Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
anjing liar afrika
anjing liar afrika (commons.wikimedia.org/Kengitau254)

Intinya sih...

  • Anjing liar afrika berburu secara berkelompok, memiliki badan kuat dan mampu lari hingga 66 km dalam waktu 10-60 menit.

  • Jackal terdiri atas dua spesies, hidup berkelompok dan memakan daging, bangkai, buah-buahan, serangga, serta sayur-sayuran.

  • Serigala di Afrika terancam punah karena hanya menyisakan sekitar 300 individu di alam liar.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Daratan Afrika menjadi sarang bagi banyak hewan eksotis, salah satunya adalah spesies dari famili Canidae. Canidae adalah famili mamalia yang berisikan hewan karnivor. Canidae sering disebut sebagai "anjing-anjingan" karena mencakup spesies anjing, serigala, dan semua hewan yang berkerabat dekat dengan mereka.

Iklim di Afrika sangat ideal sebagai habitat Canidae dan kaya akan makanan. Beberapa Canidae yang hidup di Afrika adalah anjing liar afrika, serigala, jackal, dan rubah. Mau tahu bagaimana mereka hidup dan berburu di kerasnya savana Afrika? Yuk, kita selami kehidupan mereka di bawah ini.

1. Anjing liar afrika berburu secara berkelompok

anjing liar afrika (commons.wikimedia.org/Lip Kee)

Daratan Afrika dikuasai oleh salah satu predator ganas, yaitu Lycaon pictus atau anjing liar afrika. Jika dibandingkan Canidae lain di Afrika, anjing liar afrika tergolong bulky dan berbadan kuat dengan panjang mencapai 1 meter dan bobot maksimal 36 kilogram. Nah, bentuk badan tersebut memudahkannya untuk memburu berbagai jenis hewan, mulai dari antelope hingga wildebest berukuran besar.

Seperti Canidae lain, anjing liar afrika juga berburu secara berkelompok. Satu kelompok bisa berisikan hingga 27 individu dan mereka akan berkoordinasi agar bisa menjatuhkan mangsa berukuran besar. Berburu di siang hari, anjing liar afrika memiliki ketahanan yang kuat karena mampu berlari hingga 66 kilometer dalam waktu 10-60 menit. Selain itu warna cokelat dan hitamnya juga jadi alat kamuflase yang sempurna.

2. Jackal terdiri atas dua spesies

jackal (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Di Afrika terdapat dua spesies jackal, yaitu Canis mesomelas dan Canis adustus. Dilansir Animal Diversity Web, dua spesies tersebut menghuni habitat yang serupa, yaitu area berkayu, savana, rawa, pegunungan, hutan, semak-semak, hingga perkotaan. Kebiasaannya juga serupa karena dua spesies tersebut sama-sama hidup berkelompok yang bisa beranggotakan hingga 12 individu.

Di Afrika, jackal memang bukan predator teratas yang bisa memangsa apapun. Sebaliknya jackal merupakan omnivor yang makanannya beragam, mulai dari daging, bangkai, buah-buahan, serangga, hingga sayur-sayuran. Pilihan makanan yang beragam membuat jackal bisa hidup menempati relung ekologi yang kosong. Ia juga tidak agresif dan penyebarannya mencakup Somalia hingga Afrika Selatan.

3. Serigala di Afrika terancam punah

serigala (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Canis simensis (serigala ethiophia) dan Canis anthus (serigala afrika) merupakan dua spesies yang bisa ditemukan di Afrika. Jika dibandingkan dengan spesies serigala lain, keduanya terbilang kecil. Dilansir Animalia, panjang keduanya hanya sekitar 40 centimeter hingga 1 meter. Bobotnya juga tak seberapa berat, yaitu hanya 11 hingga 19 kilogram. Jadi badannya ramping, kecil, tapi gesit.

Serigala ethiophia hanya hidup di Pegunungan Bale dan Arssi yang tinggi serta terpencil. Sangat berbeda, serigala afrika menghuni Afrika bagian utara, timur, dan sebagian Afrika barat. Populasi serigala ethiophia juga jauh lebih sedikit karena hanya menyisakan sekitar 300 individu di alam liar. Karena itu, ia menjadi hewan terancam punah dan masuk ke kategori endangered.

4. Rubah telinga kelelawar punya gigi kecil

rubah telinga kelelawar (commons.wikimedia.org/Giles Laurent)

Di Afrika hidup satu spesies rubah dengan telinga super lebar, yaitu Otocyon megalotis atau rubah telinga kelelawar. Menurut laman Shadow of Africa, telinga hewan tersebut punya panjang yang mencapai 14 centimeter. Selain panjang telinganya juga mencuat ke atas sehingga nampak sangat mencolok dan menjadi ciri khasnya. Soal ukuran, panjangnya hanya 46-66 centimeter dan beratnya 3-5 kilogram.

Rubah telinga kelelawar punya gigi yang tergolong kecil jika dibandingkan dengan spesies Canidae lain. Tak hanya itu, gigi gerahamnya juga mengotak, kuat, dan gigi lainnya tidak terlalu tajam. Nah, adaptasi tersebut digunakan untuk mengunyah serangga dan invertebrata bertubuh keras. Penyebarannya sendiri mencakup dua daerah, yaitu Afrika timur dan selatan.

5. Rubah merupakan hewan nokturnal

rubah (commons.wikimedia.org/Gerrie van Vuuren)

Rubah yang dimaksud adalah spesies yang berasal dari genus Vulpes. Genus Vulpes sendiri berbeda dari rubah telinga kelelawar karena memiliki kekerabatan yang cukup jauh. Tercatat, ada beberapa rubah dari genus Vulpes yang hidup di Afrika, yaitu Vulpes chama, Vulpes zerda, dan Vulpes rueppellii. Mereka punya badan kurus, ramping, ekor berbulu lebat, dan telinga lebar.

Laman iNaturalist menjelaskan bahwa semua spesies tersebut merupakan hewan nokturnal yang aktif di malam hari. Hidup menyendiri, rubah akan beraktivitas saat matahari terbenam dan mulai memburu serangga, burung, hingga mamalia kecil. Telinga besar mereka juga bukan pajangan belaka, melainkan sensor pendengar yang sensitif dan mampu mendeteksi suara sekecil apapun.

Canidae yang hidup di Afrika memiliki perannya sendiri di alam. Mereka tidak saling berkonflik, punya kehidupan masing-masing, dan tak akan mengganggu spesies lain. Keseimbangan tersebut dapat dicapai berkat kelestarian alam dan ketidakhadiran manusia di habitatnya. Alam liar Afrika juga memiliki hukum dan peraturannya sendiri yang tak bisa diubah dan tidak boleh diganggu oleh manusia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team