Comscore Tracker

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!

Produktivitas terdongkrak, nyawa taruhannya

Dimulai sejak 1760 dan berlanjut hingga masa kini, Revolusi Industri mendatangkan perkembangan teknologi dan produksi industri. Penemuan teknologi baru membuat perindustrian berkembang pesat. Selain itu, penduduk desa pun ikut pindah ke kota untuk bekerja di industri dan memulai hidup baru.

Namun, di balik kemajuan ekonomi dan teknologi yang ditunjukkan Revolusi Industri, ada kerugian besar. Dari kerusakan lingkungan hingga tumpukan nyawa yang melayang demi kerja, Revolusi Industri menyisakan sejarah gelap. Inilah beberapa dampak negatif Revolusi Industri bagi peradaban manusia di masanya.

1. Lingkungan yang tak ramah untuk buruh

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!imigran tinggal di rumah petak di Bayard Street, New York City pada 1889, Jacob August Riis (moma.org)

Kota-kota tumbuh di era Revolusi Industri. Namun, lahan untuk perumahan malah berkurang. Sementara penduduk baru terpaksa tinggal di pemukiman kumuh, masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas pindah ke pinggiran kota. Salah satu kasus yang patut disorot saat itu adalah masyarakat Inggris.

Pada 1830-an, pejabat kesehatan pemerintah di Liverpool, Inggris, Dr. William Henry Duncan, memantau kondisi masyarakat saat itu. Beliau menemukan bahwa sepertiga masyarakat tinggal di ruang bawah tanah yang tidak memiliki ventilasi atau sanitasi yang memadai.

Bisa dibayangkan, 16 orang tinggal di satu kamar dan berbagi kamar mandi. Selain itu, minimnya air bersih dan selokan yang meluap akibat limbah industri membuat para pekerja dan keluarganya rentan terhadap penyakit menular nan fatal.

Salah satu penyakit yang paling marak saat itu adalah kolera sejak 1831. Lewat sebuah laporan sanitasi dan kesehatan pekerja pada 1842 oleh Edwin Chadwick, pemerintah Inggris akhirnya mengesahkan Public Health Act pada 1848. Bukan cuma kolera, undang-undang ini juga menjamin kesehatan para pekerja.

2. Malnutrisi merajalela

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!ilustrasi para pekerja Revolusi Industri (pinterest.co.kr)

Bukan cuma sanitasi, pangan para pekerja pun ikut disorot. Melalui studi bertajuk “Moral and Physical Condition of the Working Classes Employed in the Cotton Manufacture in Manchester,” pada 1832, James Phillips Kay, MD., menggambarkan pola makan menyedihkan para buruh bergaji minim di Inggris.

Mereka memulai hari dengan teh/kopi dan sedikit roti. Lalu, makan siangnya adalah kentang rebus yang diberi lemak babi leleh dan mentega (terkadang diberi bakon goreng berlemak). Menutup hari, para buruh meneguk teh yang dicampur dengan alkohol sambil makan roti atau oatmeal atau kentang lagi. Terus ulangi sehari-hari.

Hal ini menyebabkan kekurangan gizi atau malnutrisi di kalangan pekerja. Akibatnya, James menemukan kalau para pekerja sering menderita masalah pencernaan, kehilangan berat badan, dan memiliki kulit pucat dengan rona kuning (yang bisa disebabkan oleh kolesterol berlebih atau kerusakan hati akibat alkohol).

3. Gaya hidup penuh tekanan

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!Para pekerja Revolusi Industri mengisi presensi saat datang ke pabrik. (watchesbysjx.com)

Revolusi Industri menawarkan kesempatan untuk para penduduk desa agar bisa mengubah nasibnya dengan bekerja di kota. Namun, penduduk desa harus beradaptasi dengan perbedaan budaya kerja. Kalau tak tepat waktu, maka gaji bisa dipotong hingga membayar denda.

Asap industri dan padatnya lingkungan kerja membuat para pekerja tidak leluasa bergerak atau bernapas. Berbeda dengan variasi tugas saat bekerja di desa dulu, para pekerja dihadapkan dengan tugas yang repetitif dan tekanan yang makin berat. Lebih parahnya lagi, apresiasi terhadap pekerja pun hampir nihil.

Selesai bekerja, para pekerja hampir tidak bisa memiliki waktu bersenang-senang. Sering kali, pejabat kota melarang festival atau kegiatan yang umumnya bisa mereka nikmati di desa. Oleh karena itu, para pekerja beralih ke minuman keras demi pelarian hidup.

Baca Juga: Masih Jadi Misteri, 10 Kota Ini Ditinggalkan Begitu Saja

4. Lingkungan kerja yang berbahaya

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!ilustrasi para penambang batu bara pada 1871 (wikimedia.org)

Berbeda dengan perusahaan masa kini yang menyoroti kesejahteraan pegawai, pabrik di Revolusi Industri bak medan perang. Jika lengah atau tak konsentrasi, para pekerja bisa kehilangan tangan atau kaki hingga nyawanya saat banting tulang.

Surat kabar The Times sempat melaporkan pada 1830 insiden yang melibatkan buruh pabrik tekstil, Daniel Buckley. Saat itu, tangan Daniel masuk ke mesin carding dan hancur karena mesin terlambat dimatikan. Naasnya, dua minggu dirawat di rumah sakit, Daniel meninggal akibat trauma tersebut.

Selain pabrik, tambang batu bara untuk mesin uap pun tak kalah berbahaya. Dalam buku "Disability in the Industrial Revolution" (2018), seorang penambang bernama James Jackson mengalami luka bakar parah dari ledakan tambang pada 1792. James tetap bisa bekerja 6 minggu kemudian, tetapi harus hidup dengan bekas luka permanen.

5. Pekerja di bawah umur, sampai anak-anak

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!pekerja di bawah umur saat Revolusi Industri (britannica.com)

Sudah umum sebelum Revolusi Industri, faktor pertumbuhan industri dan ekonomi yang cepat menyebabkan para pemuda miskin dan anak yatim piatu dipekerjakan paksa. Di samping jam kerja yang panjang dan kehilangan pendidikan, anak-anak ini juga diperhadapkan dengan bahaya tempat kerja seperti orang dewasa.

Pada 1822, seorang jurnalis bernama John Brown mewawancarai mantan pekerja anak, Robert Blincoe. Hasilnya adalah laporan berjudul "A Memoir of Robert Blincoe, an Orphan Boy" yang terbit 1 dekade kemudian. Saat itu, Blincoe juga bercerita tentang seorang anak perempuan bernama Mary Richards yang tewas mengenaskan, tergilas mesin tekstil.

Di satu sisi, pekerja anak yang berkelanjutan adalah katalisasi produksi industri. Namun, tak terhitungnya nyawa anak-anak yang terhilang di Revolusi Industri dan masa kecil mereka yang berlalu sia-sia membuat eksploitasi ini sebagai salah satu efek paling teruk dari Revolusi Industri.

6. Diskriminasi terhadap perempuan

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!para pekerja perempuan di Revolusi Industri (historycrunch.com)

Ketidaksetaraan gender di tempat kerja sebenarnya bisa dilacak dari Revolusi Industri. Untuk pekerjaan yang sama, para buruh perempuan sering kali dibayar hanya setengah dari yang didapatkan buruh laki-laki. Asumsinya adalah "perempuan bukan tulang punggung keluarga" atau "perempuan hanya menghabiskan uang saja". 

Hal ini terus berlanjut hingga Revolusi Industri ke-2 (akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20). Dianggap memiliki tangan yang gesit dan dapat mengerjakan pekerjaan repetitif, para perempuan harus terus bekerja di posisi yang sama, sementara para laki-laki dipromosikan ke posisi kantoran.

Memang, perempuan bisa kerja di kantor sejak diperkenalkannya mesin tik pada 1874 dan setidaknya pekerjaan kantoran lebih aman daripada di pabrik langsung. Akan tetapi, di kantor pun, perempuan tetap dipandang lebih rendah daripada laki-laki dan hingga saat ini, stigma tersebut pun masih beredar di banyak tempat kerja.

7. Kerusakan lingkungan parah

7 Dampak Buruk dari Revolusi Industri, Gak Manusiawi!ilustrasi polusi udara di masa Revolusi Industri (theconversation.com)

Bisa dibilang, batu bara adalah fondasi kejayaan Revolusi Industri. Cerobong asap industri menjulang tinggi, hal ini menyebabkan polusi udara memenuhi atmosfer Bumi. Menurut Our World in Data, konsentrasi polusi udara naik pesat antara 1760 hingga 1830.

Di abad ke-19, polusi udara amat parah hingga menyebabkan penyakit pernapasan dan kematian. Pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan emisi karbon ke atmosfer. Menurut sebuah studi gabungan AS dan Australia di jurnal Nature pada 2016, perubahan iklim akibat aktivitas manusia dimulai sejak 1830-an.

Itulah beberapa borok dari Revolusi Industri di masanya. Siapa kira, di balik megahnya Revolusi Industri, nyawa para pekerja dan lingkungan ikut dipertaruhkan.

Meski begitu, Revolusi Industri memicu pertumbuhan ekonomi dan menjawab permintaan masyarakat. Selain itu, tersedianya lapangan pekerjaan menawarkan kesempatan untuk hidup lebih baik. Bisa bayangkan dunia ini tanpa Revolusi Industri?

Baca Juga: Kita Beruntung, Ini 9 Alasan Zaman Kegelapan Amat Tragis

Topic:

  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya