Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Fakta Menarik Wollemia Nobilis, Fosil Hidup dari Negeri Kanguru
Wollemia Nobilis (commons.wikimedia.org/deror_avi)
  • Wollemia nobilis adalah pohon purba dari keluarga Araucariaceae yang sempat dianggap punah jutaan tahun lalu dan kini dikenal sebagai fosil hidup asal Australia.
  • Spesies ini ditemukan kembali pada 1994 oleh David Noble di Wollemi National Park, mengubah pandangan ilmuwan tentang keberlangsungan tumbuhan prasejarah.
  • Hanya tersisa kurang dari 100 pohon liar, membuatnya sangat langka dan dilindungi ketat, sementara upaya konservasi dilakukan lewat pembiakan di kebun botani dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Wollemia nobilis, yang lebih dikenal sebagai Wollemi pine, adalah salah satu tumbuhan paling menakjubkan yang pernah kembali muncul ke perhatian dunia botani. Pohon ini bukan sekadar langka, tetapi juga membawa jejak sejarah yang sangat tua, seolah menjadi penghubung langsung antara hutan masa kini dan dunia purba.

Keunikan Wollemi pine tidak berhenti pada usianya yang luar biasa. Pohon ini ditemukan kembali secara ilmiah pada 1994, meski sebelumnya sempat dianggap telah punah jutaan tahun lalu. Selain itu, jumlahnya di alam sangat sedikit, dan hidupnya bergantung pada habitat yang sangat spesifik. Kali ini, terdapat lima fakta menarik tentang Wollemia nobilis. Penasaran? Simak terus yuk!

1. Wollemi pine bukan pinus sejati

Wollemia Nobilis (commons.wikimedia.org/Architeuthis Dux)

Secara nama umum, pohon ini memang disebut pine, tetapi secara botani ia bukan pinus sejati. Botanic Gardens of Sydney menjelaskan bahwa Wollemia nobilis termasuk keluarga Araucariaceae, satu kelompok dengan kerabat seperti kauri, Norfolk Island pine, hoop pine, bunya pine, dan monkey puzzle pine. Artinya, pohon ini berada di jalur evolusi conifer yang sangat tua dan berbeda dari pinus yang umum dikenal sehari-hari.

Statusnya sebagai anggota keluarga Araucariaceae juga penting karena keluarga ini dianggap sangat tua dalam sejarah tumbuhan berbiji. Dalam konteks ilmu botani, Wollemi pine sering disebut unik bukan hanya karena langka, tetapi karena posisinya yang berada di antara dua kelompok conifer hidup yang sudah dikenal sebelumnya.

2. Jejak fosilnya sangat tua, bahkan jauh sebelum manusia ada

Wollemia Nobilis (commons.wikimedia.org/Krzysztof Ziarnek, Kenraiz)

Menurut Kew, Wollemi pine adalah living fossil yang berasal dari zaman dinosaurus. NSW National Parks menyebut bukti fosil spesies ini tercatat hingga 91 juta tahun yang lalu, sementara leluhurnya dalam keluarga Araucariaceae sudah ada sekitar 200 juta tahun lalu. Botanic Gardens of Sydney juga menjelaskan bahwa para ilmuwan dulu mengira tumbuhan ini sudah punah sekitar 2 juta tahun silam.

Yang membuatnya lebih menarik, keberadaan Wollemi pine menunjukkan bahwa sebuah garis evolusi yang dianggap hilang total ternyata masih bertahan dalam kantong habitat kecil. Dalam bahasa sederhana, pohon ini bukan hanya tua, tetapi juga menjadi bukti bahwa alam kadang menyimpan kejutan di tempat yang paling tak terduga.

3. Spesies ini ditemukan kembali secara tidak sengaja pada 1994

Wollemia Nobilis (commons.wikimedia.org/Fritz Geller-Grimm)

Fakta paling terkenal tentang Wollemi pine adalah penemuannya pada September 1994 oleh David Noble, seorang petugas NSW National Parks & Wildlife Service. Botanic Gardens of Sydney menulis bahwa Noble menemukan pohon ini saat melakukan canyoning di sebuah ngarai sempit di Wollemi National Park, sekitar 150 kilometer barat laut Sydney. Saat itu, ia menyadari bahwa pohon yang dilihatnya sangat berbeda dari tumbuhan yang umum dikenali.

Penemuan ini besar dampaknya karena seketika mengubah dugaan lama tentang satu garis tumbuhan yang dianggap telah hilang dari bumi. Bagi botani modern, momen itu setara dengan membuka kembali halaman sejarah yang sudah lama tertutup rapat. Tidak heran Kew menyebutnya sebagai salah satu penemuan botani paling luar biasa pada zamannya.

4. Jumlah pohon liar sangat sedikit dan statusnya kritis

Wollemia Nobilis (commons.wikimedia.org/Fritz Geller-Grimm)

NSW National Parks menyebut hanya ada 46 pohon dewasa dan 43 juvenil yang tersisa di alam liar. Kew juga menegaskan bahwa spesies ini berstatus sangat teramcam punah dan hanya terdapat kurang dari 100 pohon di Wollemi National Park. Dengan angka sekecil itu, Wollemi pine termasuk salah satu pohon paling langka di dunia.

Kelangkaan ini membuat perlindungan menjadi sangat penting. Lokasi pastinya dijaga ketat, dan ancaman terbesar datang dari gangguan manusia, kebakaran, serta penyakit akar seperti Phytophthora cinnamomi. Dalam kasus Wollemi pine, satu tindakan ceroboh bisa berdampak besar pada keseluruhan populasi liar yang tersisa.

5. Bertahan lewat strategi hidup yang cerdik

Wollemia Nobilis (commons.wikimedia.org/Krzysztof Ziarnek, Kenraiz)

Wollemi pine tidak bertahan hanya karena kebetulan. Botanic Gardens of Sydney menjelaskan bahwa pohon ini hidup di dalam ngarai batu pasir yang terpencil, lalu punya kemampuan self-coppicing, yaitu menumbuhkan beberapa batang dari satu sistem akar. Strategi ini membantu pohon pulih setelah gangguan seperti kebakaran, kekeringan, atau runtuhan batu.

Selain itu, pohon ini memiliki ciri fisik yang khas berupa kulit batangnya tampak berbintil seperti cokelat bergelembung, menghasilkan kerucut jantan dan betina pada pohon yang sama, serta menyebarkan biji bersayap lewat angin. Kew menambahkan bahwa upaya penyelamatan juga dilakukan lewat pembiakan dan penanaman di kebun botani berbagai negara.

Wollemia nobilis bukan sekadar pohon langka, melainkan saksi hidup dari sejarah panjang bumi yang berhasil bertahan hingga masa kini. Dari statusnya sebagai fosil hidup, penemuan ulang yang mengejutkan, hingga jumlahnya yang sangat terbatas, semua fakta tersebut menunjukkan betapa rapuh sekaligus berharganya spesies ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team