Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi menikah
ilustrasi menikah (pexels.com/Danu Hidayatur Rahman)

Intinya sih...

  • Menikah muda menjadi topik hangat di kalangan Gen Z dan Millenials

  • Pengalaman influencer menikah di usia 19 tahun menuai beragam reaksi

  • Pernikahan muda memerlukan kesiapan mental dan finansial yang matang

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Baru-baru ini, warganet ramai memperbincangkan sebuah unggahan media sosial dari seorang influencer muda yang membahas pengalamannya menikah di usia 19 tahun. Dalam unggahannya, ia menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan salah satu pilihan terbaik dalam hidupnya. Menurutnya, menikah muda membuat dirinya lebih berani mengambil tanggung jawab besar serta membuka jalan menuju kesuksesan, termasuk dalam membangun karier dan usaha.

Opini tersebut menuai beragam reaksi, terutama dari kalangan Gen Z yang memiliki pandangan berbeda mengenai pernikahan, pendidikan, karier, dan kesiapan mental. Perbedaan sudut pandang inilah yang membuat topik ini menjadi perbincangan hangat. Artikel ini mencoba melihat fenomena tersebut dari berbagai sisi agar pembahasan tetap adil dan realistis.

Dilansir dari akun TikTok @azkiaave, influencer tersebut secara terbuka menceritakan pengalamannya memilih jalan hidup yang berbeda dari kebanyakan teman sebayanya. Di saat banyak teman seusianya masih fokus pada pendidikan, persiapan SNBT, atau menikmati masa muda, ia justru memutuskan untuk menikah. Menurutnya, keputusan ini membutuhkan keberanian dan keyakinan yang besar.

Dalam narasinya, ia juga menyampaikan bahwa setelah menikah dan mengambil keputusan besar tersebut, dirinya menjadi lebih percaya diri untuk melangkah lebih jauh. Hal ini mendorongnya kembali mengambil keputusan besar lain, yakni membangun bisnis fashion. Langkah tersebut dinilai berisiko oleh sebagian orang karena adanya kemungkinan kerugian, namun baginya justru menjadi peluang untuk berkembang.

Unggahan ini kemudian memicu berbagai komentar dan respons. Banyak di antara mereka yang memiliki pandangan berbeda, mengingat sebagian besar Gen Z cenderung memilih untuk tidak terburu-buru menikah dan lebih memprioritaskan pendidikan, karier, serta kesiapan mental.

Apakah menikah muda di usia 19 tahun bisa menjadi pilihan yang tepat untuk semua orang?

ilustrasi menikah (pexels.com/Zeyneb)

Pertanyaannya kemudian muncul: apakah menikah muda di usia 19 tahun bisa menjadi pilihan yang tepat untuk semua orang, seperti yang dialami oleh Azkiaave?

Jika melihat kondisi di lapangan, jawabannya tidak selalu demikian. Data menunjukkan bahwa angka perceraian di Indonesia masih tergolong tinggi. Pada tahun 2025, tercatat ratusan ribu kasus perceraian, dengan faktor ekonomi sebagai salah satu penyebab utama. Dalam banyak kasus, gugatan cerai juga diajukan oleh pihak perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa pernikahan, terutama di usia muda, memerlukan kesiapan yang matang.

Meski tidak bisa digeneralisasi, menikah di usia muda tanpa kesiapan mental dan finansial yang memadai berpotensi meningkatkan risiko konflik rumah tangga dan perceraian.

Lalu, apakah Azkiaave sepenuhnya salah dalam menyampaikan narasi dan opininya?

Pada dasarnya, pengalaman tersebut adalah kebenaran bagi dirinya sendiri. Dalam unggahan lain, ia menjelaskan bahwa kesuksesan yang diraihnya juga tidak terlepas dari dukungan suami dan keluarga. Dari sini dapat disimpulkan bahwa menikah muda memang menjadi pilihan yang tepat bagi dirinya secara personal. Ia mampu membangun karier setelah menikah dan menjalani peran rumah tangga dengan kebutuhan yang tercukupi.

Namun, narasi yang terkesan mengajak atau seolah dapat diterapkan oleh semua orang menjadi hal yang perlu disikapi dengan lebih hati-hati. Tidak semua perempuan memiliki latar belakang keluarga dengan kondisi finansial yang stabil, dan tidak semua bertemu pasangan yang matang secara usia maupun ekonomi. Setiap individu memiliki kondisi dan tantangan hidup yang berbeda.

Menurut penulis, menikah muda bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah. Pernikahan dapat menjadi pilihan selama didukung oleh kesiapan mental dan finansial yang relatif stabil. Namun, jika salah satu atau kedua aspek tersebut belum terpenuhi, akan lebih bijak untuk fokus terlebih dahulu pada pengembangan diri, pendidikan, atau karier, terutama bagi mereka yang masih memiliki tujuan hidup yang ingin dicapai.

Perdebatan ini semakin memanas setelah muncul pernyataan dari Azkiaave dan suaminya yang menyebut bahwa kuliah—selain pendidikan spesialis—dianggap sebagai sesuatu yang tidak terlalu relevan. Pernyataan ini memicu reaksi keras, tidak hanya dari Gen Z, tetapi juga dari kalangan milenial yang sebagian besar telah menempuh pendidikan tinggi.

Pernyataan tersebut memang tergolong kontroversial. Pendidikan formal tidak dapat disederhanakan sebagai sesuatu yang sia-sia, karena bagi banyak orang, kuliah merupakan sarana penting untuk membangun pengetahuan, keterampilan, dan masa depan.

Di sisi lain, pernyataan itu juga dapat dipahami sebagai bentuk pembelaan terhadap pengalaman pribadi, mengingat Azkiaave sendiri berhenti sekolah di usia muda namun tetap mampu membangun bisnis yang sukses. Meski demikian, akan lebih bijak jika narasi dukungan terhadap mereka yang tidak melanjutkan pendidikan formal tidak disampaikan dengan cara yang merendahkan atau menyudutkan pilihan orang lain.

Dari berbagai sudut pandang tersebut, dapat disimpulkan bahwa menikah muda merupakan pilihan hidup yang sah, namun tidak dapat diterapkan secara universal. Setiap keputusan besar, termasuk pernikahan, membutuhkan kesiapan mental dan finansial yang matang serta pemahaman bahwa pengalaman satu orang tidak selalu bisa menjadi tolok ukur bagi orang lain.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team