Bayt al-Hikmah dikenal sebagai pusat penerjemahan dan penelitian yang menghimpun naskah dari berbagai peradaban. Perkembangannya didukung para khalifah Abbasiyah yang mendorong penerjemahan karya Yunani, Persia, dan India sehingga Baghdad tumbuh sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia pada masanya.
Tempat ini pernah diyakini menyimpan koleksi manuskrip dalam jumlah besar sebelum hancur saat serangan Mongol pada 1258. Peristiwa tersebut melahirkan kisah tentang tinta buku yang konon menghitamkan sungai sebagai simbol besarnya kehilangan.
Artikel ini merangkum lima fakta penting mengenai Bayt al-Hikmah sebagai pusat ilmu pengetahuan di Baghdad pada masa Keemasan Islam. Kelima fakta ini menyoroti peran, perkembangan, serta warisan intelektualnya yang berpengaruh bagi dunia.
