Katak sering dianggap sebagai hewan kecil yang sederhana, hidup di dua alam, dan identik dengan suara berisik saat hujan turun. Namun di balik tubuh mungilnya, katak menyimpan kemampuan biologis yang luar biasa dan jarang disadari manusia. Salah satu keunikan paling mencengangkan ada pada kulitnya yang bukan sekadar pelindung tubuh. Kulit katak berperan besar dalam proses pernapasan, bahkan bisa menggantikan fungsi paru-paru dalam kondisi tertentu. Hal ini membuat katak menjadi salah satu amfibi dengan sistem pernapasan paling fleksibel di dunia hewan. Fakta ini pula yang menjelaskan mengapa katak sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.
Kemampuan bernapas lewat kulit ini dikenal sebagai respirasi kutaneus, sebuah mekanisme biologis yang tampak sederhana tapi sangat vital. Melalui kulitnya, katak bisa menyerap oksigen langsung dari air maupun udara lembap di sekitarnya. Proses ini memungkinkan katak bertahan di tempat yang minim oksigen tanpa harus selalu mengandalkan paru-paru. Bahkan dalam situasi ekstrem, kulit katak bisa menjadi alat pernapasan utama. Keunikan ini membuat katak sering dijadikan indikator kesehatan lingkungan oleh para peneliti. Jadi, memahami kulit katak berarti juga memahami keseimbangan alam yang rapuh.
