Comscore Tracker

11 Kontroversi Penghargaan Nobel dalam Sejarahnya

Berawal dari sebutan pedagang kematian

Seperti yang dicatat Live Science, Penghargaan Nobel meliputi sains, sastra, dan perdamaian yang didirikan dan dinamai menurut Alfred Bernhard Nobel, putra seorang penemu senjata dan produsen bahan peledak dinamit.

Sepanjang sejarahnya, Hadiah Nobel pernah mengalami kontroversi dan keputusan yang membingungkan, bahkan latar belakangnya memiliki beberapa kisah yang gelap. Nah,  poin-poin di bawah ini akan membawa kita menyelami lebih dalam beberapa reputasi Penghargaan Nobel yang penuh kontroversi. 

1. Penghargaan Nobel didirikan berkat wasiat Alfred Nobel yang pernah merasa bersalah karena penemuannya

https://www.youtube.com/embed/uSb-e1bB9F4

Seperti yang dijelaskan Live Science, keputusan Alfred Nobel untuk menciptakan Penghargaan Nobel datang dari masalah pribadi Nobel sendiri. Nobel tenar akibat bahan peledak - terutama penemuan terbesarnya yang disebut dinamit. Karena dinamit diambil alih oleh militer dan "meriam dinamit" banyak membunuh ribuan orang dalam konflik, penemuan inovatif Nobel justru mendapatkan reputasi yang buruk dan namanya tak seharum dulu. 

Belum dipastikan apakah secara pribadi Nobel menyetujui militer menggunakan penemuannya, tetapi Nobel adalah seorang pasifis (menentang peperangan). Nobel menciptakan dinamit pada tahun 1888, dan peledaknya itu membunuh adik lelakinya Ludvig. Beberapa surat kabar di seluruh dunia mencetak obituari (berita kematian) Alfred, bukan Ludvig.

Tentu saja hal itu membuat Alfred terkejut. Seolah pers membencinya karena Alfred dianggap mengambil untung dari kematian banyak orang. Sebuah surat kabar Prancis bahkan dengan antusias mencetak berita dengan judul: "Pedagang kematian sudah mati." Merasa bersalah dan putus asa, Nobel menulis surat wasiat yang mengalokasikan sebagian besar kekayaannya untuk mendirikan organisasi Penghargaan Nobel.

2. Hadiah Nobel dan isu seksisme

https://www.youtube.com/embed/Y66GgSSnI8c

Jocelyn Bell Burnell, sebagaimana diberitahukan oleh Encyclopedia Britannica, adalah seorang astronom yang berperan penting dalam penemuan pulsar. Ketika penemuan tersebut dianugerahi Hadiah Nobel untuk Fisika pada tahun 1974, nama Bell Burnell tidak dicantumkan, dan hadiah tersebut malah diberikan kepada dua rekan prianya.

Faktanya, menurut MIT Technology Review, Penghargaan Nobel diwarnai dengan bias gender. Dari 1901 hingga 2018, ada 112 Hadiah Nobel untuk Fisika yang dianugerahkan - dan pemenang wanita hanya Marie Curie (1903), Maria Goeppert Mayer (1963), dan Donna Strickland (2018). Penghargaan wanita untuk ekonomi, kimia, dan kedokteran hampir tidak ada. Pemenang Nobel sains perempuan hanya 21 dari 688. 

Di sinilah timbul pertanyaan, apakah hal ini karena seksisme atau karena hanya sedikit wanita yang pandai dalam sains. Liselotte Jauffred dan timnya di Universitas Kopenhagen telah menganalisis rasio jenis kelamin dari bidang ilmiah yang layak mendapatkan Nobel dan membandingkannya dengan rasio jenis kelamin peraih Nobel, dan ada perbedaan yang jelas. Mereka mencatat, bahwa ini bukan karena panitia Nobel yang mengabaikan kandidat perempuan. Mungkin saja karena "banyak bias dan rintangan" yang dihadapi wanita di bidangnya.

3. Hadiah Nobel dianggap tidak adil bagi penemu di bidang sains era modern

https://www.youtube.com/embed/Z1jurgfMwMM

Hadiah Nobel mungkin menjadi hadiah tertinggi bagi seorang ilmuwan, tetapi seperti yang ditunjukkan oleh Editor Sains Guardian Robin McKie, hadiah tersebut justru tidak sinkron dengan sains yang ada saat ini. Menurut McKie, sains modern tidak memiliki penemu individu yang hebat seperti yang umumnya dilihat oleh para pemenang Nobel. Sebaliknya, penemuan besar saat ini biasanya hasil dari kolaborasi, yang berarti penghargaan ini justru mendorong persaingan.

Hal ini menimbulkan kritik yang cukup keras dari komunitas ilmiah. Seperti yang dikatakan kosmolog Brian Keating: "Hadiah Nobel telah menyimpang jauh dari visi yang dimiliki pendiri mereka, dan hadiah ini perlu diatur ulang. Karena hadiah Nobel hanya menghargai sains versi yang sudah ketinggalan zaman." 

Atlantic setuju dengan sentimen tersebut, dan mencatat bahwa Hadiah Nobel sering menuai kritik atas metode "anakronistik" mereka yang "mendistorsi" hakikat sains dan mengabaikan banyak ilmuwan penting demi kepentingan segelintir orang. Misalnya, Hadiah Nobel Fisika 2017 jatuh ke tangan Rainer Weiss, Kip Thorne, dan Barry Barish dari LIGO (Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory) yang menemukan gelombang gravitasi. Padahal di balik itu, ada ratusan peneliti yang juga berperan penting bagi keberhasilan proyek.

4. Banyak pemenang Nobel yang justru tidak layak mendapatkannya

https://www.youtube.com/embed/I9XarOkBz1Y

Seperti yang diberitahukan CNBC, penghargaan Nobel memiliki daftar pemenang Nobel yang kontroversial dalam sejarahnya. Ada Fritz Haber, pemenang Hadiah Nobel Kimia tahun 1918, yang penemuan besarnya (produksi industri amonia) membuatnya terlihat berjasa, padahal dia orang di balik gas klorin Perang Dunia I. António Egas Moniz, pemenang Nobel fisiologi/kedokteran tahun 1949, menemukan lobotomi, yang tidak dipraktikan lagi saat ini karena dianggap berbahaya. 

Pada tahun 1973, ada Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger, yang mengebom Hanoi ketika dia menegosiasikan gencatan senjata namun dia memenangkan penghargaan Nobel. Pada 1994, Yasser Arafat dari Palestina dan Yitzhak Rabin dan Shimon Peres dari Israel berbagi penghargaan Nobel, hal ini berbanding terbalik dengan kegagalan mereka untuk mengakhiri konflik Israel-Palestina seperti yang dicatat oleh Time, Arafat juga bukanlah pemimpin yang damai dan diplomatis.

Salah satu keputusan penghargaan Nobel yang paling membingungkan adalah Hadiah Perdamaian Presiden Barack Obama pada 2009. Time menulis bahwa panitia Nobel sendiri mengakui bahwa Obama hanya memiliki sedikit pencapaian perdamaian, sebaliknya, penghargaan itu diberikan untuk "upaya" perdamaian. Seperti yang dilaporkan Independent, bahkan mantan presiden Obama sendiri mengaku tidak mengerti mengapa ia mendapatkan penghargaan itu. 

Baca Juga: Tak Mengenal Umur, Ini 6 Peraih Nobel Tertua Sepanjang Sejarah

5. Adolf Hitler dinominasikan penghargaan Nobel perdamaian

11 Kontroversi Penghargaan Nobel dalam Sejarahnyasnopes.com

Adolf Hitler menjadi nominator Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1939. Seperti yang dikatakan Quartz, anggota parlemen Swedia Erik Gottfrid Christian Brandt, menominasikan Führer (Hitler) hanya untuk lelucon. Brandt menulis di surat rekomendasinya, dengan kata "pejuang yang diberikan Tuhan untuk perdamaian" yang akan "menenangkan Eropa, dan mungkin seluruh dunia."

Brandt adalah seorang anti-fasis, ia menominasikan Hitler dengan maksud untuk menyindir Hitler sebagai "musuh perdamaian nomor 1". Sayangnya, sarkasme pada surat nominasi Nobel dianggap sangat tidak pantas. Brandt dicap sebagai seorang fasis, dan rekomendasinya menimbulkan kemarahan. 

Hitler tidak memenangkan hadiah tersebut, meskipun iya, dia akan menolaknya. Diktator itu tidak menyukai Nobel sejak kritikus vokalnya Carl von Ossietzky mengantongi Hadiah Perdamaian pada tahun 1935. Sebagai pembalasan, Führer membuat Hadiah versi Nazi-nya sendiri dan melarang warga negara Jerman menerima Penghargaan Nobel. 

6. Menolak penghargaan Nobel

11 Kontroversi Penghargaan Nobel dalam Sejarahnyaliteratipulp.com

Terlepas dari kontroversinya, Hadiah Nobel adalah salah satu penghargaan paling bergengsi. Namun, bagaimana jika ada dua orang yang tidak mau menerima penghargaan tersebut. Menurut situs web Hadiah Nobel, orang pertama yang menolak Hadiah Nobel adalah Jean-Paul Sartre, yang dengan sopan menolak Hadiah Nobel Sastra tahun 1964. Dia tidak ingin menerima "perbedaan resmi" karena hal ini akan "melembagakan" dan membatasi dampak tulisannya.

Pada tahun 1973, Le Duc Tho Vietnam Utara bergabung dengan Sartre di Klub Penolakan Nobel eksklusif. Seperti yang dikatakan Time, Tho dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian bersama dengan Menteri Luar Negeri AS Henry Kissinger atas upaya mereka dalam mengakhiri Perang Vietnam. Dia tidak ingin menerima Hadiah Perdamaian karena baginya perang masih berkecamuk.

7. Pemenang hadiah Nobel yang formulanya menghancurkan ekonomi 

11 Kontroversi Penghargaan Nobel dalam Sejarahnyalombardiletter.com

Pada tahun 1997, Hadiah Nobel untuk Ilmu Ekonomi jatuh ke tangan Myron Scholes dan Robert Merton, bersama dengan mendiang rekan mereka Fischer Black, yang berhasil menciptakan metode baru untuk menentukan nilai turunan. Seperti yang dilaporkan Guardian, formula praktis ini dianggap menguntungkan investor.

Menurut BBC, formula Black-Scholes dapat memprediksi pasar, memungkinkan investor yang cerdik untuk memperdagangkan derivatif (opsi keuangan rumit yang pada dasarnya bertaruh pada investasi) dengan kecepatan kilat. Persamaan ini dianggap cukup fungsional.

Pada tahun 2007, perdagangan derivatif global mencapai kuadriliun dolar yang absurd, dan bank semakin mengandalkan persamaan tersebut. Namun, mereka tidak tahu kapan harus menghentikannya. Ketika pasar subprime mortgage mulai menunjukkan tanda-tanda keterpurukan pada tahun yang sama, prosesnya berubah dengan sendirinya - perdagangan derivatif tiba-tiba menyedot uang dengan tidak bisa diprediksi. Dan terjadilah keruntuhan pasar keuangan global yang cukup besar, seperti yang dilansir Encyclopedia Britannica.

8. Skandal penghargaan Nobel AstraZeneca 

https://www.youtube.com/embed/kfWdCjbkYKs

Menurut Encyclopedia Britannica, pada tahun 2008, seorang pemenang Nobel untuk Kedokteran bernama Harald zur Hausen memicu kontroversi. Dia seorang ahli virus Jerman yang menemukan hubungan antara human papillomavirus (HPV) dan kanker serviks, ia berbagi hadiah dengan dua ilmuwan lain yang menemukan HIV.

Seperti yang dicatat oleh Scientific American, farmasi terbesar bernama AstraZeneca tertarik pada vaksin HPV, dan farmasi ini pasti akan menghasilkan keuntungan besar jika "ilmuwan HPV" memenangkan Nobel. Seperti yang dilaporkan Science Mag, banyak yang curiga bahwa AstraZeneca ingin mendapatkan uang royalti dengan cara mengiklankan perusahaan di situs web yayasan Nobel dan perusahaan Media Nobel untuk memproduksi konten dan mempromosikan hadiah tersebut. Salah satu anggota dewan AstraZeneca juga menjadi panitia dalam hadiah Nobel zur Hausen.

9. Penghargaan Nobel Sastra 2018 terjerat skandal

https://www.youtube.com/embed/LgFpkaiw5IQ

Seperti yang dilaporkan Guardian, tahun 2018 ada salah satu skandal Akademi Swedia (lembaga yang memberikan Hadiah Nobel Sastra) ketika Jean-Claude Arnault, suami dari anggota akademi Katarina Frostenson, terjerat dalam skandal pelecehan seksual. Tidak kurang dari delapan wanita mengajukan pengaduan terhadap Arnault, yang akhirnya dijatuhi hukuman dua tahun penjara.

Namun, terungkap bahwa akademi telah mendanai sebagian klub yang dijalankan oleh Arnault dan Frostenson, dengan adanya konflik kepentingan. Arnault juga dilaporkan karena membocorkan nama-nama pemenang Nobel sastra sebelum diumumkan. Akademi menjadi kacau balau karena bingung menangani situasi tersebut, dan ketika masalah mulai mereda, tujuh dari 18 anggota akademi - termasuk istri Arnault - memutuskan untuk pergi. Penghargaan Nobel Sastra 2018 dibatalkan, meskipun akhirnya diberikan kepada Olga Tokarczuk.

10. Kontroversi dalam Hadiah Nobel literatur

https://www.youtube.com/embed/8DSMT-QR00c

Tidak cukup dengan skandal penghargaan Nobel 2018 di bidang sastra, penghargaan Nobel Sastra 2019 juga menimbulkan kontroversi. Peter Handke adalah seorang penulis dan tokoh Austria yang "terkenal karena simpati nasionalis Serbia". Pada tahun 1996, ia menciptakan kontroversi dengan dua esai yang ditulisnya menyalahkan media karena menampilkan orang Serbia sebagai pihak yang "jahat" dalam Perang Yugoslavia dan Muslim sebagai orang baik.

Menurut History, Perang Yugoslavia melibatkan insiden yang disebut "Genosida Bosnia," di mana pasukan Serbia menewaskan sekitar 100.000 warga sipil Kroasia dan Muslim Bosnia. Handke bahkan memberikan pidato di pemakaman Presiden Serbia Slobodan Milošević, yang meninggal sebelum persidangannya dapat diselesaikan karena genosida dan kejahatan perang. 

11. Mereka yang pantas memenangkan hadiah Nobel justru tidak pernah menang

https://www.youtube.com/embed/8vPa_H3tAsE

"Peraih Nobel" bisa dibilang adalah kehormatan terbesar yang bisa dianugerahkan untuk seorang ahli fisika, kimia, fisiologi / kedokteran, ilmu ekonomi, sastra, atau perdamaian. Namun, jumlah ini terbatas untuk dibagikan, dan menurut National Geographic, sejumlah orang yang menguasai bidangnya, justru tidak pernah mendapatkan penghargaan Nobel satu pun.

World Wide Web bisa dibilang penemuan paling inovatif di era kita saat ini, tetapi Tim Berners-Lee belum pernah memenangkan Nobel. Ada juga Thomas Edison dan Stephen Hawking. Dan juga terobosan luar biasa seperti tabel periodik, atau penyelesaian genom manusia, atau juga penemuan materi gelap. Mereka semua tidak pernah memenangkan hadiah Nobel. 

Bukan hanya dibidang sains. Mahatma Gandhi juga tidak berhasil meraih Hadiah Nobel untuk Perdamaian meskipun dia dinominasikan sebanyak lima kali, bahkan situs web Hadiah Nobel menyebutnya "pemenang yang hilang". Bahkan, seorang Dalai Lama yang menerima Hadiah Perdamaian pada tahun 1989, secara khusus menyatakan bahwa hadiah itu "merupakan penghormatan untuk mengenang Mahatma Gandhi." 

Tidak selalu berakhir dengan penghormatan dan kebahagiaan, penghargaan Nobel membuktikan bahwa hadiah yang ditunjukkan bagi mereka yang "pantas", seringkali tidak seirama dengan kenyataan yang ada. 

Baca Juga: 6 Fakta Louise Gluck, Penyair Perempuan Peraih Nobel Sastra 2020

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Write to communicate. https://ameliasolekha.blogspot.com/

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Agustin Fatimah

Berita Terkini Lainnya