa lemah dan lelah, kubaca kembali mimpi-mimpiku yang masih tersimpan indah.

Kubayangkan bagaimana hidupku lima tahun dari sekarang. Setelah lulus magister nantinya aku ingin mendirikan sebuah sekolah luar biasa di tanah kelahiranku. Mengingat banyak dari mereka yang aku lihat tidak mengenyam bangku pendidikan.

Sejatinya setiap anak mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Begitupun anak-anak berkebutuhan khusus, walaupun mereka mempunyai kekurangan namun ada sesuatu hal dalam diri mereka yang membuat orang-orang terdecak kagum. Itulah hal yang selalu ku alami saat dihadapkan pada mereka.

Aku tak bisa memilih anak mana yang kusukai, mulai dari anak gangguan penglihatan, anak gangguan pendengaran, anak gangguan intelektual, anak gangguan otot dan alat gerak hingga anak autis. Semua dari mereka memiliki daya tarik masing-masing, membuat aku selalu ingin mengetahui perjalanan hidup mereka yang sangat menginspirasi.

Maka dari itu aku sangat sedih melihat anak-anak berkebutuhan khusus yang diterlantarkan begitu saja. Bahkan di tanah kelahiranku, banyak anak-anak dengan gangguan pendengaran yang menjadi tukang parkir dan anak-anak yang memiliki gangguan intelektual ditertawakan seakan mereka tidak mengerti apa-apa.

Bagaimana tak tersayat hatiku saat di tanah kelahiran sendiri masih banyak orang-orang yang belum mengerti tentang kepedulian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Membuka sebuah sekolah dan mengayomi anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bersekolah. Aku merasakan bahwa itu merupakan sebuah tanggung jawabku. Saat waktu itu datang, lima tahun mulai dari saat aku masih memegang sebuah amplop pendaftaran kuliah ini.

Aku memiliki tekad kuat, semua anak-anak berkebutuhan khusus di tanah kelahiranku akan mengenyam pendidikan dan semua masyarakat memiliki kepedulian terhadap mereka sehingga mereka merasa bahwa mereka memiliki kesamaan. Mereka tidak perlu dikasihani, mereka hanya perlu diterima dan diperlakukan seperti orang-orang normal.

 

#WorthyStory

Editorial Team

EditorOfi Riega