7 Fakta Burung Pedendang, Hewan Langka yang Pernah Muncul di Sumatra

Pernah dengar nama burung pedendang? Gak heran kalau kamu belum pernah mendengarnya. Ahli ornitologi pun belum tahu banyak tentang burung ini. Sifatnya yang terutup dan penyendiri membuatnya misterius.
Pedendang atau finfoot merupakan jenis burung semiakuatik yang hidup di tepi sungai berhutan Asia, Afrika, dan Amerika. Burung ini tampil khas dengan kaki ber-lobus alih-alih berselaput layaknya burung air pada umumnya. Tahukah kamu kalau burung misterius ini pernah terlihat di Sumatra? Yuk, cari tahu tentang burung misterius ini lewat fakta unik burung pedendang atau finfoot berikut ini!
1. Apa itu burung pedendang?

Pedendang atau finfoot (famili Heliornithidae) merupakan jenis burung semiakuatik berukuran sedang yang hidup menyendiri di sepanjang tepi sungai hutan tropis Asia, Afrika, dan Amerika Tengah dan Selatan. Ciri khas burung ini ada pada kakinya. Alih-alih selaput tipis, pedendang punya kulit berdaging (lobus) yang menyatukan tiap jarinya. Namanya dalam bahasa Inggris, finfoot, merujuk pada hal ini.
2. Pedendang ternyata kerabat burung jenjang yang anggun

Pedendang merupakan burung yang sangat unik. Ia punya kaki ber-lobus mirip burung titihan (grebe). Gaya berenangnya rendah dengan sebagian tubuh terendam seperti burung pecuk ular (darter). Ia juga rutin berjemur di atas batu layaknya burung pecuk (cormorant).
Eh ternyata, pedendang merupakan bagian dari ordo burung jenjang, Gruiformes. Ordo ini mengelompokkan keluarga jenjang (Gruidae), mandar (Ralidae), buntut lembut atau flufftail (Sarothruridae), limpkin (Aramidae), dan burung terompet (Psophiidae). Menurut informasi dari laman Birds of The World, studi molekuler menunjukkan kalau pedendang paling dekat kekerabatannya dengan mandar dan buntut lembut.
3. Ada 3 spesies pedendang di Afrika, Asia, dan Amerika

Pedendang terbagi jadi 3 spesies yang masing-masing membentuk genusnya tersendiri. Ada pedendang afrika atau African finfoot (Podica senegalensis) yang tersebar dari Senegal sampai Cekungan Kongo, dan dari Etiopia sampai Tanjung Harapan. Menurut laman Britannica, pedendang afrika adalah spesies pedendang terbesar dengan panjang mencapai 53 sentimeter. Ciri khasnya kaki berwarna merah dan leher abu-abu kebiruan dengan garis putih samar di sisinya.
Kemudian ada pedendang topeng atau masked finfoot (Heliopais personatus) yang hidup di Asia Tengah dan Tenggara. Kakinya berwarna hijau terang. Menurut laman BioDB, sarangnya berupa bantalan tebal dari ranting yang mengapung di permukaan air. Terakhir ada titihan matahari atau sungrebe (Heliornis fulica) yang berukuran 30 sentimeter. Ia tersebar dari Meksiko sampai timur laut Argentina. Paruhnya merah dengan tubuh hijau zaitun. Jari kakinya kuning bergaris hitam.
4. Pedendang bisa renang, lari, dan memanjat berkat kaki uniknya

Seperti yang diterangkan sebelumnya, pedendang punya kulit berdaging atau lobus yang menyatukan jari-jari kakinya. Kaki ber-lobus ini digunakan untuk mendorong dan mendayung di dalam air saat si burung berenang. Menurut laman Animalia, pedendang seperti titihan matahari berevolusi konvergen dengan burung titihan dan mandar hitam yang memiliki kaki serupa.
Meski terlihat sering di air, pedendang juga lumayan nyaman di darat. Burung ini berjalan kedek-kedek seperti bebek. Namun, jangan salah. Pedendang sangat lincah saat berlari meloloskan diri dari bahaya. Berkat kaki ber-lobus, pedendang bisa menembus dedaunan dan dengan cepat berlindung di semak-semak saat ada bahaya, sekaligus memanjat cabang dan akar pohon yang menjuntai untuk berlindung dari ancaman di air.
5. Titihan matahari bisa “menggendong” anaknya sambil terbang

Salah satu spesies pedendang, titihan matahari, punya anatomi sayap yang gak biasa. Gak seperti burung pada umumnya, titihan matahari punya lipatan kulit di tiap sayapnya. Menurut laman Birds of The World, tiap lipatan ini bisa menampung satu atau dua anak burung. Kalau ada bahaya, titihan matahari jantan bisa langsung terbang pergi sambil “menggendong” anak-anaknya yang baru menetas dan tak berdaya di lipatan kulitnya itu.
6. Pedendang topeng pernah terlihat di Sumatra

Pedendang topeng asli Asia Tengah dan Asia selatan sering ditemukan di hutan bakau dan lahan basah. Persebarannya tidak merata. Menurut data dari Data Zone BirdLife International, populasi utama pedendang topeng diperkirakan ada di Bangladesh, Myanmar, Kamboja, Vietnam, dan Laos.
Di Indonesia, pedendang topeng tampaknya jadi pengunjung non-berbiak di Pulau Sumatra. Catatan terakhir pedendang topeng dari Sumatra berasal dari tahun 2009, yang merupakan penampakan pertama di Indonesia dalam 16 tahun. Pedendang topeng termasuk hewan dilindungi di Indonesia menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.
Di seluruh wilayah persebarannya, angka populasi pedendang topeng menurun tajam. Konversi habitat jadi penyebab utama penurunan populasi. Sistem sungai yang jadi habitat ideal pedendang topeng termasuk jenis lingkungan yang paling dirusak di Asia Tenggara.
7. Pedendang perlu sungai yang teduh dan rimbun untuk hidup

Pedendang merupakan burung yang sangat tertutup. Ia hanya hidup di aliran sungai yang tenang dan dinaungi vegetasi padat. Waktunya banyak dihabiskan dengan berenang tersembunyi oleh rerimbunan di dekat tepi sungai. Di wilayah ini, pedendang mencari makan berupa katak, cacing, krustasea, moluska, sampai serangga.
Sayangnya, habitat sungai yang ideal bagi ketiga spesies pendendang makin langka akibat pembukaan lahan pertanian, penggundulan hutan, pembangungan bendungan, hingga pertambangan. Burung ini juga diburu dan mangsa-mangsanya terancam polusi pestisida. Telur dan anak pedendang turut diambil orang tak bertanggung jawab, memanfaatkan sifat pedendang yang jinak saat mengerami telur.
Sifat tertutup dan penyendiri pedendang membuat burung ini belum terdokumentasi dan dipelajari dengan baik. Kemungkinan besar masih banyak keunikannya yang belum terungkap. Namun, bila habitat sungai tak dijaga dan dilestarikan sedari sekarang, bukan tidak mungkin kita tak berkesempatan untuk mempelajari pedendang lebih dalam.


















