Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
4 Kasus Kecelakaan Nuklir di Berbagai Negara, Ada yang Tewas
Reaktor Nuklir Pembangkit listrik di Windscale, Inggris (commons.wikimedia.org/Reading Tom)
  • Empat kecelakaan nuklir besar terjadi di Inggris, Jepang, Brasil, dan Uni Soviet, masing-masing menimbulkan dampak serius berupa korban jiwa serta penyebaran radiasi berbahaya.
  • Insiden Windscale 1957 dan Tokaimura 1999 menunjukkan bahaya panas berlebih serta kesalahan prosedur yang menyebabkan paparan radiasi tinggi hingga menewaskan beberapa pekerja.
  • Kecelakaan Goiania dan Kyshtym memperlihatkan efek fatal dari kebocoran bahan radioaktif yang mencemari lingkungan luas dan memicu penyakit akibat radiasi pada ratusan warga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Nuklir adalah bagian paling kecil di tengah atom yang menyimpan energi sangat besar bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal seperti pembangkit listrik, kebutuhan medis seperti radioterapi untuk kanker dan diagnostik (CT scan dan PET scan), mengendalikan hama, meningkatkan hasil panen dan lain sebagainya.

Nuklir disimpan di berbagai wadah seperti reaktor, kolam pendingin dan kontainer limbah nuklir. Namun hidup tidak semulus itu, terdapat beberapa kasus di mana fasilitas nuklir mengalami kerusakan dengan menyebarnya radioaktif maupun kebakaran. Kejadian ini bahkan membuat nyawa manusia melayang.

Melalui artikel ini, saya ingin menunjukkan kamu gambaran betapa mengerikannya kasus kecelakaan nuklir dari berbagai belahan dunia.

1. Kebakaran di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Windscale, Inggris pada 1957

Reaktor Nuklir Pembangkit listrik di Windscale, Inggris (commons.wikimedia.org/ENERGI.GOV)

Pada 10 Oktober 1957, terjadi kebakaran intens selama 3 hari di pembangkit listrik tenaga nuklir di Windscale, Inggris. Reaktor-reaktor itu dinamakan Pile: Pile No. 1 dibangun pada 1950 dan Pile No. 2 pada 1951. Rektor itu terdiri dari init granit dengan batang uranium dan memiliki 2 cerobong setinggi 125 m.

Reaktor di Windscale mengalami panas berlebih dikarenakan ada tekanan politik agar membuat reaktor bekerja dengan secepat mungkin untuk program senjata nuklir Inggris, dilansir historyextra.

Prosedur pemanasan rutin pada Pile No. 1 menunjukkan progres yang tidak berjalan dengan baik membuat suhunya naik tanpa turun kembali sama sekali. Pada 10 Oktober, terkuak bahwa uranium terbakar hingga dua hari berikutnya, diperparah dengan hembusan kipas angin yang memperbesar kobaran api.

Hasilnya setelah insiden kebakaran di Windscale membuat radiasi menyebar ke lingkungan sekitar menyebabkan 200 kasus kanker akibat paparan radiasi. Kedua, larangan konsumsi susu selama beberapa minggu karena sapi terkontaminasi.

2. Kecelakaan nuklir di Tokaimura, Jepang pada 1999

Kecelakaan nuklir di Tokaimura, Jepang (commons.wikimedia.org/ENERGY.GOV)

Kecelakaan nuklir di Tokaimura terjadi pada 1999 di pabrik pengolahan bahan bakar milik JCO, perusahaan siklus bahan bakar nuklir. Pada 30 September 1999, tiga pekerja menyiapkan uranium yang diperkaya hingga uranium -235.

Saat volume larutan tangki pengedapan mencapai sekitar 40 liter, masa kritis dimulai. Pada titik itu, reaksi fisi nuklir mulai memancarkan radiasi gamma dan neutron yang berbahaya menyerang 27 pekerja di dalam pabrik.

Radioaktif yang menyebar ke luar pabrik, membuat petugas setempat mengevakuasi 39 rumah tangga dalam radius 350 m. Sementara itu warga dalam radius 10 km, dihimbau untuk tetap berada di dalam rumah.

Sayangnya, 2 dari 27 pekerja dinyatakan meninggal dunia akibat paparan zat radioaktif. Satu meninggal 12 minggu pasca insiden dan satu lagi 7 bulan setelahnya. Terungkap bahwa keduanya telah menerima dosis radiasi mencapai di atas 1000 miligray, terang world-nuclear.org.

3. Kecelakaan Nuklir di Goiania, Brazil pada 1987

Potret kecelakaan nuklir atau radioaktif di Goiânia, Brazil (1987) (commons.wikimedia.org/IAEA Imagebank)

Sebuah wadah radioaktif telah bocor karena penanganan yang salah di Goiania, Brazil pada 1987 menelan 4 korban jiwa. Dua orang menemukan sumber terapi radiasi. Di dalam baja dan tabung timah terdapat kapsul kecil berisi radioaktif berbahaya berisi celsium -137.

Dua orang si penemu radiasi menderita mual dan luka bakar akibat radiasi membuat salah satu korban harus diamputasi lengannya karena mengalami luka bakar.

Ada satu orang yang membawa pulang beberapa celsium. Anaknya yang bermain dengan celsium (tanpa sepengetahuannya) membuatnya meninggal sebulan kemudian. Tragisnya, bibi si anak itu juga meninggal akibat radiasi celsium. Dua korban lainnya adalah pekerja di tempat barang rongsokan.

Efek domino radiasi menyebabkan 250 orang lainnya terkena paparan tersebut, salah satunya menderita kanker payudara. Untuk mengatasi itu, pihak berwenang melakukan pembersihan skala besar-besaran di lokasi yang terkontaminasi.

4. Kecelakaan nuklir di Kyshtym, Uni Soviet pada 1957

Monumen kecelakaan Kyshtym, limbah nuklir pada tahun 1957 di Uni Soviet (commons.wikimedia.org/JanRieke)

Kecelakaan nuklir terjadi di pabrik pengolahan plutonium Mayak dekat Kyhstym, Uni Soviet pada 1957. Kecelakaan disebabkan oleh kegagalan memperbaiki sistem pendingin di dalam tangki yang ada limbah nuklir cair. Bocornya gumpalan zat radioaktif seperti cesium 137 dan strontium -90.

Gumpalan zat radioaktif tersebut menyebar seluas ratusan mil menyasar warga setempat yang memiliki ratusan ribu penduduk. Hasilnya beberapa bulan setelah insiden, terdapat banyak pasien rumah sakit yang terkena penyakit akibat paparan radiasi.

Meskipun banyak manfaatnya untuk kebutuhan dasar seperti energi listrik dan kesehatan, radioaktif nuklir yang bocor justru menyebabkan gejala jangka pendek (langsung membuat orang tewas) dan jangka panjang terjangkiti kanker. Ini lah hal yang perlu kita ketahui bersama sebelum berurusan dengan nuklir. Semoga bermanfaat ya artikel ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team