Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Hewan Langka yang Berhasil Ditemukan Kembali setelah Dianggap Punah

potret Asiatic Caracal (commons.wikimedia.org/Leo Za1)
potret Asiatic Caracal (commons.wikimedia.org/Leo Za1)
Intinya sih...
  • Echidna moncong panjang ditemukan kembali setelah puluhan tahun hilang di Pegunungan Cyclops, Papua.
  • Rusa musk berhasil direkam pertama kali di Taman Nasional Neora Valley, India, setelah laporan terakhir pada 1955.
  • Spesies langka Asian caracal dan Monte Gordo grasshopper juga berhasil ditemukan kembali setelah dianggap nyaris punah.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Selama bertahun-tahun, sejumlah spesies hewan dinyatakan punah karena tak lagi pernah terlihat di alam liar. Namun, perkembangan riset, teknologi kamera jebak, serta keterlibatan komunitas lokal kembali membuka lembaran baru dalam dunia konservasi. Pada 2025, beberapa satwa langka yang sempat dianggap hilang berhasil ditemukan kembali di habitat aslinya—mulai dari mamalia bertelur di Papua, rusa misterius di Himalaya, kucing liar Asia yang nyaris lenyap, hingga serangga endemik pulau terpencil. Temuan-temuan ini bukan hanya mengejutkan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa alam masih menyimpan harapan, selama manusia mau menjaga dan memahaminya. Merangkum dari berbagai sumber, berikut ini 4 hewan langka yang berhasil ditemukan kembali.

1. Echidna moncong panjang

potret echidna berparuh panjang (commons.wikimedia.org/Naturallis Biodiversity Center)
potret echidna berparuh panjang (commons.wikimedia.org/Naturallis Biodiversity Center)

Long-beaked echidna (echidna berparuh panjang) merupakan salah satu dari hanya lima spesies mamalia di dunia yang berkembang biak dengan cara bertelur, atau dikenal sebagai kelompok monotremata. Hewan dengan nama latin Zaglossus attenboroughi ini pertama kali diidentifikasi dan dideskripsikan pada tahun 1998, berdasarkan spesimen yang dikumpulkan pada tahun 1961 di Pegunungan Cyclops, kawasan pegunungan yang berada di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini. Sayangnya, setelah penemuan langka pada tahun 1961 tersebut, echidna ini tidak pernah terlihat lagi selama puluhan tahun. Hal ini membuat para ilmuwan menduga bahwa spesies tersebut telah punah, sebagaimana disampaikan oleh Department of Biology, University of Oxford dalam laman resminya.

Pada Mei 2025, sebuah studi berjudul “Attenborough’s echidna rediscovered by combining Indigenous knowledge with camera-trapping” mengkonfirmasi bahwa echidna tersebut masih hidup. Temuan ini berasal dari ekspedisi tahun 2023 yang dipimpin tim internasional dari University of Oxford bersama lembaga dan komunitas lokal, termasuk Yayasan Pelayanan Papua Nenda (YAPPENDA), universitas setempat, serta instansi konservasi dan riset Indonesia. Dalam ekspedisi tersebut, tim memasang lebih dari 80 kamera jebak di Pegunungan Cyclops, Papua, serta melakukan pendakian dan survei hutan untuk menemukan habitat potensial echidna, yang dikenal sebagai hewan nokturnal, pemalu, dan hidup di dalam liang. Setelah hampir empat minggu tanpa hasil, pada hari terakhir survei, foto dan video pertama echidna akhirnya ditemukan dari kartu memori kamera terakhir.

2. Rusa Musk

potret rusa dari family Moschus (commons.wikimedia.org/Dmitry Ivanov)
potret rusa dari family Moschus (commons.wikimedia.org/Dmitry Ivanov)

Keberadaan rusa musk, anggota famili Moschus yang beberapa spesiesnya, termasuk Himalayan musk deer telah berstatus “Terancam Punah” menurut IUCN, selama ini menyisakan misteri di India. Meski diketahui menghuni kawasan Pegunungan Himalaya, jejaknya di wilayah Bengal bertahun-tahun dianggap samar, bahkan seolah hilang secara lokal. Namun temuan terbaru berhasil memunculkan harapan baru bagi kelestarian salah satu satwa paling langka di Asia ini.

Sebuah artikel di jurnal Oryx yang ditulis oleh Limboo dan Gopi (2025) mengungkap bahwa kamera jebak di Neora Valley National Park berhasil merekam keberadaan rusa musk untuk pertama kalinya. Para peneliti berhasil mendokumentasikan foto pertama rusa musk (genus Moschus) di West Bengal, India, melalui kamera jebak (camera trap) di Taman Nasional Neora Valley pada 17 Desember 2024, di ketinggian 3.112 meter. Temuan ini penting karena keberadaan rusa musk di wilayah tersebut telah diragukan sejak laporan terakhir pada 1955. Foto menunjukkan ciri khas musk deer seperti telinga panjang, tidak memiliki tanduk, dan taring atas yang menonjol, meski detail spesiesnya belum dapat dipastikan karena pengambilan gambar malam hari. Penemuan ini menegaskan bahwa genus Moschus masih bertahan di West Bengal dan menunjukkan bahwa habitat Neora Valley tetap layak bagi konservasi satwa langka tersebut.

3. Asian caracal

potret Asiatic Caracal (commons.wikimedia.org/Leo Za1)
potret Asiatic Caracal (commons.wikimedia.org/Leo Za1)

The Times of India melaporkan bahwa pada tahun 2025 spesies langka Asiatic Caracal (Caracal caracal schmitzi) yang sebelumnya dianggap nyaris punah di India kembali ditemukan di padang rumput Ramgarh, Jaisalmer. Penemuan oleh tim Sumer Singh Sanwata bersama BNHS ini mengungkap keberadaan sekitar sepuluh pasang caracal yang masih bertahan. Temuan tersebut memberikan harapan baru bagi kelangsungan spesies, apalagi diperoleh melalui kombinasi survei ilmiah dan pengetahuan tradisional para penggembala lokal, yang menegaskan pentingnya keterlibatan komunitas dalam konservasi satwa liar.

Meski demikian, status Asiatic Caracal tetap kritis, dengan populasi nasional yang diperkirakan hanya sekitar 50 ekor. Kehilangan habitat akibat konversi lahan, urbanisasi, serta proyek energi seperti turbin angin dan panel surya terus menekan keberadaan mereka. Perilakunya yang soliter dan aktif di malam hari membuat caracal sulit terdeteksi, sehingga tanpa upaya konservasi yang serius dan berkelanjutan, spesies ini berisiko hilang tanpa terpantau.

4. Monte Gordo Grasshopper

potret Monte Gordo Grasshopper (jor.pensoft.net/Rob Felix)
potret Monte Gordo Grasshopper (jor.pensoft.net/Rob Felix)

Menurut laporan The Washington Post tahun 2025, para peneliti berhasil menemukan kembali Monte Gordo grasshopper di pulau São Nicolau setelah hampir 40 tahun tidak terlihat dan sempat dianggap punah. Serangga ini terakhir tercatat antara tahun 1979–1982 di Cape Verde, dan saat itu hanya individu jantan yang pernah ditemukan. Namun, ekspedisi tahun 2023 mengungkap bahwa spesies ini ternyata masih bertahan. Lebih mengejutkan lagi, para peneliti berhasil menemukan tidak hanya pejantan, tetapi juga betina untuk pertama kalinya dalam sejarah. Serangga yang dijuluki “fosil hidup” ini hampir tidak mengalami perubahan evolusioner selama jutaan tahun dan memiliki eksoskeleton yang sangat kuat sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan pulau yang kering dan keras.

Karena hanya hidup di area yang sangat terbatas, yaitu sekitar 12 km² di kawasan Monte Gordo, habitat spesies ini sangat rentan terhadap perubahan lingkungan. Penemuan kembali ini membuka peluang besar untuk upaya konservasi, termasuk reforestasi, pengaturan aktivitas penggembalaan, serta perlindungan habitat di Monte Gordo Natural Park. Dengan statusnya yang sangat langka dan endemik, pemantauan jangka panjang menjadi kunci agar spesies ini tidak benar-benar menghilang untuk kedua kalinya.

Rangkaian penemuan kembali spesies yang lama hilang ini menutup tahun 2025 dengan optimisme bagi konservasi. Meski menjadi bukti bahwa alam masih mampu pulih, temuan ini juga menegaskan pentingnya perlindungan habitat dan penelitian berkelanjutan. Tanpa upaya serius dan kolaboratif, spesies langka tersebut tetap berisiko menghilang kembali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More

Matahari Buatan China Tembus Batas yang Dianggap Mustahil

07 Jan 2026, 07:25 WIBScience