Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi lebah madu (pexels.com/susanne marx)
ilustrasi lebah madu (pexels.com/susanne marx)

Intinya sih...

  • Burung menggunakan kamuflase sarang untuk mengurangi risiko deteksi visual dari predator di sekitar.

  • Lebah melindungi sarang dengan sistem pertahanan kolektif melalui kerja sama dan komunikasi kimia.

  • Semut menggunakan zat kimia sebagai penanda bahaya dan alat pertahanan yang efektif untuk memproteksi sarangnya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setiap hewan pada umumnya memiliki naluri alami untuk bisa memproteksi sarang dari berbagai risiko ancaman serius. Sarang digunakan sebagai tempat berlindung, berkembang biak, hingga membesarkan keturunan, sehingga fungsinya sangatlah penting.

Cara hewan menjaga sarangnya tidak boleh dilakukan sembarangan, sebab risiko ancamannya juga sangat beragam. Berikut ini merupakan beberapa fakta ilmiah terkait mekanisme hewan dalam melindungi sarangnya dari risiko ancaman.

1. Burung menggunakan kamuflase sarang

ilustrasi burung pipit (unsplash.com/P A)

Banyak burung membangun sarang dengan tampilan warna dan bentuk yang seolah menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini sebetulnya bertujuan untuk mengurangi risiko sarang tersebut terlihat oleh pemangsa secara langsung.

Secara ilmiah, kamuflase tersebut bisa membantu untuk meminimalisir risiko deteksi visual dari predator di sekitar. Strategi ini sudah terbukti mampu meningkatkan peluang telur dan anak burung untuk bisa bertahan hidup dengan baik.

2. Lebah melindungi sarang dengan sistem pertahanan kolektif

ilustrasi lebah madu (pexels.com/Pixabay)

Lebah pada umumnya mempertahankan sarangnya dengan cara bekerja sama secara koloni dengan lebah lainnya. Mereka akan cenderung menyerang secara bersamaan apabila merasa sedang dalam kondisi terancam.

Ada penelitian yang menunjukkan bahwa sistem pertahanan secara kolektif bisa meningkatkan efektivitas perlindungan. Kerja sama ini merupakan hasil komunikasi kimia melalui feromon yang membuat lebah-lebah saling terkoneksi.

3. Semut menggunakan zat kimia untuk pertahanan

ilustrasi semut (pexels.com/Kumar Kranti Prasad)

Semut merupakan makhluk hidup yang bisa menghasilkan zat kimia tertentu untuk bisa memproteksi sarangnya dari musuh. Zat ini berfungsi sebagai penanda bahaya, sekaligus alat pertahanan yang sangat efektif untuk digunakan.

Secara ilmiah, feromon yang ada bisa membantu semua untuk bisa saling berkoordinasi dengan cepat dan efektif. Respons kolektif ini bisa membuat sarang lebah menjadi jauh lebih aman dari berbagai risiko gangguan yang dialami.

4. Buaya menjaga sarang dengan pengawasan langsung

ilustrasi buaya (pexels.com/Los Muertos Crew)

Buaya betina biasanya akan menjaga sarangnya secara langsung selama melewati masa penatasan yang ada. Hewan ini akan bersikap lebih agresif terhadap berbagai ancaman hingga predator yang mencoba untuk mendekati sarangnya.

Perilaku ini didorong oleh naluri keibuan yang kuat dari buaya betina, sehingga memproteksi sarangnya dengan sangan efektif. Penelitian menunjukkan bahwa pengawasan aktif dari buaya betina bisa meningkatkan keberhasilan dari penetasan telur buaya.

Fakta ilmiah tentang cara hewan melindungi sarangnya seolah menunjukkan betapa kompleksnya perilaku alami dari hewan. Setiap spesies mampu mengembangkan strategi yang sesuai dengan lingkungannya. Perlindungan habitat merupakan kunci penting agar perilaku alami hewan pun bisa tetap terjaga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team