Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Fakta Malcolm X, Aktivis Afrika-Amerika Legendaris yang Mualaf
Malcolm X (commons.wikimedia.org/BorgQueen)
  • Malcolm X, lahir sebagai Malcolm Little, mengalami masa kecil penuh diskriminasi rasial dan kehilangan keluarga sebelum akhirnya dipenjara karena kejahatan di masa mudanya.
  • Setelah menjadi mualaf dan bergabung dengan Nation of Islam, Malcolm X menemukan nilai Islam yang menolak perbedaan ras serta menginspirasi perjuangannya untuk kesetaraan Afrika-Amerika.
  • Sebagai aktivis berpengaruh, ia mendirikan Muslim Mosque Incorporated, memperjuangkan hak sipil di forum internasional, hingga akhirnya tewas ditembak pada 1965 oleh anggota Nation of Islam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Malcolm X adalah tokoh terkemuka yang maju di garda terdepan untuk membahas isu rasial warga kulit hitam di Amerika Serikat. Banyak pemimpin aktivis pejuang kesetaraan ras Afrika-Amerika, tapi bedanya Malcolm X adalah seorang mualaf dengan nama Islam, El Hajj Malik El Shabazz.

Menariknya saat Malcolm X menemukan Islam, ia akhirnya tahu bahwa nilai-nilai Islam sangat kuat untuk mendukung kesetaraan ras seluruh umat manusia di muka bumi.

Malcolm X adalah sosok yang pandai menyalakan api semangat para warga Afrika-Amerika untuk menegakkan kebanggan ras dan mendorong warga kulit hitam untuk memegang kendali kuat atas kekuasaan politik.

Sekarang, mari ikuti pembahasan mengenai Malcolm X termasuk perasaannya setelah menjadi mualaf. Silakan simak artikel berikut.

1. Masa muda Malcolm X

Potret Malcolm X sebagai tahanan penjara (commons.wikimedia.org/Mozart834428196)

Malcolm X lahir dengan nama Malcolm Little di Omaha, Nebraska merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara hasil perkawinan pasangan Earl dan Louise Litte.

Tahun 1928, keluarga Little pindah ke Lansing, Michigan di lingkungan mayoritas kulit putih. Mereka digugat untuk penggusuran dengan alasan bahwa perjanjian pembatasan mencegah rumah mereka untuk dijual ke siapapun yang bukan ras kulit putih.

Pada 7 November, rumah Little hangus terbakar namun tidak dipadamkan oleh mobil pemadam kebakaran. Malcolm kecil percaya bahwa supremasi kulit putih berada di belakang semua ini.

Pada 1931, ayah Malcolm X, Litte meninggal dunia karena kecelakaan trem. Tapi Malcolm X mengklaim Ku Klux Klan, kelompok ekstrimis kulit putih sebagai penyebabnya.

Kemudian, keluarga Malcolm X berantakan: ayahnya meninggal dunia dan ibunya diagnosa sakit jiwa dan dirawat di Rumah Sakit Jiwa Negara Bagian Kalamazoo. Selanjutnya Malcolm X dan saudara-saudaranya ditempatkan di berbagai keluarga asuh oleh pemerintah negara bagian setempat.

Malcolm X dikenal cerdas di sekolahnya, walaupun akhirnya putus sekolah. Di masa mudanya, Malcom X pernah di penjara karena banyak melakukan aksi pencurian dengan masa hukuman 8-10 tahun.

2. Bagi Malcolm X, Islam tidak membeda-bedakan suatu kelompok dan ras

Potret Malcolm X bersama Raja Arab Saudi, Faisal bin Abdulaziz (commons.wikimedia.org/Associated Press)

Malcolm X sebagai aktivis yang menyuarakan kesetaraan ras Afrika-Amerika baru mulai aktif setelah ia keluar dari penjara, menjadi mualaf dan bergabung dengan Nation of Islam (NOI).

Dilansir icit-digital.org, Malcolm X menceritakan pengalamannya saat melaksanakan ibadah Haji. Ia menyaksikan dengan tulus semangat persaudaraan sesama Muslim tanpa sekat sama sekali. Tak peduli warna kulit maupun ras, semua melaksanakan tata cara haji yang sama.

Allah SWT tidak membeda-bedakan siapapun, semua tergantung amal ibadahnya. Senada dengan itu, El Hajj Malik El Shabazz merasa Amerika perlu memahami Islam karena satu-satunya agama yang menghapus permasalahan ras umatnya.

3. Gambaran Malcolm X sebagai aktivis kulit hitam

Potret Malcolm X bersama Martin Luther King, Jr (commons.wikimedia.org/Library of Congress)

Malcolm X dipercaya sebagai juru bicara Nation of Islam. Ada pidatonya yang menghimbau warga kulit hitam untuk menghindari semua kontak dengan pemerintahan Amerika yang dikuasai ras kulit putih. Pada 10 Agustus 1957, pidato Malcolm X menghubungkan pemberdayaan warga kulit hitam dengan pendidikan dan hak pilih politik.

Malcolm X keluar dari NOI pada 1964 dan membentuk Muslim Mosque Incorporated. Dalam perkembangannya, Malcolm X bahkan berniat menggunakan PBB sebagai cara untuk menyuarakan isu hak-hak sipil Amerika ke panggung dunia politik Internasional.

Malcolm X bahkan meminta dukungan ke Parlemen Ghana untuk membawa Isu hak-hak sipil ke hadapan PBB. Ia pun melakukan hal yang sama terhadap berbagai negara Afrika lainnya.

Sayangnya saat menyampaikan pidato di Aula Audobon di New York, Malcolm X tewas setelah menerima tembakan dari tiga penembak pada 1965. Terungkap bahwa tiga pelakunya: Thomas Hagan, Muhammad Abdul Aziz dan Thomas 15x Johnson merupakan anggota dari Nation of Islam.

Ironisnya, tersangka pembunuhan Malcolm X berasal dari sesama organisasi Islam itu sendiri. Diduga karena perbedaan ideologi dan konflik internal antara Malcolm X dengan NOI.

4. Warisan gagasan Malcolm X setelah ia meninggal dunia

Sebuah papan nama jalan sebagai tribute untuk Malcolm X (commons.wikimedia.org/Kidfly182)

Gagasan dan pidato yang selalu dilontarkan oleh Malcolm X menggerakan hati beberapa pihak. Contoh nyata pada akhir 1960an, tercetus pergerakan bernama Black Power Movement terinspirasi oleh gagasan Malcolm X.

Gerakan ini memperkenalkan perubahan pada budaya Afrika-Amerika terlihat dari gaya rambut, pakaian, musik dan seni. Black Power Movement muncul karena banyak warga kulit hitam tidak puas dengan protes tanpa kekerasan dari Martin Luther King, Jr.

Dari cerita ini, kita sebagai Muslim patut berbangga dengan kepribadian Malcolm X yang berlandaskan Islam untuk memerangi isu rasisme. Pelajaran ini sangat luar biasa bagi para pembaca.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team