Kritik seharusnya menjadi bagian wajar dalam kehidupan bernegara, terutama dalam sistem yang mengklaim diri demokratis. Namun, realitas menunjukkan bahwa kritik kerap diperlakukan sebagai gangguan, bahkan ancaman, alih-alih masukan. Situasi kritik dianggap ancaman ini menimbulkan pertanyaan serius tentang relasi antara negara dan warga yang menyampaikan pendapat.
Kritik bukan sekadar suara berbeda, melainkan cerminan kegelisahan publik terhadap kebijakan, sikap, atau arah kekuasaan. Saat kritik dibalas dengan stigma, pembatasan, atau intimidasi, muncul kesan bahwa negara sedang menjaga sesuatu yang rapuh. Di titik inilah kritik kehilangan fungsi dialog dan berubah menjadi alat ukur ketakutan. Untuk memahami persoalan ini lebih jauh, berikut beberapa sudut pandang yang perlu dibaca secara jernih.
