Comscore Tracker

[OPINI] Infodemik COVID-19

Berbagai informasi, teori, dan rumor konspirasi pun merebak

Swiss, IDN Times - Ketika virus SARS-CoV-2 atau yang lebih kita kenal sebagai COVID-19 telah menyebar di seluruh dunia, berbagai informasi, teori, dan rumor konspirasi pun bersebaran di berbagai platform media sosial dan pesan online lainnya. Informasi, teori, dan rumor konspirasi ini bahkan menyebar lebih cepat daripada virus itu sendiri, dan memiliki bahaya yang tidak kalah dengan virusnya.

Mengapa berbahaya? Di Iran contohnya, dikabarkan bahwa ratusan orang dilaporkan tewas setelah meminum metanol karena meyakini bahwa cairan kimia tersebut dapat memberikan perlindungan dari COVID-19. Berbagai kejadian tragis seperti ini juga terjadi di beberapa negara lainnya, akibat informasi tidak akurat yang diterima.

Pada awal pandemi COVID-19, informasi, teori, dan rumor konspirasi yang beredar adalah tentang asal-usul virus. Kemudian, berkembang membahas tentang bagaimana penyakit itu menyebar, cara penyembuhan, serta pencegahannya. Namun disayangkan, informasi yang beredar tidak hanya terbatas pada soal penyakitnya itu sendiri namun juga telah masuk ke ranah yang lebih luas, seperti soal etnisitas dan politk.

Dalam pertemuan Munich Security Conference pada bulan Februari yang lalu, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan, “Kami tidak hanya memerangi sebuah epidemi, kami juga sedang berjuang melawan infodemik”. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menyampaikan bahwa adanya infodemik menyulitkan upaya internasional untuk mengatasi pandemi COVID -19.

Lantas, apa yang dimaksud dengan infodemik ini? WHO sendiri mendefinisikan infodemik sebagai “kelimpahan informasi, beberapa ada yang akurat dan banyak yang tidak, yang menyulitkan orang untuk menemukan sumber yang dapat dipercaya dan bimbingan yang handal ketika mereka membutuhkannya”.

Penelitian yang dilakukan Harvard di tahun 2019 menemukan fakta bahwa penyebaran suatu pandemi di dunia turut menciptakan prasangka terhadap kelompok-kelompok tertentu. Studi Harvard tersebut menemukan korelasi antara penyebaran penyakit menular dan adanya prasangka rasial. WHO juga telah memperingatkan pemerintah dan media terhadap adanya stigma kepada kelompok tertentu yang dapat menciptakan prasangka dan membahayakan kita semua.

Sebagai tanggapan atas beredarnya infodemik ini, Uni Eropa (UE) telah mengumumkan rencana bekerja dengan perusahaan media sosial untuk menghapus apa yang disebut sebagai “mitos dan berita palsu”. Di Inggris, Rapid Response Unit telah dibentuk untuk menindak “para pakar palsu” yang memberikan saran menyesatkan dan bisa menyebabkan korban jiwa. Platform online juga telah bergabung dalam “pertarungan” melawan informasi yang tidak akurat terkait COVID-19 ini.

Twitter, misalnya, telah berjanji untuk menghapus konten yang bertentangan dengan saran dari otoritas kesehatan publik lokal dan global di media sosialnya. Facebook juga telah melarang iklan yang menyesatkan untuk alat tes dan masker wajah, dan berjanji untuk berinvestasi US$100 juta untuk mendukung media berita dan organisasi-organisasi pengecekan fakta.

Tidak hanya pada tingkat media sosial dan pesan online, infodemik dan berita palsu juga dapat disebarkan oleh entitas negara. Sebagai contoh, saat ini sedang terjadi perdebatan hebat antara Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tentang asal usul COVID-19. Presiden AS Donald Trump juga sempat mengeluarkan pernyataan bahwa COVID-19 dapat disembuhkan dengan meminum “detergen”.

Informasi tersebut untungnya dengan segera diklarifikasi berbagai lembaga dan otoritas terkait di AS. Menurut sebuah studi yang dilakukan Reuters Institute for Study of Journalism dan Oxford Internet Institute yang berjudul “Types, claims and sources of Covid-19 misinformation”, informasi tidak akurat atau salah yang disebarkan oleh para politisi, selebritas, dan figur publik terkemuka lainnya mencapai 69 persen, suatu angka yang cukup besar di tengah gentingnya situasi COVID-19.

Namun demikian, masyarakat semakin cerdas dan pintar dalam mengelola dan menerima informasi yang diperoleh. Lembaga Edelman Trust Barometer menemukan bahwa 64 persen peserta survei yang dilakukan di sepuluh negara berbeda mendapatkan sebagian besar informasi mereka dari media-media berita utama, sementara 38 persen menggunakan platform online.

Di Inggris, British Broadcasting Corporation (BBC) telah menjadi sumber berita utama tentang pandemi bagi 36 persen warga Inggris, dengan hanya 5 persen beralih ke media sosial. Sementara kelompok berusia 18-24 tahun lebih cenderung menggunakan media sosial untuk menemukan informasi tentang COVID-19 daripada kelompok usia lainnya. Kedua studi tersebut juga menemukan tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap sumber-sumber resmi seperti WHO dan para ilmuwan, dibandingkan dengan para politisi.

Sementara lembaga Ofcom di Inggris, menemukan bahwa sebagian besar warga Inggris yang terpapar informasi tidak akurat memeriksanya dengan keluarga dan teman (13 persen) atau sumber pengecekan fakta (10 persen). Sementara mereka yang meneruskannya ke jejaring sosial mereka tanpa bentuk verifikasi apa pun sebanyak 7 persen. Warga Inggris juga cenderung menggunakan sumber-sumber yang kredibel untuk mencari tahu bagaimana melindungi diri mereka dari COVID-19.

Di Indonesia sendiri, per tanggal 18 April 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat setidaknya infodemik berupa hoaks atau informasi yang tidak benar seputar COVID-19 di Indonesia mencapai 566 kasus. Sementara Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) melalui pemeriksa faktanya secara spesifik mencatat misinformasi dan disinformasi seputar COVID-19 sebanyak 301 berita hoaks.

Menemukan informasi yang dapat diandalkan di era digital memang cukup menantang, apalagi dalam kondisi terjadinya suatu pandemi global ketika berita palsu, informasi yang salah, dan hiperbola kian marak disebarkan. Peristiwa yang sedang kita alami saat ini mungkin hanya akan terjadi sekali dalam satu generasi, bahkan mungkin sekali seumur hidup bagi banyak dari kita. Hal ini diperparah dengan kondisi lockdown di berbagai tempat yang mengharuskan untuk tetap di rumah, sehingga mayoritas orang beralih pada teknologi untuk mengobati “rasa bosan” yang timbul.

Tips Mengatasi Infodemik COVID-19

Dengan ketakutan dan kebingungan yang begitu luas, kurangnya jawaban sederhana untuk pertanyaan-pertanyaan kompleks telah menimbulkan “kekosongan informasi” yang kita cari dan perlukan. Kemampuan kita untuk menilai kebenaran suatu informasi dapat terdistorsi oleh kebutuhan kita akan informasi dan kejelasan, pada saat kita merasa tidak memiliki keduanya.

Mengutip dari Alice Hazelton, yang merupakan Programme Lead, Science and Society di World Economic Forum (WEF), terdapat berbagai saran untuk dapat menyaring informasi ditengah infodemik COVID-19 sebagai berikut:

  • Rangkul ketidakpastian di tengah COVID-19
    COVID-19 baru teridentifikasi pada bulan Desember 2019, sehingga wajar apabila masih banyak hal yang belum sepenuhnya dimengerti tentang virus ini. Para ilmuwan juga memerlukan waktu untuk mempelajari dan menemukan vaksin atau pengobatan yang sesuai, sehingga banyak informasi akan berkeliaran terkait hal tersebut. Tentunya seiring dengan waktu dan penelitian yang dilakukan, informasi yang diberikan oleh para ilmuwan ini diharapkan akan semakin akurat dan mengerucut.
  • Lakukan pengecekan sumber informasi
    Banyak pihak menulis tentang sains, atau informasi yang berkaitan dengan sains, tetapi tidak semua pihak telah dilatih cara mengevaluasi dan menafsirkan fakta ilmiah dengan benar, atau melaporkan statistik dengan cara yang dimiliki beberapa jurnal sains atau ilmuwan. Kita harus tetap ingat bahwa informasi dari sumber asli (kemungkinan besar studi penelitian) dapat ditafsirkan kembali, dimodifikasi, dan bahkan diabaikan sama sekali, tergantung pada sudut pandang dan apa yang ingin disampaikan oleh pihak penulis. Informasi yang diterima sebaiknya juga diperiksa apakah dilaporkan di media-media lain. Jika informasi yang diterima benar-benar merupakan penemuan "terobosan" yang akurat, maka kemungkinan besar banyak media lain akan melaporkan hal yang sama.
  • Siapa saja yang mendukung informasi tersebut
    Idealnya, suatu informasi yang diterima dari sumber tertentu dapat didukung oleh sumber informasi yang lain. Saat ini, banyak pihak yang tidak memiliki kompetensi yang memadai turut menyebarkan informasi dan teori, sehingga masyarakat perlu mewaspadai sumber-sumber informasi tersebut. Selain itu, perlu dicek juga apakah sumber informasi memiliki konflik kepentingan atau mendapat manfaat dari apa yang ia sebarkan, serta afiliasi sumber dengan organisasi/lembaganya. Dengan demikian, jika menerapkan cara ini, kita dapat melihat dari sudut pandang dan perspektif yang lebih luas (helicopter view)

Tidak ada salahnya berbagi informasi yang kita nilai bermanfaat, apalagi dengan keluarga terdekat dan kerabat, ditengah pandemi COVID-19 yang membuat kita semua ketakutan. Namun demikian, dalam suatu suasana batin yang penuh ketidakpastian, emosi ini dapat mendorong orang untuk berbagi sesuatu atau bahkan mempertimbangkan ide-ide yang pada waktu normal mereka anggap sebagai sesuatu yang tidak rasional.

Jika memang sebuah informasi diragukan kebenarannya, banyak lembaga dan organisasi pengecekan fakta yang dapat dikonsultasikan untuk melihat valid tidaknya informasi tersebut, seperti diantaranya Poynter, Politifact, dan Factcheck. Apabila memang tidak yakin ke mana harus berpaling, situs WHO dapat dijadikan sebagai referensi utama sumber informasi berbasis bukti dan ilmiah yang tepercaya terkait COVID-19.

(Penulis adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Swiss dan Liechtenstein)

Sumber:

“Inside the battle to counteract the COVID-19 'infodemic'”
https://www.weforum.org/agenda/2020/04/covid-19-inside-the-battle-to-counteract-the-coronavirus-infodemic/

“COVID-19: Infodemic spreads faster than pandemic”
https://www.aa.com.tr/en/latest-on-coronavirus-outbreak/covid-19-infodemic-spreads-faster-than-pandemic/1786381

“COVID-19: Get the Facts”
https://www.voanews.com/covid-19-get-the-facts

“Fighting the Infodemic: The #CoronaVirusFacts Alliance”
https://www.poynter.org/coronavirusfactsalliance/

“Faced with an ‘infodemic’ of fake news about Covid-19, most people are checking their facts – but we mustn’t be complacent”
https://www.democraticaudit.com/2020/04/20/faced-with-an-infodemic-of-fake-news-about-covid-19-most-people-are-checking-their-facts-but-we-mustnt-be-complacent/

“How to read the news like a scientist and avoid the COVID-19 ‘infodemic’”
https://www.weforum.org/agenda/2020/03/how-to-avoid-covid-19-fake-news-coronavirus/

“Ancaman Infodemik Dapat Memperburuk Pandemi COVID-19”
https://kominfo.go.id/content/detail/25895/ancaman-infodemik-dapat-memperburuk-pandemi-covid-19/0/virus_corona

“Mafindo Minta Masyarakat Waspada Info Berlebihan Soal Covid-19”
https://nasional.tempo.co/read/1332916/mafindo-minta-masyarakat-waspada-info-berlebihan-soal-covid-19/full&view=ok

 

 

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya