Comscore Tracker

Masih Berlangsung, 5 Kasus Genosida yang Belum Selesai

Bagian mengerikannya? Kasus ini masih berlangsung!

"Genosida".

Kata mengerikan tersebut menggambarkan salah satu perbuatan terkeji dan paling biadab yang membuat manusia terlihat seperti binatang yang tidak memiliki akal. Bagaimana tidak? Hanya makhluk tak berakal lah yang mampu menghilangkan nyawa-nyawa sesamanya hanya demi kepuasan atau agenda sendiri.

Saat mendengar "genosida", mungkin kita teringat pada perbuatan Adolf Hitler, pemimpin tertinggi Nazi Jerman yang membasmi sekiranya 6 juta nyawa orang Yahudi di Kamp Konsentrasi. Di dunia beradab masa kini, genosida seharusnya menjadi "artefak" masa lalu. Namun, siapa sangka, lima perbuatan genosida ini masih terjadi hingga detik ini.

1. Myanmar: Pemeluk Islam di Rohingya

Masih Berlangsung, 5 Kasus Genosida yang Belum SelesaiRibuan warga Rohingya terbunuh dan ratusan ribu lainnya terpaksa mengungsi akibat serangan militer Myanmar yang dilancarkan sejak tahun 2017. Instagram.com/adamjdean

Bermula pada 2017, genosida terparah yang masih berlangsung hingga detik ini menyerang etnis Muslim Rohingya yang tinggal di Rakhine, Myanmar. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha, etnis Muslim Rohingya dipersekusi sebagai "imigran dari Bangladesh".

Sebagian besar dari mereka pun bermigrasi ke Bangladesh mencari suaka. Per 2018, Bangladesh melindungi sekitar 1,1 juta penduduk Rohingya, hingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa Bangladesh tidak bisa terlalu banyak menampung etnis Muslim Rohingya.

Bagaimana tidak? Mengutip laporan pada 2018 dari Ontario International Development Agency berjudul "Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience", sekitar 24.800 nyawa Muslim Rohingya melayang sejak 2017. Selain itu, sekitar 35,000 kaum Rohingya dibakar hidup-hidup, 115.000 dianiaya, dan 18.500 kaum Hawa Rohingya diperkosa.

2. Sudan Selatan: Kaum Nuer, Dinka, dan etnis minoritas lainnya

Masih Berlangsung, 5 Kasus Genosida yang Belum Selesairadiotamazuj.org

Sejak berdiri sebagai negara sendiri pada 2011, Sudan Selatan tidak menemukan kedamaian, melainkan perang saudara yang berkecamuk dari 2013. Semua bermula dari Presiden Sudan Selatan dan anggota etnis Dinka, Salva Kiir Mayardit, menuduh wakil presidennya sekaligus anggota etnis Nuer, Riek Machar, ingin melakukan kudeta.

Presiden Kiir kemudian melancarkan aksi "pembersihan etnis" terhadap etnis Nuer. Dilansir oleh Reuters, perang saudara antara Dinka dan Nuer merenggut hingga lebih dari 383.000 nyawa per 2018, berjuta-juta orang terlantar atau kabur ke negara tetangga, dan meluluhlantakkan perekonomian negara muda tersebut. Sekitar 6 juta penduduk Sudan Selatan menderita kelaparan karena perang saudara tersebut.

Untungnya, pada 22 Februari 2020, Presiden Kiir dan Machar menandatangani perjanjian damai dengan Machar kembali menjadi Wakil Presiden Sudan Selatan.

Baca Juga: Gak Nyangka, 9 Tokoh Sukses dalam Sejarah Dunia Ini Termasuk Introvert

3. Irak dan Suriah: Pemeluk Nasrani dan kaum Yazidi

Masih Berlangsung, 5 Kasus Genosida yang Belum Selesaitime.com

Sejak berdiri pada 1999, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) semakin menunjukkan taringnya pada 2014 - 2015 saat Irak dan Suriah terpecah belah oleh peperangan. ISIS kemudian mengincar pemeluk Nasrani dan bahkan pemeluk Islam yang berbeda aliran dengan mereka, seperti Yazidi dan Syiah.

ISIS melancarkan serangan terhadap desa-desa yang menampung pemeluk Nasrani, Yazidi, dan Syiah di Irak dan Suriah, salah satunya adalah daerah Sinjar dan Kegubernuran Ninawa. Meskipun ISIS diklaim sudah kalah, ribuan kaum Yazidi, ribuan kaum Nasrani, dan kaum Syiah tewas dan teraniaya secara jasmani dan rohani karena ulah ISIS.

4. Afrika Tengah: Pemeluk agama Nasrani Anti-Balaka dan Islam Séléka

Masih Berlangsung, 5 Kasus Genosida yang Belum Selesaimedafricatimes.com

Afrika Tengah, daerah yang terletak di antara Sudan Selatan, Republik Kongo, dan Chad, terus menggebu-gebu oleh api perang saudara yang terus membara sejak 2013. Sang mantan presiden dari 2003, François Bozizé, digulingkan oleh Séléka, koalisi pemberontak karena dianggap menyalahi perjanjian gencatan senjata pada 2007.

Pemimpin Séléka, Michel Djotodia, diangkat sebagai presiden Afrika Tengah yang baru pada 2013. Namun, pada 2014, Djotodia mundur dikarenakan tekanan dunia yang menganggapnya gagal mengendalikan Séléka yang terus melancarkan aksi persekusi terhadap kaum non-Muslim.

Meskipun perang saudara tersebut mereda pada tahun 2016, sejak saat itu, ketegangan etnis terus memanas, dan banyak pengamat khawatir terjadi genosida dengan alasan "pembersihan etnis" antara kaum Nasrani dan penganut animisme yang disebut "anti-Balaka" dan Séléka yang mayoritas beragama Islam.

Ribuan nyawa melayang dan ribuan penduduk terlantar karena peperangan antara koalisi anti-Balaka dan Séléka.

5. Sudan Barat: Penduduk wilayah Darfur

Masih Berlangsung, 5 Kasus Genosida yang Belum Selesaienoughproject.org

Pada pertengahan 2000-an, Darfur dianggap sebagai genosida pertama di permulaan abad ke-21 oleh pengamat internasional. Meskipun media tidak memberitakannya lagi, kekejaman yang dilakukan di wilayah Sudan Barat ini terus berjalan.

Pembersihan etnis dimulai pada tahun 2003 ketika kelompok etnis Arab yang didukung oleh Presiden Sudan sejak 1989 hingga 2019, Omar Hassan al-Bashir, mulai membantai etnis non-Arab dan menghancurkan desa-desa yang menampung mereka. Korban utama kampanye ini adalah kaum Fur, Masalit, dan Zaghawa; namun, kelompok minoritas non-Arab juga ikut kena imbasnya.

Pada 2015, Profesor Ilmu Politik University of Wisconsin - Madison, Scott Strauss, menyatakan lewat bukunya, "Making and Unmaking Nations: War, Leadership, and Genocide in Modern Africa", jumlah korban genosida Darfur ada di kisaran 100.000 hingga 400.000 jiwa!

Pada 2016 dan 2017, kekerasan meningkat di Darfur, dan banyak kamp pengungsi penduduk Darfur telah diserang oleh pasukan Arab. Untungnya, pada 2018, PBB menyatakan daerah Darfur sudah berangsur-angsur stabil meskipun gesekan kecil terus terjadi.

Itulah lima kasus genosida yang masih terus berjalan hingga saat ini. Beberapa sudah menemukan titik terang dan terselesaikan, dan sebagian masih menunggu keadilan dari dunia.

Jika genosida terus dibiarkan, apakah arti "kemanusiaan" itu? Menurutmu, apa yang harus dilakukan dunia agar genosida-genosida ini dapat diakhiri? Yuk, diskusi secara bijak dan sopan!

Baca Juga: 5 Masa Tersulit Sepanjang Sejarah, Mari Melihat ke Belakang Sejenak

Topic:

  • Alfonsus Adi Putra
  • Bayu D. Wicaksono

Berita Terkini Lainnya