Comscore Tracker

Listrik Tenaga Surya yang Menarik, Namun Tak Banyak yang Tertarik 

PLTS bisa menyuplai energi listrik secara gratis 

Siapa yang bisa menyangkal bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) tidak menggiurkan? Semua orang akan mengakui bahwa PLTS bisa menyuplai energi listrik secara gratis, perawatannya mudah, dan umur pakai yang panjang.

Namun, segala hal yang sangat menarik tentang PLTS tidak serta merta membuat banyak orang tertarik. Terbukti belum banyak masyarakat yang beralih ke sistem PLTS ini.

Punya banyak kelebihan tapi tidak banyak yang tertarik

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memiliki masa pakai yang sangat panjang hingga 30 tahun, bahkan lebih. Dalam rentang waktu tersebut perawatan PLTS sangat mudah. Penggantian komponen atau alat lainnya dilakukan hanya sekali saja, itu pun jika memang ada kerusakan. Dari sisi ini, PLTS sangatlah menguntungkan dan pasti membuat siapa pun tergiur untuk memilikinya.

Tidak hanya itu, proses pembuatan PLTS secara mandiri pun semakin mudah dilakukan. Dengan biaya hanya sekitar Rp10 juta, seseorang sudah bisa menikmati listrik gratis selama 30 tahun. Namun, mengapa hal ini tidak menjadi hal yang menarik sebagian besar masyarakat Indonesia?

Alasan masyarakat jarang tertarik untuk membangun PLTS?

PLTS digadang-gadang menjadi alternatif terbaik dalam mengatasi masalah energi listrik di Indonesia. Lihat saja tarif dasar listrik yang selalu naik setiap hari seiring dengan naiknya energi fosil. Berbeda dengan PLTS yang pastinya tidak akan terpengaruh dengan kenaikan harga BBM ataupun inflasi.

Kondisi ini tentunya memunculkan pertanyaan yang sangat besar, mengapa semua kelebihan yang dimiliki PLTS sedikit sekali menarik minat masyarakat?

Pertanyaan tersebut sebenarnya bisa dilihat dari keseriusan pemerintah dalam menggarap sumber daya alam terbesar di Indonesia ini. Sudahkah pemerintah memberikan dukungan yang besar terhadap pengembangan PLTS? Apakah sudah ada sarana dan prasarana yang lengkap? Serta apakah sudah ada regulasi yang mampu mendorong semakin cepatnya perkembangan PLTS?

Indonesia yang menjadi salah satu negara G20 pastinya sudah memiliki semua rencana itu. Hanya saja hal itu belum menjadi agenda utama dalam pengembangan energi terbarukan. Sehingga program pengembangan PLTS ini masih belum masif.

Solusi mengembangkan PLTS secara cepat

Berbicara soal energi listrik sama halnya membicarakan masa depan. Mau tidak mau kita akan sangat tergantung dengan sinar matahari sebagai sumber utama PLTS. Memang di saat ini kebutuhan listrik masih bisa dipenuhi dengan minyak dan batubara.

Padahal energi fosil suatu saat akan habis. Kemudian yang bisa diandalkan adalah kelompok sumber daya alam terbarukan, terutama tenaga surya untuk Indonesia. Jadi, solusi terbaik untuk hal ini sebenarnya adalah dengan mulai melangkah dan fokus pada pengembangan PLTS.

Sebagai negara Presidensi G20, Indonesia seharusnya menjadi pelopor energi listrik terbarukan ini. Sudah saatnya pemerintah membangun skema yang jelas dan detail dengan tujuan dalam pengembangan PLTS di masa depan.

Penyelenggaraan KTT G20 di Indonesia harus bisa mendorong pemerintah untuk semakin menyadari kebutuhan negara di masa depan. PLTS bisa saja menjadi salah satu jalan untuk mengejar ketertinggalan dengan negara maju. Karena semua aspek terkait dengan energi, teknologi, dan sumber daya akan ikut terdorong dalam pengembangan PLTS ini.

Beruntung sekarang ini Indonesia memiliki sumber daya manusia yang semakin kreatif dan produktif. 1000 Aspirasi Indonesia Muda menambah semangat untuk terus memajukan Indonesia untuk bahu membahu recover together, recover stronger. Jadi, sudah tidak ada alasan lagi untuk menunda-nunda dalam memacu perkembangan PLTS di Indonesia secara lebih masif.

Baca Juga: Konversi Pembangkit Listrik Konvensional Menjadi Energi Terbarukan

Radhiyyan Pratiwi Photo Writer Radhiyyan Pratiwi

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Ananda Zaura
  • Cynthia Kirana Dewi

Berita Terkini Lainnya