Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Haus der Kunst, Museum Seni Modern dan Kontemporer di Munich
Haus der Kunst, sebuah museum seni kontemporer terkenal yang terletak di Munich, Jerman. (commons.wikimedia.org/Burkhard Mücke)
  • Haus der Kunst awalnya dibangun pada era Nazi sebagai proyek arsitektur besar pertama Hitler, berfungsi sebagai alat propaganda budaya dengan gaya neoklasik yang megah dan simbol kekuasaan politik.
  • Setelah Perang Dunia II, bangunan ini sempat digunakan tentara Amerika sebelum kembali menjadi ruang pameran seni; beberapa elemen asli seperti mosaik langit-langit masih dipertahankan hingga kini.
  • Saat ini Haus der Kunst beroperasi tanpa koleksi permanen, menampilkan pameran temporer seniman dunia dan tengah bersiap menjalani renovasi besar di bawah kepemimpinan direktur artistik Andrea Lissoni.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Haus der Kunst adalah museum seni kontemporer di Munich yang memiliki sejarah panjang. Gedung ini dibangun pada masa pemerintahan Adolf Hitler sebagai simbol kekuatan politik saat itu. Namun, fungsinya kini telah berubah total menjadi tempat bagi seniman dunia untuk memamerkan karya yang kreatif dan kritis. Meskipun bangunannya merupakan peninggalan masa lalu, Haus der Kunst tetap aktif sebagai pusat seni modern yang terbuka bagi siapa saja.

Yuk, simak lima fakta menarik tentang Haus der Kunst!

1. Proyek arsitektur besar pertama Nazi

Haus der Kunst, sebuah museum seni kontemporer terkenal yang terletak di Munich, Jerman. (commons.wikimedia.org/Avda)

Haus der Kunst adalah museum seni modern dan kontemporer yang terletak di Munich, tepatnya di tepi taman Englischer Garten. Gedung ini dibangun antara tahun 1933–1937 atas perintah langsung dari Adolf Hitler sebagai proyek arsitektur besar pertama pada masa kekuasaannya. Dengan gaya neoklasik yang megah dan terbuat dari batu, bangunan ini awalnya dirancang sebagai simbol kekuatan dan wadah pameran bagi karya seni yang sesuai dengan ideologi rezim saat itu.

Peletakan batu pertama museum ini dilakukan sendiri oleh Hitler pada Oktober 1933, menandai dimulainya pembangunan struktur monumental yang disebut sebagai contoh klasikisme totaliter. Setelah selesai pada 18 Juli 1937, gedung ini resmi dibuka sebagai "Rumah Seni Jerman" yang berfungsi sebagai alat propaganda budaya. Meskipun kini telah berubah menjadi ruang terbuka bagi seni kontemporer dunia, sejarah pembangunannya tetap menjadi bagian penting dari identitas bangunan ikonik di Bavaria.

2. Terinspirasi dari bangunan klasik abad ke-19

Koridor di dalam museum Haus der Kunst. (commons.wikimedia.org/Fred Romero)

Gedung ini menggunakan gaya neoklasik yang menekankan keteraturan dan kesan abadi, terinspirasi dari bangunan klasik abad ke-19. Bagian luar museum menampilkan barisan pilar besar yang simetris dan kaku, memberikan kesan megah tetapi tetap sederhana tanpa banyak hiasan tambahan. Desain yang sangat kokoh ini sengaja dibuat untuk mencerminkan kekuatan dan kewibawaan pemerintah yang berkuasa pada masa pembangunannya.

Di bagian dalam, interior museum dilapisi dengan marmer mewah berwarna merah cerah yang diambil dari tambang lokal untuk memberikan kesan kemegahan kekaisaran. Ruang pamerannya dirancang sangat luas dan terbuka tanpa banyak sekat, sehingga mampu menampung patung serta lukisan berukuran raksasa. Selain itu, penggunaan jendela atap memastikan setiap ruangan mendapatkan pencahayaan alami yang maksimal bagi karya seni yang dipajang.

3. "Rumah Seni Jerman" yang kontroversial

Sebuah adegan dari pameran "Seni Degeneratif" yang diselenggarakan oleh Nazi di Munich pada tahun 1937, di mana para pejabat tinggi Nazi, termasuk menteri propaganda Joseph Goebbels, sedang memeriksa karya seni modernis yang disita. (commons.wikimedia.org/Unknown author/German Federal Archives)

Haus der Kunst resmi dibuka pada 18 Juli 1937 dengan nama "Rumah Seni Jerman". Melalui pameran perdananya, rezim saat itu ingin memamerkan karya seni yang dianggap "murni" dan sesuai dengan ideologi mereka, seperti lukisan dan patung monumental yang memuja rakyat serta tradisi Jerman. Pembukaan ini dirancang sangat megah untuk memberikan kesan bahwa seni yang direstui negara adalah simbol kejayaan dan kebudayaan yang abadi.

Hanya berselang satu hari, rezim sengaja membuka pameran tandingan di lokasi terdekat yang disebut pameran Entartete Kunst, alias "Seni Degeneratif". Di sana, lebih dari 650 karya seni modern—termasuk karya seniman ternama seperti Pablo Picasso—dipajang secara berantakan dengan keterangan yang mengejek. Perbandingan ini sengaja dibuat untuk memicu rasa jijik publik terhadap seni modern yang dianggap sebagai simbol kerusakan moral, sekaligus mempertegas dominasi nilai-nilai seni versi pemerintah.

Strategi ini bukan sekadar pameran seni, melainkan alat propaganda untuk mengontrol kreativitas masyarakat. Dengan memposisikan Haus der Kunst sebagai "kuil budaya" yang suci, rezim merasa memiliki alasan untuk menyita belasan ribu karya seni modern dari museum-museum publik. Dampaknya, para seniman yang tidak sejalan dengan pemerintah dikucilkan, sementara seniman yang patuh mendapatkan dukungan penuh, sehingga inovasi seni benar-benar mati demi keseragaman ideologi politik.

4. Masih ada sisa-sisa motif mosaik dari era aslinya

Panel langit-langit mosaik yang detail, yang diidentifikasi sebagai langit-langit berpetak (Kassettendecke) di dalam serambi Haus der Kunst di Munich. (commons.wikimedia.org/August Geyler)

Setelah Perang Dunia II berakhir, gedung museum ini sempat dialihfungsikan oleh tentara Amerika Serikat sebagai ruang makan bagi para perwira mereka. Meski fungsinya berubah, sisa-sisa sejarah masa lalu bangunan ini masih bisa ditemukan hingga kini. Salah satu contohnya adalah motif mosaik pada panel langit-langit di bagian teras depan yang masih memperlihatkan jejak desain dari era sebelumnya.

Mulai tahun 1946, gedung ini kembali dibuka untuk umum sebagai tempat pameran seni keliling, pameran dagang, serta galeri sementara bagi karya-karya seni yang selamat dari kehancuran perang di Munich. Seiring berjalannya waktu, fisik bangunan pun mengalami perubahan, salah satunya adalah penghapusan tangga asli di pintu masuk pada tahun 1972 untuk pembangunan terowongan jalan raya. Kini, ruangan-ruangan di dalamnya telah dibagi menjadi beberapa area pameran yang lebih kecil dan fleksibel.

5. Tidak memiliki koleksi permanen

Dinding galeri arsip yang mendokumentasikan sejarah museum Haus der Kunst di Munich. (commons.wikimedia.org/Fred Romero)

Sejak tahun 2002, koleksi tetap seni modern di museum ini telah dipindahkan ke lokasi lain, sehingga kini Haus der Kunst berfungsi sepenuhnya sebagai ruang pameran temporer. Meski tidak memiliki koleksi permanen, museum ini tetap menjadi pusat seni dunia dengan menampilkan berbagai pameran besar dari seniman ternama internasional seperti Ai Weiwei dan Anish Kapoor. Salah satu pameran yang paling sukses dalam sepuluh tahun terakhir adalah karya pematung El Anatsui pada tahun 2019, yang menarik jumlah pengunjung sangat besar.

Untuk menyongsong masa depan, museum ini direncanakan menjalani renovasi besar dengan bantuan arsitek ternama, David Chipperfield. Rencana renovasi ini bertujuan untuk menambah fasilitas baru seperti ruang bioskop, panggung pertunjukan, dan area acara musik. Selain itu, arsitek mengusulkan untuk membuka kembali jendela atap yang sebelumnya tertutup agar cahaya alami dapat kembali masuk dan menerangi bagian dalam gedung secara maksimal.

Dalam hal manajemen, Haus der Kunst juga mengalami pembaruan kepemimpinan setelah direktur sebelumnya mundur karena alasan kesehatan. Saat ini, museum dipimpin oleh Andrea Lissoni sebagai direktur artistik yang baru, setelah melalui proses seleksi oleh komisi ahli internasional. Di bawah kepemimpinan baru ini, Haus der Kunst terus berkomitmen untuk menyajikan narasi seni global yang inovatif dan tetap relevan bagi masyarakat modern.

Meskipun telah mengalami renovasi, jejak sejarah masa lalu gedung ini masih bisa ditemukan, salah satunya di Goldene Bar di mana mural asli dari tahun 1937 masih terawat dengan baik hingga kini. Kehadiran detail historis tersebut menjadikan Haus der Kunst sebagai ruang unik yang menghubungkan peristiwa masa lalu dengan perkembangan seni modern saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team