Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Fakta Jiaohe, Kota Kuno China yang Dipahat dari Tanah dan Batu
Jiaohe (commons.wikimedia.org/Hiroooooo)
  • Jiaohe dekat Turpan, Xinjiang, dibangun dengan menggali dataran tanah dan menyisakan struktur sebagai dinding serta bangunan; sebagian lainnya memakai tanah padat, bata lumpur, dan cob.
  • Dataran Jiaohe diapit dua lembah sungai bert Tebing curam sekitar 30 meter, menciptakan pertahanan alami dan akses terbatas tanpa tembok kota besar.
  • Sebagai bagian jaringan Jalur Sutra dan situs UNESCO sejak 2014, Jiaohe menyimpan tata ruang pemerintahan, permukiman, serta Buddha, namun erosi angin dan hujan mengancam struktur tanahnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jiaohe merupakan kota kuno yang berada di dekat Turpan, Xinjiang, China. Reruntuhannya berdiri di atas dataran tinggi yang dikelilingi lembah dan memiliki bentuk geografis yang khas. Kondisi tersebut ikut membentuk cara masyarakat membangun dan menata kota pada masa lalu.

Kota ini juga berkaitan erat dengan perkembangan permukiman di kawasan Jalur Sutra. Jejak bangunannya memperlihatkan perpaduan antara fungsi pemerintahan, permukiman, dan keagamaan. Hingga kini, material serta tata ruang Jiaohe menjadi sumber penting untuk memahami kehidupan kota kuno di Asia Tengah. Penasaran? Berikut adalah lima fakta tentang Jiaohe.

1. Kota yang dipahat dari tanah

Jiaohe (commons.wikimedia.org/Colegota)

Jiaohe berdiri di atas teras Lembah Yarnaizi, yang berada sekitar 30 meter di atas lembah di dekat Turpan, Xinjiang. Kota ini dibangun dengan menggali tanah dari permukaan dataran, lalu menyisakan bagian tertentu sebagai dinding dan bangunan. Cara tersebut membuat permukaan kota menjadi bagian dari struktur arsitekturnya.

Teknik tersebut membuat banyak ruang kota tampak seperti dipahat langsung dari tanah. Penelitian dalam Journal of Cultural Heritage menyebut sebagian besar bangunan Jiaohe digali langsung dari tanah. Bagian lainnya dibangun menggunakan tanah yang dipadatkan, bata lumpur, atau campuran tanah dan bahan pengikat yang disebut cob.

2. Dilindungi tebing curam di sekitarnya

Jiaohe (commons.wikimedia.org/Hiroooooo)

Letak Jiaohe membuat kota ini memiliki pertahanan alami yang tidak biasa untuk sebuah pusat permukiman kuno. Datarannya diapit dua lembah sungai dengan tebing curam, sehingga sisi kota terlindungi oleh bentang alam dan bukan oleh tembok pertahanan besar. Kondisi tersebut memberi kota batas alami yang sulit dilewati dari berbagai arah.

Tebing di sekitar kota dapat mencapai sekitar 30 meter. Posisi tersebut juga membuat akses menuju dataran lebih terbatas, sementara kawasan permukiman dan bangunan pemerintahan berada di bagian atas dataran yang memanjang. Bentuk geografis ini menjadi salah satu ciri utama yang membedakan Jiaohe dari banyak kota kuno bertembok.

3. Pernah menjadi pusat di Jalur Sutra

Jiaohe (commons.wikimedia.org/Hiroooooo)

Jiaohe berkembang di kawasan yang menjadi bagian penting dari jaringan Jalur Sutra di Asia Tengah. UNESCO mencatat Yar City sebagai salah satu situs dalam kawasan warisan dunia Jalur Sutra yang ditetapkan pada 2014. Jaringan tersebut menghubungkan berbagai kawasan dari China hingga Asia Tengah.

Jalur tersebut menjadi ruang pertukaran barang, gagasan, agama, serta teknologi antarmasyarakat di Asia. Posisi Jiaohe di Cekungan Turpan membuat kota ini berkaitan dengan jaringan perdagangan dan permukiman yang tumbuh di lingkungan oasis yang sangat kering. Keberadaan kota memperlihatkan perkembangan pusat permukiman di wilayah tandus.

4. Bangunan kota masih menunjukkan tata ruang lama

Jiaohe (commons.wikimedia.org/Colegota)

Reruntuhan Jiaohe masih memperlihatkan jejak jalan, halaman, bangunan pemerintahan, tempat ibadah, serta kawasan permukiman. Penelitian dari Journal of Cultural Heritage menyebut susunan arsitekturnya tetap dapat dikenali setelah mengalami pelapukan akibat angin dan hujan selama lebih dari dua ribu tahun. Jejak tersebut membantu memperlihatkan bagaimana ruang kota pernah digunakan.

Sisa bangunan terutama berasal dari perkembangan kota pada masa Tang. Di kawasan tersebut juga ditemukan unsur keagamaan Buddha, termasuk bangunan dan stupa, yang menunjukkan peran kota dalam kehidupan sosial dan keagamaan di jalur perdagangan Asia Tengah. Tata ruang itu menjadi bagian dari nilai arkeologis yang terlihat.

5. Angin dan hujan mengikis bangunannya

Jiaohe (commons.wikimedia.org/Zossolino)

Sebagian besar peninggalan Jiaohe tersusun dari material tanah yang lebih rentan dibandingkan batu atau bata. Penelitian menunjukkan bahwa angin, hujan, dan faktor manusia dapat mempercepat erosi serta kerusakan pada dinding dan struktur bangunan. Kerentanan tersebut membuat pelestarian situs memerlukan perhatian pada kondisi materialnya.

Pelestarian Jiaohe tidak hanya berkaitan dengan penggalian arkeologi, tetapi juga perlindungan material tanahnya. Upaya konservasi mendapat perhatian sejak pertengahan hingga akhir tahun 1990-an, termasuk penelitian kondisi bangunan dan langkah untuk mengurangi kerusakan. Upaya tersebut diperlukan agar struktur kota tetap dipelajari pada masa mendatang.

Jiaohe memperlihatkan bagaimana lingkungan geografis dapat memengaruhi bentuk sebuah kota kuno. Teknik menggali dataran dan pemanfaatan tebing alami menghasilkan tata kota yang berbeda dari kota dengan tembok pertahanan konvensional. Reruntuhannya juga merekam hubungan antara permukiman, perdagangan, pemerintahan, dan agama di kawasan Jalur Sutra.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article