Comscore Tracker

Perbaikan Gizi Anak Demi Mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045

Stunting kerap menjadi akibat dari masalah gizi di Indonesia 

Masalah gizi merupakan permasalahan yang penting untuk dibicarakan di Indonesia. Masalah gizi di Indonesia kurang mendapat perhatian masyarakat karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Sebagian masyarakat belum mendapatkan fasilitas kesehatan bagi anak-anak mereka. Sebagian masyarakat belum mampu dalam mencukupi gizi anak-anaknya dikarenakan kondisi ekonomi keluarga. Sebagian lainnya belum mendapatkan edukasi tentang makanan yang bergizi dan baik untuk tubuh.

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat beberapa masalah gizi yang dapat dikendalikan, di antaranya  kekurangan Vitamin A pada Balita, GAKI, dan anemia gizi pada usia 3-5 tahun. Sementara itu, terdapat beberapa permasalahan yang masih sering terjadi di Indonesia dan belum dapat dikendalikan, di antaranya yaitu stunting atau bertubuh pendek.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Karena malnutrisi kronis dan penyakit yang berulang saat masih anak-anak, hal ini menyebabkan terbatasnya gerak fisik anak sehingga sulit untuk tumbuh.

Selain itu, juga terdapat permaslahan wasting atau memiliki tubuh kurus, atau kekurangan gizi akut, yaitu akibat dari penurunan berat badan yang cepat atau kegagalan untuk menambah berat badan. Seorang anak yang tergolong kurus atau kegemukan memiliki risiko kematian yang tinggi.

Langkah yang telah diambil pemerintah membuahkan hasil, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, angka prevalensi stunting di Indonesia pada 2021 sebesar 24,4 persen, atau menurun 6,4 persen dari angka 30,8 persen pada 2018 dan data ini diambil dari 23 juta balita yang disurvei.

Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma'ruf Amin mengatakan bahwa pemerintah mempunyai target untuk menurunkan prevalensi hingga 14 persen pada tahun 2024. Yang berarti pemerintah harus menurunkan prevalensi sebesar 10,4 persen dalam 2,5 tahun ke depan, yang tentu saja menjadi tantangan bagi seluruh elemen masyarakat untuk mencapainya. Selain stunting, masalah seperti obesitas dan berbadan kurus juga menjadi masalah yang perlu diperhatikan. 

Untuk mewujudkan aspirasi tentang perbaikan gizi dalam 1000 Aspirasi Indonesia Muda, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah tersedianya pangan yang baik untuk tubuh anak dan bergizi. Penyebaran pangan yang bergizi secara merata dapat menjadi salah satu cara dalam melakukan perbaikan gizi.

Selain beras menjadi bahan pangan utama, anak Indonesia juga perlu mengonsumsi beraneka ragam pangan selain karbohidrat. Anak-anak juga perlu memakan makanan yang kaya zat gizi seperti protein, vitamin, dan zat gizi penting lainnya.

Pola makan juga perlu dijaga agar tidak terlalu kurang maupun lebih dalam mengatasi masalah obesitas dan badan kurus pada anak. Pemerintah diharapkan melakukan pengadaan pangan yang cukup bagi masyarakat dan menetapkan harga yang terjangkau supaya seluruh lapisan masyarakat dapat mengonsumsinya.

Hanya saja, masyarakat Indonesia telah memiliki ketergantungan tinggi terhadap beras dan olahan terigu. Ironisnya untuk terigu yang dihasilkan dari gandum, sebagian besar produk tersebut dibeli dari luar negeri. Edukasi kepada masyarakat khususnya orangtua terkait dengan makanan bergizi juga perlu dilakukan kembali supaya masyarakat Indonesia memiliki kesadaran sendiri terhadap makanan yang dimakannya.

Selain makan makanan yang bergizi, aktivitas fisik juga perlu dilakukan dalam memperbaiki gizi anak. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan Masyarakat, Anung Sugihantono dalam konferensi pers Forum Pangan Asia di Jakarta mengatakan terdapat 10 pesan terkait dengan masalah gizi yang terdapat 4 pesan pokok yang disampaikan, yaitu pola makan gizi seimbang, minum air putih yang cukup, aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, dan mengukur tinggi dan berat badan secara berkala. Sering terjadi pada anak-anak sekarang kerap terpaku pada gawai dan jarang melakukan aktivitas fisik sehingga anak menjadi malas dan tubuh menjadi tidak bugar.

Terlepas dari itu semua, Indonesia masih terbilang tertinggal dalam masalah gizi. Menurut data dari BCFN (Barilla Center for Food and Nutrition) tentang FSI (Food Sustainability Index), skor Indonesia masih tergolong rendah. Indonesia memiliki skor 61,40 dalam menangani makanan terbuang, 61,10 dalam pertanian berkelanjutan, dan 54,90 dalam hal nutrisi.

Rata-rata Indonesia memiliki skor 59,10 berbeda jauh dengan Jepang yang memiliki skor 73,80. Skor ini berkaitan tentang bagaimana negara-negara mendekati keberlanjutan dan ketahanan pangan dalam menghadapi perubahan iklim. Ini juga bertujuan untuk memeriksa kesehatan dan inklusivitas sistem pangan negara yang berkaitan dengan kebutuhan gizi masyarakat.

Hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah karena diharapkan Indonesia dapat mempunyai generasi muda yang memiliki tubuh yang sehat dan ideal serta pemikiran yang kreatif dan inovatif.

Generasi Indonesia emas pada 2045 diharapkan menjadi generasi sehat dan berkualitas, maka diperlukannya perbaikan gizi dari saat ini. Presidensi G20 Indonesia melalui KTT G20 yang akan digelar di Bali pada November mendatang dengan tema Recover Together, Recover Stronger diharapkan dapat membahas isu terkait dengan perbaikan gizi ini.

Baca Juga: Dear Mom, Ini 7 Pesan Gizi Seimbang untuk Buah Hati dari Kemenkes

Bayu Aji Waskito Photo Writer Bayu Aji Waskito

Gabut aja.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ananda Zaura

Berita Terkini Lainnya