Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Perpustakaan Alexandria, Sejarah Dunia yang Bangkit Kembali

Gambar artistik dari Perpustakaan Alexandria kuno
Gambar artistik dari Perpustakaan Alexandria kuno (commons.wikimedia.org/Wikimedia)
Intinya sih...
  • Perpustakaan Alexandria: Titik temu budaya, sejarah, dan masa depan
  • Rumah bagi penemuan revolusioner
  • Ambisi menuju perpustakaan universal
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejarah dunia bukan hanya tentang perang dan perebutan kekuasaan, tapi juga tentang perjuangan manusia dalam menjaga ilmu pengetahuan. Jika kita bisa menggunakan mesin waktu dan menyelamatkan satu tempat saja di masa lalu agar dunia saat ini menjadi jauh lebih maju, tempat itu adalah Perpustakaan Alexandria. Di sinilah titik di mana peradaban dunia hampir saja melompat ribuan tahun ke masa depan, sebelum akhirnya api mengubah segalanya menjadi abu. Kehilangannya pun bukan sekadar kebakaran biasa, melainkan lubang hitam dalam memori kolektif kita semua.

Dari rahasia pengumpulan bukunya yang unik, hingga melihat bagaimana semangatnya bangkit kembali di era modern, mari kita selami lebih dalam sejarah dunia ini!

1. Alexandria: Titik temu budaya, sejarah, dan masa depan

Pemandangan Corniche di Alexandria, Mesir, di sepanjang pantai Mediterania
Pemandangan Corniche di Alexandria, Mesir, di sepanjang pantai Mediterania (commons.wikimedia.org/David Evers)

Perpustakaan Alexandria didirikan sekitar abad ke-3 SM oleh Dinasti Ptolemeus sebagai bagian dari pusat penelitian besar yang disebut Museum. Terletak di Mesir, perpustakaan ini menjadi gudang ilmu pengetahuan paling tersohor di dunia kuno sebelum akhirnya hancur akibat perang saudara di bawah kekuasaan Romawi pada abad ke-3 M. Keberhasilan Alexandria menjadi pusat peradaban didukung oleh lokasinya yang sangat strategis sebagai pangkalan angkatan laut dan jalur perdagangan utama yang menghubungkan Mesir dengan Laut Mediterania serta Laut Merah.

Sebagai persimpangan budaya dan ekonomi, Alexandria tumbuh menjadi kota kosmopolitan yang mempertemukan berbagai bangsa melalui perdagangan dan kerajinan. Semangat pelestarian ilmu pengetahuan ini kemudian dihidupkan kembali melalui pembangunan Bibliotheca Alexandrina modern yang resmi dibuka pada tahun 2002. Terletak di kota yang sama, lembaga penelitian baru ini mengambil inspirasi dari kemegahan perpustakaan klasik masa lalu untuk kembali menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan bagi dunia modern.

2. Rumah bagi penemuan revolusioner

Ilustrasi sekrup Archimedes, yang ditemukan oleh ilmuwan Yunani kuno, Archimedes. Sistem ini masih digunakan di seluruh dunia untuk berbagai tugas seperti irigasi, mengalirkan air dari daerah dataran rendah, dan bahkan di instalasi pengolahan air limbah modern.
Ilustrasi sekrup Archimedes, yang ditemukan oleh ilmuwan Yunani kuno, Archimedes. Sistem ini masih digunakan di seluruh dunia untuk berbagai tugas seperti irigasi, mengalirkan air dari daerah dataran rendah, dan bahkan di instalasi pengolahan air limbah modern. (commons.wikimedia.org/ ZDF/Terra X/Gruppe 5/ Susanne Utzt, Cristina Trebbi/ Jens Boeck, Dieter Stürmer / Fabian Wienke / Sebastian Martinez/ xkopp, polloq)

Perpustakaan Alexandria bukanlah perpustakaan pertama di dunia, melainkan lahir dari tradisi pengumpulan buku kuno yang sudah ada sejak peradaban Sumeria, Asiria, hingga Yunani. Namun, perpustakaan ini menjadi istimewa karena ambisinya untuk menyimpan seluruh pengetahuan dunia. Didirikan sekitar abad ke-3 SM oleh Dinasti Ptolemeus sebagai bagian dari Mouseion (Kuil para Muse), lembaga ini bukan sekadar gudang buku, melainkan pusat penelitian tempat para ilmuwan tinggal dan bekerja.

Di bawah kepemimpinan cendekiawan besar seperti Zenodotus, Eratosthenes, hingga Aristarkus, perpustakaan ini mencetak berbagai pencapaian revolusioner. Di sinilah metode penyusunan alfabetis pertama kali digunakan, keliling Bumi dihitung dengan akurat, hingga penyuntingan naskah klasik seperti puisi Homeros dilakukan secara profesional. Selain menjadi rumah bagi penemuan hebat seperti sekrup Archimedes, perpustakaan ini juga menjadi pusat kebebasan akademik bagi para penyair dan filsuf. Sayangnya, seiring melemahnya politik Dinasti Ptolemeus dan terjadinya konflik internal, banyak cendekiawan mulai mengungsi, yang menandai awal pudarnya masa keemasan perpustakaan ini sebelum akhirnya hancur oleh peperangan di masa Romawi.

3. Ambisi menuju perpustakaan universal

Patung Ptolemy I Soter, pendiri Kerajaan Ptolemaik di Mesir kuno.
Patung Ptolemy I Soter, pendiri Kerajaan Ptolemaik di Mesir kuno. (commons.wikimedia.org/Gary Todd)

Perpustakaan Alexandria menggunakan metode yang sangat ambisius dan terkadang "memaksa" untuk melengkapi koleksinya. Salah satu cara yang paling terkenal adalah dengan memeriksa setiap kapal yang bersandar di pelabuhan Alexandria, di mana petugas akan menyita buku apa pun yang ditemukan untuk disalin. Meskipun pemiliknya mendapatkan kompensasi atau salinan sebagai ganti, tetapi perpustakaan biasanya tetap menyimpan naskah aslinya. Selain itu, raja-raja Ptolemeus tidak ragu mengeluarkan biaya besar, seperti saat mereka memberikan jaminan perak dalam jumlah fantastis hanya untuk meminjam naskah asli para penulis drama legendaris dari Athena agar bisa disimpan selamanya di Alexandria.

Selain melalui penyitaan dan peminjaman resmi, perpustakaan ini secara aktif membeli buku dari pasar-pasar besar di Athena dan Rhodes untuk mendapatkan berbagai versi karya yang berbeda. Mereka juga tidak hanya fokus pada budaya Yunani saja, Raja Ptolemeus I pun mendorong para pendeta Mesir untuk mengumpulkan catatan tradisi dan warisan lokal mereka. Tujuannya agar kekayaan sejarah Mesir dapat dipelajari oleh para cendekiawan, sehingga perpustakaan ini benar-benar menjadi pusat pelestarian budaya dan pengetahuan dari berbagai bangsa.

4. Rangkaian tragedi di balik abu Perpustakaan Alexandria

Patung Theodosius I , juga dikenal sebagai Theodosius Agung, yang merupakan Kaisar Romawi dari tahun 379 hingga 395 M. Ia adalah kaisar terakhir yang memerintah seluruh Kekaisaran Romawi sebelum kekaisaran tersebut terpecah secara permanen menjadi bagian Timur dan Barat setelah kematiannya.
Patung Theodosius I , juga dikenal sebagai Theodosius Agung, yang merupakan Kaisar Romawi dari tahun 379 hingga 395 M. Ia adalah kaisar terakhir yang memerintah seluruh Kekaisaran Romawi sebelum kekaisaran tersebut terpecah secara permanen menjadi bagian Timur dan Barat setelah kematiannya. (commons.wikimedia.org/www.livius.org)

Kehancuran Perpustakaan Alexandria tidak terjadi dalam satu peristiwa tunggal, melainkan melalui rangkaian tragedi yang panjang. Kerusakan besar pertama terjadi pada tahun 48 SM, ketika api dari pembakaran kapal oleh pasukan Julius Caesar merambat hingga menghanguskan Perpustakaan Agung di pusat kota. Setelah itu, "perpustakaan cabang" yang berada di kuil Serapeum sempat bertahan lebih lama, tetapi akhirnya ikut dihancurkan pada tahun 391 M. Penghancuran ini dipicu oleh perintah Kaisar Theodosius I untuk memberantas simbol-simbol kepercayaan lama, yang kemudian dilaksanakan oleh massa di bawah pimpinan Uskup Theophilus.

Selain faktor perang dan konflik agama, kemunduran perpustakaan ini juga disebabkan oleh perubahan lanskap intelektual. Munculnya pusat-pusat pendidikan agama baru pun mulai menggeser dominasi lembaga penelitian kuno seperti Mouseion. Meskipun sempat muncul cerita di abad ke-13 yang menuduh pasukan Arab membakar buku-buku tersebut pada abad ke-7, tetapi para sejarawan modern sebagian besar telah membantah kisah tersebut dan menganggapnya sebagai rekayasa. Pada akhirnya, kombinasi antara api peperangan, gejolak agama, dan pengabaian secara perlahanlah yang melenyapkan warisan ilmu pengetahuan terbesar dunia ini.

5. Bibliotheca Alexandrina: Wajah modern dari legenda masa lalu

Bibliotheca Alexandrina, sebuah perpustakaan besar dan pusat kebudayaan di Alexandria, Mesir. Ini adalah rekonstruksi dari Perpustakaan Alexandria kuno.
Bibliotheca Alexandrina, sebuah perpustakaan besar dan pusat kebudayaan di Alexandria, Mesir. Ini adalah rekonstruksi dari Perpustakaan Alexandria kuno. (unsplash.com/Abdallah MK)

Gagasan untuk menghidupkan kembali Perpustakaan Alexandria kuno pertama kali diusulkan pada tahun 1972 oleh Profesor Mostafa El-Abbadi. Dengan dukungan internasional dari UNESCO, Pemerintah Mesir membangun gedung megah senilai $200 juta yang resmi dibuka pada Oktober 2002. Terletak di dekat lokasi aslinya di pinggir Laut Mediterania, bangunan ini memiliki desain arsitektur yang sangat unik berupa silinder raksasa yang tampak muncul dari dalam tanah. Atapnya yang berbentuk cakram kaca dan aluminium menyerupai matahari terbit sekaligus microchip komputer, sementara dinding luarnya dihiasi dengan ribuan panel granit yang dipahat dengan berbagai karakter alfabet dari seluruh dunia.

Di dalamnya, perpustakaan modern ini mampu menampung hingga delapan juta buku yang tersebar di tujuh lantai, di mana naskah tertua disimpan di lantai paling dasar sebagai simbol akar pengetahuan. Lebih dari sekadar tempat menyimpan buku, kompleks ini adalah pusat kebudayaan dan sains yang lengkap, memiliki planetarium, laboratorium pelestarian digital, hingga pusat konferensi. Dengan adanya museum, galeri seni, dan tempat penyimpanan manuskrip langka, Bibliotheca Alexandrina berhasil mewujudkan kembali impian masa lalu untuk menjadi pusat penelitian dan titik temu peradaban dunia di era digital.

Kehancuran Perpustakaan Alexandria adalah pengingat keras bahwa peradaban dan ilmu pengetahuan jauh lebih rapuh daripada yang kita bayangkan. Kita mungkin tidak akan pernah tahu secara pasti berapa banyak rahasia alam semesta yang hilang ditelan api peperangan dan fanatisme di masa lalu. Namun, sejarah Alexandria mengajarkan bahwa meskipun bangunan bisa runtuh dan papirus bisa berubah menjadi abu, tetapi haus manusia akan pengetahuan tidak akan pernah bisa dipadamkan. Kehadiran Bibliotheca Alexandrina yang berdiri megah hari ini adalah bukti nyata bahwa setiap kali sebuah jendela ilmu tertutup, kemanusiaan akan selalu mencari jalan untuk membangun pintu yang baru.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

5 Fakta Perang Troya, Konflik Legendaris dalam Mitologi Yunani

11 Jan 2026, 15:20 WIBScience