Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Serangga yang Hidup di Rawa, Area Lembap Jadi Favoritnya
capung (commons.wikimedia.org/Andreas Eichler)
  • Rawa menjadi habitat ideal bagi berbagai serangga seperti capung, kupu-kupu, nyamuk, tonggeret, dan anggang-anggang karena kelembapan tinggi serta ketersediaan makanan dan air yang melimpah.
  • Capung bergantung pada rawa untuk berkembang biak, namun urbanisasi dan pencemaran menyebabkan hilangnya habitat ini sehingga ratusan spesies serangga terancam punah.
  • Setiap jenis serangga memiliki perilaku unik di rawa—nyamuk aktif malam hari, tonggeret muncul musiman, dan anggang-anggang mampu bergerak di permukaan air tanpa tenggelam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bagi manusia, rawa bukan tempat tinggal yang ideal yang nyaman. Sebaliknya, rawa menjadi rumah terbaik bagi berbagai spesies hewan. Kelembapan sempurna, makanan berlimpah, dan sumber air yang kaya akan nutrisi menjadi beberapa faktornya. Salah satu hewan yang hidup di rawa adalah serangga. Jenis serangga yang hidup di rawa juga banyak dan mereka saling berinteraksi satu sama lain.

Kamu bisa menemukan nyamuk beterbangan di rawa saat matahari terbenam. Capung yang merupakan serangga predator juga kerap berburu dan bertelur di rawa. Di permukaan air juga ada anggang-anggang yang "berselancar" dengan mulus. Mengapa ada banyak serangga yang hidup di rawa dan bagaimana cara mereka bertahan hidup? Simak pembahasannya di bawah, yuk!

1. Capung sering bertelur di perairan

capung (commons.wikimedia.org/Joselodos)

Serangga predator dengan kecepatan terbang mencapai 54 km/jam ini mengandalkan rawa sebagai habitat utamanya. Di rawa, ia bisa mencari makanan hingga berkembang biak. Dalam hal berkembang biak, capung akan mencari perairan yang tenang. Setelah itu, ia akan bertelur di perairan. Larvanya akan hidup sebagai hewan akuatik dan kemudian bermetamorfosis menjadi individu dewasa.

Sayangnya, laman Smithsonian Magazine menjelaskan kalau perairan seperti rawa mulai menghilang. Hal tersebut membuat 950 spesies serangga (termasuk capung) berisiko terancam punah. Perubahan tersebut dapat terjadi karena urbanisasi, perluasan lahan pertanian, dan pencemaran. Akhirnya, rawa mengering, air jadi kotor, dan capung kehilangan rumahnya.

2. Kupu-kupu kerap bertengger di bunga dan semak-semak

kupu-kupu (commons.wikimedia.org/Charles J. Sharp)

Rawa menjadi bioma yang ideal bagi kehidupan kupu-kupu. Kupu-kupu kerap beterbangan, bertengger, hingga mencari makan di area lembap, semak-semak, atau bunga pinggir air. Bahkan, beberapa spesies kupu-kupu juga bisa menghisap nektar di bunga yang berlokasi di tengah rawa. Dilansir Western Pennsyvania Conservacy, beberapa spesies kupu-kupu yang kerap terlihat di rawa adalah Lycaena epixanthe, Euphyes dion, Euphydryas phaeton, Euphyes conspicua, Poanes massasoit, Chlosyne harrisii, dan Boloria selene.

3. Nyamuk akan mulai aktif pada malam hari

nyamuk (commons.wikimedia.org/Kjetil Fjellheim)

hLaman Beyond Pesticides menerangkan kalau nyamuk bisa hidup dengan sejahtera di area lembap yang asri, seperti rawa, danau, dan perairan air tawar. Area lembap menyediakan makanan bagi individu dewasa. Seperti capung, nyamuk juga akan bertelur di perairan. Tergantung spesiesnya, aktivitas nyamuk di rawa sangat bervariasi. Terdapat beberapa spesies yang mulai aktif pada malam hari. Sementara itu, ada juga spesies yang sangat aktif di pagi, siang hari, atau petang. Jika ekosistem rawa terganggu, populasi nyamuk di rawa juga bisa memludak dan tak terkendali.

4. Tonggeret tak muncul setiap saat

tonggeret (commons.wikimedia.org/Varghese K James)

Dikutip Cicadas Te Ara Encyclopedia of New Zealand, tonggeret bisa ditemukan di berbagai tipe habitat, salah satunya adalah rawa. Tak hanya itu, bahkan ada satu spesies bernama tonggeret rawa (Neotibicen tibicen) yang hanya bisa ditemukan di rawa dan area lembap. Tak seperti spesies lain, kemunculan tonggeret di rawa terbilang sulit diprediksi. Terkadang, serangga ini hanya muncul beberapa bulan sekali. Namun, di kesempatan lain kehadirannya di rawa bisa memludak. Hal tersebut dipengaruhi oleh siklus kehidupan dan reproduksi tonggeret.

5. Anggang-anggang berselancar di permukaan air

anggang-anggang (commons.wikimedia.org/Bernard DUPONT)

Anggang-anggang merupakan serangga air berukuran kecil yang berasal dari famili Gerridae. Ia sangat mencolok karena memiliki kemampuan untuk bergerak atau "berselancar" di permukaan air dengan cepat tanpa tenggelam. Anggang-anggang sendiri merupakan karnivor. Makanannya mencakup invertebrata seperti laba-laba, larva, dan serangga berukuran kecil.

Informasi dari laman US-Milwaukee menerangkan kalau anggang-anggang kerap terlihat di perairan air tawar berarus tenang. Selain rawa, habitat favoritnya adalah danau, sungai, atau kolam. Kemampuannya berjalan di atas air didukung oleh rambut halus mikroskopis di ujung kaki yang mampu menjebak udara. Menariknya, hewan ini hampir tak bisa bergerak di daratan.

Pengetahuan terkait serangga yang hidup di rawa bisa membuka wawasanmu terkait kehidupan hewan liar. Saat pergi ke rawa, kamu tak perlu kaget jika menemukan semua hewan tersebut. Nyatanya, rawa merupakan bioma kecil yang menjadi pondasi bagi kehidupan banyak hewan. Rawa juga harus dijaga agar semua serangga tersebut tak terjun ke jurang kepunahan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team