Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Burung House Finch
Burung House Finch (commons.wikimedia.org/Larry Lamsa)

Intinya sih...

  • Burung House Finch adalah vegetarian yang mengandalkan biji-bijian, buah, dan tunas tanaman sebagai sumber makanannya.

  • Pola makan vegetarian yang sangat dominan, warna merah bergantung pada menu makanan, dan diet biji-bijian menjadi senjata tak terduga.

  • Sejarah pelarian dari toko hewan di New York, adaptasi lokasi sarang yang sangat fleksibel.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

House Finch (Haemorhous mexicanus) merupakan burung yang umum ditemukan di wilayah perkotaan dan pedesaan Amerika Utara. Spesies ini mudah dikenali melalui kicauan khas serta warna kemerahan pada kepala dan dada jantan.

House Finch dikenal sebagai burung vegetarian yang mengandalkan biji-bijian, buah, dan tunas tanaman sebagai sumber makanannya, meskipun sering terlihat di tempat makan burung buatan manusia. Pola makan tersebut berkaitan dengan karakteristik biologisnya yang membedakannya dari jenis finch lain. Penasaran? Berikut lima fakta unik tentang burung House Finch si vegetarian garis keras!

1. Pola makan vegetarian yang sangat dominan

Burung House Finch (commons.wikimedia.org/Paul Danese)

Burung ini memiliki kebiasaan makan yang sangat konsisten dibandingkan dengan jenis burung penyanyi lainnya di alam liar. Dilansir laman Audubon, hampir seluruh asupan nutrisi burung House Finch berasal dari bahan nabati seperti biji-bijian gulma, kuncup bunga, hingga buah-buahan beri.

Satwa ini mencari makan secara berkelompok di berbagai medan, mulai dari permukaan tanah, semak belukar, hingga dahan pohon yang cukup tinggi. Bahkan saat membesarkan anak, induk burung tetap memberikan asupan berupa biji-bijian yang sudah dimuntahkan kembali daripada mencari serangga. Kebiasaan ini sangat jarang ditemukan pada burung lain yang biasanya tetap membutuhkan protein hewani untuk membantu pertumbuhan fisik bayi mereka.

2. Warna merah yang bergantung pada menu makanan

Burung House Finch (commons.wikimedia.org/sussexbirder)

Penampilan burung jantan sangat khas dengan warna merah mawar pada bagian kepala dan dadanya, sementara burung betina cenderung berwarna cokelat garis-garis untuk berkamuflase. Dilansir laman Birds & Blooms, variasi warna pada burung jantan ini ternyata bisa berubah menjadi oranye atau kuning tergantung pada apa yang mereka konsumsi saat bulu mereka sedang tumbuh.

Jika seekor burung jantan kekurangan pigmen merah dari makanannya, maka warna cerah tersebut akan memudar atau berganti warna pada periode perontokan bulu berikutnya. Selain itu, mereka memiliki paruh berbentuk kerucut yang sangat kuat, sebuah alat alami yang berfungsi sempurna untuk memecah berbagai jenis biji-bijian keras dengan sangat cepat.

3. Diet biji-bijian yang menjadi senjata tak terduga

Burung House Finch (commons.wikimedia.org/Cephas)

Sifat "vegetarian" burung ini ternyata memberikan keuntungan perlindungan yang unik bagi sarang mereka dari gangguan burung parasit. Masih dari laman Birds & Blooms, anak burung dari spesies lain seperti burung cowbird sering kali tidak bertahan hidup jika induknya menitipkan telur di sarang House Finch.

Penyebabnya adalah pola asuh House Finch yang hanya memberikan asupan biji-bijian kepada anak-anak mereka, sedangkan burung parasit membutuhkan protein tinggi dari serangga untuk tumbuh. Karena diet nabati yang sangat ketat ini, anak burung parasit tersebut biasanya akan gagal berkembang karena tidak mendapatkan nutrisi hewani yang mereka butuhkan.

4. Sejarah pelarian dari toko hewan di New York

Burung House Finch (commons.wikimedia.org/Mathieu Landretti)

Keberadaan burung House Finch di seluruh wilayah Amerika Serikat saat ini bermula dari sebuah kisah pelarian yang cukup dramatis di masa lalu. Masih dari laman Birds & Blooms, pada tahun 1942, burung ini sebenarnya hanya ditemukan di wilayah barat, namun sekelompok pedagang di New York melepaskan sekitar 100.000 ekor ke alam liar karena takut akan konsekuensi hukum

Awalnya, burung-burung ini diselundupkan dari California dan dijual secara ilegal sebagai burung peliharaan dengan label "Hollywood Finches". Pasca dilepaskan di kawasan Brooklyn, satwa ini menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa hingga populasinya meledak dan menyebar luas ke berbagai ekosistem, mulai dari gurun hingga kawasan perkotaan yang padat.

5. Adaptasi lokasi sarang yang sangat fleksibel

Burung House Finch (pexels.com/Jay Brand)

Pilihan lokasi untuk membangun tempat tinggal bagi keluarga kecil burung ini fleksibel dan tidak terbatas pada pepohonan saja. Burung House Finch tidak ragu memanfaatkan berbagai titik mulai dari dahan pohon kaktus yang tajam hingga rak pot gantung di teras rumah warga.

Dalam proses penyusunan, burung betina berperan utama dengan merangkai ranting dan serat halus menjadi sarang berbentuk cangkir yang stabil. Kebiasaan menggunakan ruang-ruang buatan seperti celah lampu hias atau kusen jendela membuat spesies ini sering dijumpai di sekitar kawasan permukiman.

Burung House Finch dikenal dengan pola makan nabati dan kemampuan menyesuaikan diri di lingkungan sekitar manusia. Persebarannya yang luas serta warna bulu yang khas membuat spesies ini mudah dikenali di kawasan permukiman. Keberadaannya sering terlihat di halaman rumah dan ruang terbuka hijau.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team