Comscore Tracker

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkok

Dipenuhi pemberontakan dan tragedi berdarah

Diabad ke-18 dan 19, Tiongkok dipandang orang Eropa karena memiliki Kekaisaran terhebat. Meritokrasi layanan sipil Tiongkok memikat banyak kaum liberal, seni Tiongkok pun dianggap sangat sempurna sehingga motif-motif Asia mulai muncul dalam karya generasi pelukis. Belum lagi istana-istana megahnya. 

Pra-Modern merupakan periode dalam masyarakat yang ada sebelum Modernitas. Alih-alih menjadi tempat yang tenang sebelum tsunami abad ke-20, Tiongkok pra-modern adalah tempat yang bisa dibilang sangat kacau. Jadi, apa saja ya peristiwa dan kekacauan yang pernah terjadi pada masa itu? 

1. Kekuatan Eropa menyelundupkan narkoba ke Tiongkok

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkoknuttyhistory.com

Opium Wars (Perang Candu/Opium) salah satu dari sejarah yang bisa dibilang cukup memalukan. Berlangsung dari tahun 1839-1842 dan terjadi lagi dari 1856-1860, dua Perang Candu itu melibatkan Inggris, dan kemudian Prancis yang mencoba melawan kekuatan Qing Imperial Tiongkok. Pada saat itu, orang-orang Eropa mengaku bahwa mereka sedang memperjuangkan kebenaran terkait hal-hal seperti perdagangan bebas dan melindungi para misionaris. Tetapi alasan sebenarnya jauh lebih buruk, pasalnya Inggris mencoba untuk menyelundupkan narkoba ke Tiongkok. 

Australian Broadcasting Corporation memiliki catatan sejarahnya: Pada abad ke-19, Inggris berada di garis depan dalam perdagangan opium, dan menyelundupkan semua narkotika ke pasar Tiongkok, karena dianggap sebagai bisnis yang menguntungkan. Jadi mereka mulai merekayasa krisis opioid Tiongkok di abad ke-19, namun Qing tidak terima, dan terjadilah perang diantara mereka. Pembantaian yang dialami Qing dalam Perang Opium Pertama sangat parah sehingga memicu Pemberontakan Taiping. Jumlah pecandu narkoba pun meningkat karena hal ini. Pada tahun 1850-an, kecanduan opium meluas di Tiongkok, yang juga mengancam runtuhnya seluruh kekaisaran.

2. Ujian pelayanan sipil Kekaisaran Tiongkok yang berat

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokwsj.com

Pada saat itu, Eropa memasuki masa pemerintahan, sementara di Tiongkok, seseorang yang ingin menjadi pegawai atau pelayanan sipil Kekaisaran Tiongkok, harus benar-benar memiliki kecerdasan yang mumpuni. Namun ujian untuk masuk pelayanan sipil Kekaisaran Tiongkok membutuhkan mental yang kuat, dan banyak orang marah karenanya. Pada seri BBC "In Our Time", digambarkan bahwa tingkat kelulusan untuk menjadi pelayan sipil Kekaisaran Tiongkok peluangnya kurang dari satu persen, dan masa jabatannya pun hanya setahun.

Namun jika berhasil lulus ujian dan menjadi pelayan sipil Kekaisaran Tiongkok, maka orang itu akan dihormati, bahkan hal ini berpengaruh pada reputasi di mana ia tinggal. Tapi ada cerita kelam di baliknya, seluruh warga yang tinggal disatu wilayah dengan si calon peserta, dipaksa untuk menyumbangkan sejumlah uang demi kelancaran salah satu anggotanya untuk mengikuti ujian. Ini menciptakan ketegangan mental yang sangat besar bagi orang-orang yang dipilih. Periode ini dianggap penuh dengan keputusasaan dan depresi. 

Semuanya juga tidak berguna secara impresif. Saat dinasti Qing, Britannica mencatat bahwa ujian tidak lagi didasarkan pada prestasi, tetapi pada siapa yang bisa melafalkan Konfusius dengan sempurna, dan dalam gaya tertentu. Namun itu dihapus ditahun 1905, tepat sebelum seluruh sistem kekaisaran runtuh. 

3. Pengepungan Anqing

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokmystudentvoices.com

Dalam Pemberontakan Taiping, pasokan ke kota Anqing terputus karena dikuasai pemberontak. Setelah pengepungan terjadi dua tahun lamanya, pasukan Qing memaksa masuk. Menurut blog sejarah Universitas Cambridge, Qing menemukan bukti mengejutkan bahwa warga yang kelaparan terpaksa menjadi kanibalisme. Lebih parahnya lagi, catatan mengungkapkan bahwa daging-daging manusia itu diperjual belikan, satu kilogram daging setara dengan 50 pence (atau sekitar 2,2 pound untuk 0,64 sen).

Seperti yang dijelaskan penulis Stephen R. Platt dalam bukunya, Autumn in the Heavenly Kingdom: China, the West, dan Epic Story of Taiping Civil War, Qing mengakhiri pengepungan Anqing dengan menghabisi seluruh batalion yang beranggotakan 8.000 orang, disusul penyerahan diri mereka. Sedangkan untuk warga sipil, menurut Cambridge, lebih dari 10.000 wanita dibawa oleh tentara Qing, dan hanya beberapa anak saja yang selamat. 

4. Hancurnya Dinasti Ming

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokninchanese.com

Di Tiongkok pra-modern, Dinasti Ming memerintah dari tahun 1368 hingga 1644. Menurut ThoughtCo, jatuhnya kekuasaan Ming pada pertengahan abad ke-17, dikarenakan pemerintahan yang lemah hingga terjadinya bencana kelaparan yang membuat para petani memberontak di bawah panji Shun Emperor yang diproklamirkan sendiri.

Kaisar Shun menaklukkan Beijing dalam pemberontakan berdarah itu, membuat Kaisar Ming mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di Taman Kekaisaran daripada harus ditangkap. Alih-alih tunduk pada Dinasti Shun yang baru, seorang jenderal bernama Wu pergi ke utara untuk mengunjungi musuh bebuyutan Ming, yakni Manchu. Dia kemudian berjanji pada Manchu Qing bahwa mereka bisa menguasai Tiongkok selama mereka bisa menghancurkan Shun.

Penaklukan Qing atas Tiongkok merupakan perang berdarah yang mematikan. Business Insider melaporkan bahwa sekitar 25 juta orang diperkirakan meninggal.  Shun dan Ming sudah tewas, sementara Qing berhasil memegang kendali dengan kuat. 

5. Pemberontakan dalam perebutan kekuasaan

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkoksacrificeworldwide.com

Pemberontakan An Lushan salah satu pemberontakan mematikan di era pra-modern Tiongkok. Dinasti Tang, Kekaisaran yang mengawasi zaman keemasan budaya Tiongkok, dimulai pada 618 Masehi, seperti yang dilansir dari History. Pada awal 750-an, kekaisaran ini pernah diperas oleh pasukan musuh. Putus asa karena hal itu, kaisar Tang Xuanzong mengangkat jenderal terbaiknya, seorang lelaki bernama An Lushan. Lushan berhasil mengendalikan Kekaisaran dan berpikir bahwa dia mungkin bisa menjadi kaisar yang lebih baik daripada Xuanzong tua.

ThoughtCo menjelaskan, pada 755, An Lushan memberontak. Dia menguasai kedua ibukota Tang dan menyatakan dirinya sebagai Kaisar Yan. Menurut BBC In Our Time, dia juga membunuh banyak orang. Namun kemenangan An tidak bertahan lama. Pada 761, ia dibunuh oleh putranya sendiri, dan putranya kemudian juga dibunuh, menyebabkan Kekaisaran Yan dalam kekacauan, dan akhirnya Tang mengambil alih kendali dalam perang berdarah itu. Tapi pertarungan itu juga menghancurkan Tang. Pemberontakan melemahkan mereka semua, hingga mereka tidak pernah mendapatkan kembali kekuatan mereka, akhirnya runtuh pada 907.

6. Kelaparan Besar Tiongkok

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokchina-underground.com

Abad ke-20 adalah periode mengerikan di Tiongkok. Antara tahun 1958 dan 1961, kelaparan terburuk dalam sejarah di sana menewaskan antara 36 juta dan 45 juta orang, menurut Guardian. Dikenal sebagai Kelaparan Besar, "Three Years of Difficulties" mungkin merupakan warisan paling menyedihkan dari tahun-tahun Mao. 80 tahun sebelumnya, Kekaisaran Tiongkok terperangkap dalam cengkeraman yang disebut Great Northern Famine.

Kelaparan Besar Tiongkok Utara itu mirip seperti Perang Dunia I: secara keseluruhan kurang mematikan, tetapi masih menunjukkan skala penderitaan yang tidak terlihat dalam sejarah manusia. Semua dimulai pada tahun 1876 ketika kekeringan melumpuhkan provinsi utara. Menurut World Peace Foundation, kelaparan disebabkan oleh periode konflik kolonial dengan Jepang, Inggris dan Rusia, serta berbagai konflik internal, yang menyebabkan pihak berwenang untuk mengalokasikan sumber daya yang langka untuk pembangunan pertahanan pantai daripada bantuan kelaparan.

Baca Juga: Sejarah Munculnya 10 Hantu di Indonesia Ini Bikin Kamu Bergidik Ngeri

7. Kematian seribu luka

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokallthatsinteresting.com

Kematian dengan seribu luka adalah salah satu dari sedikit hal tentang Tiongkok kuno yang dikenal dunia. Pertama kali dipraktikkan pada abad ke-10, praktik hukuman ini mengingatkan kita dengan siksaan abad pertengahan Eropa. 

Kematian seribu luka ini bernama lingchi dan masih terjadi hingga tahun 1905. Buku Pers Harvard University, Death by a Thousand Cuts menjabarkan proses lingchi dalam detail yang lengkap, salah satunya kisah eksekusi Wang Weiqin pada tahun 1904. Ia dihukum karena membunuh 12 anggota keluarga, diarak melalui Beijing, dan diiris sampai mati di pasar. Meski mengerikan, kematiannya bukanlah eksekusi Lingchi terakhir. Seorang pelayan Manchu, Fuzhuli juga mengalami hal yang sama pada 9 April 1905. 

8. Pembangunan Tembok Besar Tiongkok yang menewaskan banyak nyawa

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkoklivingnomads.com

History memperkirakan bahwa pembangunan Tembok Besar Tiongkok menewaskan 400.000 pekerja, lho. Bahkan jasad diantara mereka yang tewas, terkubur di sana. Pada 221 SM, saat dinding pertama kali ingin dibangun, tidak ada tenaga kerja cadangan yang dibutuhkan untuk membangun tembok sejauh 3.000 mil itu. Jadi Kaisar Qin memaksa orang awam untuk menjadi pekerja konstruksi.

Wartawan BBC In Our Time menggambarkan bagaimana para petani dibawa dari seluruh Tiongkok, dipaksa bekerja untuk membangun dinding besar itu. Puisi-puisi Tiongkok kontemporer mencatat bawah pembangunan tembok besar itu bukanlah suatu kemenangan, tapi lebih sebagai tragedi nasional yang setara dengan kelaparan besar atau perang.

9. Pemberontak Taiping yang penuh kekejaman

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokpatheos.com

Setelah berhasil menguasai Nanjing pada 1853, pemberontak Taiping mendeklarasikan negara baru yang disebut Kerajaan Surgawi. Yang bertujuan untuk membangun masyarakat di Tiongkok berdasarkan interpretasi terhadap Alkitab. Akibatnya, hubungan seksual dilarang antara pria dan wanita, bahkan jika mereka sudah menikah sekalipun.

Hong Xiuquan dan anggota kepemimpinan lainnya dalam pemerintahan otokratisnya sering memutuskan kebijakan dalam trans agama, yang digunakan untuk membenarkan semua jenis kekejaman. Tetapi yang terburuk terjadi pada musim gugur Nanjing pada tahun 1864. Dihadapkan dengan pasukan Qing, Taiping melakukan bunuh diri massal, membakar diri mereka sendiri, seperti yang dikutip dari History. Ketika Qing memasuki kota, mereka membunuh semua yang selamat. Dan sekitar 100.000 orang meninggal dalam tiga hari. 

10. Aturan yang berlebihan

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokthehistoryofthehairsworld.com

Setelah Dinasti Qing menaklukkan Ming pada abad ke-17, mereka memaksakan beberapa aturan yang dianggap aneh pada etnis Han. Parahnya lagi, yang melanggar peraturan ini, hukumannya adalah kematian. Wanita harus mengenakan pakaian yang menunjukkan peringkat sosial suami mereka, seperti yang diungkapkan Smithsonian. 

Menurut China Heritage Quarterly, aturan paling ikonik yang ditegakkan Qing adalah rambut pria yang harus dikepang panjang. Jika seorang pria memotongnya, ia bisa dieksekusi di tempat. Salah satu alasan mengapa angka kematian dalam Pemberontakan Taiping begitu tinggi karena pasukan Qing menganggap seseorang yang tidak mematuhi aturan juga dianggap sebagai pemberontak. 

11. Yellow Turbans

11 Peristiwa Berdarah yang Pernah Terjadi Selama Pra-Modern Tiongkokpinterest.com

Pada tahun 184 Masehi, selama abad terakhir dari Dinasti Han Timur, ada rumor yang beredar bahwa sekelompok kasim istana menghancurkan kekaisaran. Jadi, sekte Taoisme terbentuk karena pemberontakan selama dua puluh tahun, dan akhirnya berhasil melumpuhkan Dinasti Han. ThoughtCo menjelaskan bahwa Kelompok yang bangkit di bawah pemimpin Tao Zhang Jue ini dikenal sebagai Yellow Turbans.

Yellow Turbans ini membentuk pasukan bersenjata, dan mulai menyerang serta memusnahkan seluruh kota. Han pun mengeksekusi setiap warga sipil, dan meluncurkan serangan balik yang gagal menghentikan pemberontak. Meskipun Zhang dan para pemimpin lainnya meninggal pada tahun pertama, Yellow Turbans tetap memiliki kekuatan penuh sehingga Han terpaksa mempersenjatai panglima perang. Namun sayangnya, panglima perang itu membalas balik dan menghancurkan Tiongkok, melenyapkan Han dan menjerumuskan Tiongkok ke dalam perang Tiga Kerajaannya. Akibatnya, perang itu juga menewaskan puluhan juta orang. 

Tidak seperti apa yang kita lihat hari ini, ternyata Tiongkok memiliki masa lalu yang kelam. Kekaisarannya yang kuat justru diwarnai pemberontakan yang tiada hentinya. Semoga ini menjadi pelajaran bagi semua. 

Baca Juga: 35 Foto Sejarah Dari Orang Terkenal Ini Nggak Boleh Kamu Lewatkan!

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Killing my time with arts, literature, phraseology, visualization, and manipulate. https://ameliasolekha.blogspot.com/

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Siantita Novaya

Just For You