Comscore Tracker

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph Stalin

Pembersihan etnis dan kaum minoritas yang tertindas

Aardakh, atau genosida orang Chechnya dan orang Ingush, adalah salah satu dari banyak deportasi paksa yang dilakukan Uni Soviet terhadap etnis minoritas dan penduduk asli. Sebagian besar deportasi hanya memakan waktu beberapa minggu, mereka dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka pada tahun 1944.

NKVD bahkan mengundang orang-orang Chechnya dan Ingush untuk bergabung dalam perayaan. Tapi bukannya perayaan, mereka disambut dengan senjata dan diperintahkan ke pengasingan. Mereka yang berperang melawan tentara Hitler juga ditangkap dan diasingkan secara paksa.

Ribuan tewas selama pengusiran awal dan ribuan lainnya meninggal selama tahun-tahun mereka di pengasingan. Mereka yang melawan juga akan dikirim ke kamp-kamp penjara dan dilarang membicarakan deportasi massal. Selama waktu ini, rezim Stalinis juga terlibat dalam genosida budaya karena menghancurkan bukti apapun dari orang-orang Chechnya dan Ingush di Kaukasus Utara. Pengasingan paksa secara resmi berlangsung selama 13 tahun, tetapi pada tahun 2021, beberapa masih tidak dapat kembali ke tanah air mereka. Inilah fakta tragis tentang deportasi Aardakh oleh Joseph Stalin.

1. 'Pembersihan' Stalin

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinJoseph Stalin dan Sergei Kirov (starlogic.ca)

Pada tahun 1934, pembunuhan Sergei Kirov dijadikan sebagai alasan oleh Joseph Stalin untuk melancarkan kampanye penindasan di seluruh Uni Soviet yang dikenal sebagai Pembersihan Besar, atau Teror Besar. Teror Besar berlangsung hingga 1939. Selama itu NKVD dan rezim Stalinis membunuh, memenjarakan, dan mendeportasi jutaan orang secara paksa. Dilansir laman The Conversation, Stalin termotivasi karena paranoid akan potensi kontra-revolusi.

Menurut Soviet Repression Statistics, perkiraan dari jumlah kematian akibat penindasan pada tahun 1937—38 adalah kisaran 950.000—1,2 juta jiwa. Beberapa orang dieksekusi langsung, sementara yang lain tewas di Gulag.

Operasi ini menargetkan mantan kulak, petani pemilik tanah yang dilikuidasi sebagai kelas sosial pada awal 1930-an, serta pejabat pemerintah dan anggota Tentara Merah. Menurut Michigan State University, Teror Besar diselingi oleh tiga persidangan dari mantan Komunis berpangkat tinggi. Pada tahun 1937, Teror Besar telah diperluas untuk mencakup penjahat residivis, mantan kulak, dan 'elemen anti-Soviet' lainnya.

2. Menargetkan etnis minoritas

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinEtnis Kulak diusir dari rumah mereka dengan paksa. (ukrainiangenocidewhap.weebly.com)

Rezim Stalinis sangat tidak mempercayai etnis minoritas. Selama likuidasi kulak, Ukraina menjadi sasaran dan kira-kira 1/5 dari semua hukuman mati yang tercatat terjadi di Soviet Ukraina, dan angka ini tidak termasuk penduduk asli Ukraina yang ditembak di Gulag, tulis Timothy Snyder di buku Bloodlands.

Siapa pun yang memiliki hubungan dengan negara asing, bahkan jika ia bagian dari diaspora yang telah tinggal di Kekaisaran Rusia selama berabad-abad, serta dianggap tidak setia, mereka akan ditangkap ataupun dieksekusi, lapor SciencesPo. Akibatnya, orang Estonia, Finlandia, Jerman, Iran, Korea, Kurdi, Latvia, dan Polandia menjadi sasaran pembersihan etnis, meskipun ini bukan daftar yang lengkap.

Ini bukan pertama kalinya otoritas Soviet menargetkan etnis minoritas. Sepanjang tahun 1935 sampai 1936, banyak deportasi di daerah perbatasan. Namun, operasi ini tidak semata-mata berkaitan dengan etnisitas. Misalnya, pada tahun 1935, ketika beberapa etnis Rusia yang pernah bekerja di perkeretaapian China-Manchuria kembali ke Uni Soviet, lintas batas dengan Kharbintsy [pekerja kereta api] yang tersisa di China mengubah mereka menjadi berkebangsaan diaspora, terlepas dari kenyataan bahwa mereka sama sekali bukan bagian dari diaspora.

3. Menuduh banyak kaum minoritas

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph Stalinilustrasi pengusiran massal (renegadetribune.com)

Pada akhir Perang Dunia Kedua, rezim Stalinisme kembali menargetkan etnis minoritasnya, kali ini menuduh bahwa mereka terlibat dalam pengkhianatan. Pada tahun 1943 dan 1944, Stalinis mulai mendeportasi seluruh penduduk Tatar Krimea, Kalmyk, Chechnya, Ingush, Balkar, Karachai, dan Turki Messkhetian ke Asia Tengah. Mereka dituduh bekerja sama dengan fasis, meskipun faktanya garis depan Jerman tidak pernah sampai ke Chechnya, lapor The Jamestown Foundation.

Deportasi tahun 1940-an berbeda dari deportasi sebelumnya di mana seluruh kebangsaan dan kelompok etnis dianggap 'orang-orang yang dihukum'. Setiap anggota kelompok etnis yang 'dihukum' menjadi sasaran berbagai diskriminasi, mulai dari deportasi hingga kerja paksa; semua struktur administrasi dihapuskan di daerah-daerah yang 'dihukum' dan republik-republik otonom.

Dalam The Origins of Soviet Ethnic Cleansing, Terry Martin menulis bahwa deportasi paksa terhadap etnis minoritas berlanjut dari tahun 1944 hingga 1953 ketika orang-orang Armenia, Yunani, Bulgaria, dan Khmshil juga dideportasi. Selain itu, Stalin merencanakan deportasi ke Siberia dari seluruh populasi Yahudi Soviet pada bulan-bulan sebelum kematiannya.

Baca Juga: 7 Fakta di Balik Kematian Joseph Stalin, Diracun atau Kena Stroke?

4. Siapa sebenernya orang Chechnya dan Ingush? 

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph Stalinmasyarakat Kaukasus Utara abad ke-19 (Wikipedia Image)

Chechnya dan Ingush adalah bagian dari masyarakat adat Kaukasus Utara yang dikenal sebagai masyarakat Vainakh. Mereka adalah dua kelompok etnis yang berbeda, meskipun memiliki kesamaan bahasa dan menganut Islam, tetapi budaya agama mereka berbeda. Mengutip laman Minority Rights, di bawah pemerintahan Soviet, oblast otonom Ingush dan Chechnya digabung menjadi satu pada Januari 1934. Tiga tahun kemudian, oblast itu menjadi ASSR [Republik Sosialis Soviet Otonom]. Namun, selama deportasi paksa, ASSR Chechen-Ingush dibubarkan. 

Dalam The Vainakhs, George Anchabadze menulis bahwa orang-orang Chechnya dan Ingush mengalami ketidakmanusiawian dari rezim Bolshevist. Sejak tahun-tahun pertama Sovietisasi, para pejabat Cheka (Komite Khusus) mulai menyingkirkan kaum intelektual dan imam lama, dan mereka yang tidak dapat diandalkan oleh pemerintah.

Selama Perang Dunia II, 40.000 orang Chechnya dan Ingush berperang melawan Hitler di front Soviet-Jerman bersama ribuan tentara Soviet lainnya. Namun, mereka masih dianggap berkhianat setelah mereka selesai berperang, rezim Stalinis juga mendeportasi mereka.

5. Operasi Lentil

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinMereka yang diasingkan diangkut dengan gerbong kereta. (someinterestingfacts.net)

Pada tanggal 20 Februari 1944, Lavrentiy Beria, kepala NKVD, memimpin 120.000 pasukan khusus ke Grozny untuk melakukan pemindahan paksa, yang dikenal sebagai ечевица (Chechevitsa), atau Operasi Lentil. Tiga hari kemudian, laki-laki Chechnya dan Ingush dari setiap desa diundang untuk ambil bagian dalam perayaan Hari Tentara Merah. Tetapi ketika mereka sampai di sana, mereka dikelilingi oleh tentara yang membacakan dekrit untuk pengusiran mereka. Mereka diberi waktu kurang dari satu jam untuk membawa apa yang mereka butuhkan, setiap keluarga diizinkan membawa sekitar 20 kg barang, lalu dipindahkan secara paksa ke stasiun kereta api untuk dibawa ke pengasingan.

Pemindahan paksa Chechnya dan Ingush berlangsung hingga bulan Maret. Dalam seminggu, hampir 500.000 orang telah diusir. Beberapa dibawa ke Kazakhstan atau Republik Asia Tengah lainnya, sementara yang lain dikirim ke timur ke Siberia dengan truk ternak atau gerbong barang.

Siapa pun yang tidak mau dipindahkan akan dibunuh. Mereka yang mencoba bersembunyi dibunuh juga dan ditangkap atau diasingkan. Operasi ini juga tidak terbatas pada mereka yang tinggal di Kaukasus. Orang-orang Chechnya yang tinggal di wilayah lain juga diharuskan pindah.

6. Pembantaian Khaibakh

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph Stalinilustrasi pembantaian Khaibakh (oezda-qam.fr)

Pada tanggal 27 Februari 1944, tentara NKVD mengalami kesulitan untuk memindahkan penduduk desa Khaibakh, di Distrik Galanchozh Chechnya, karena banyak dari mereka adalah lansia. Mereka akhirnya membawa 700 penduduk desa, termasuk orang tua, wanita, dan anak-anak, ke dalam lumbung dan membakar mereka hidup-hidup. Dalam The Gardening States, Duco Heijs menulis bahwa tentara menembaki mereka yang mencoba melarikan diri. 

Dikenal sebagai Pembantaian Khaybakh, atau juga dieja Khaibakh, setelah itu pasukan Stalinis juga tidak membersihkan mayat-mayat setelah pembantaian tersebut. Mengutip laman Historical Dictionary of the Chechen Conflict, Lavrentiy Beria mempromosikan Kolonel Gveshiani, perwira NKVD yang bertanggung jawab atas pembantaian Khaibakh. Tetapi laporan tentang pembantaian itu "ditutupi."

Seperti yang ditulis Remembrance and Forgiveness, sebuah film Chechnya dilarang pada tahun 2014 karena menggambarkan pembantaian dan deportasi tahun 1944. Film tersebut dianggap dapat memicu ketegangan antar-etnis, dan Kementerian Kebudayaan Rusia berpendapat bahwa tidak ada bukti pembunuhan massal. 

Baca Juga: 6 Fakta Tentang Holodomor, Genosida yang Dilakukan oleh Uni Soviet

7. Diasingkan ke Siberia Timur dan Asia Tengah

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinDeportasi ratusan ribu orang Ukraina ke Siberia dan Kazakhstan pada Oktober 1947. (euromaidanpress.com)

Sebagian besar orang Chechnya dan Ingush dibawa dengan gerbong kereta biasa untuk dibawa ke Kazakhstan dan Kirgistan, sementara yang lain dibawa ke Siberia Timur dalam perjalanan yang berlangsung selama 20—30 hari. Mereka yang pernah melawan Jerman di garis depan, didemobilisasi dan dikirim ke kamp kerja paksa sebelum akhirnya bergabung dengan rekan-rekan mereka yang dideportasi di pengasingan pada akhir tahun 1944.

Pengusiran orang-orang dari daerah dataran tinggi melibatkan kekejaman. Penduduk dari banyak desa dipaksa untuk berbaris dan berjalan di salju. Orang tua dan orang yang sakit ditembak di tempat atau ditebas bayonet. Orang-orang yang membantu mereka langsung dibunuh oleh tembakan senapan mesin.

Begitu orang-orang Chechnya dan Ingush dideportasi secara paksa, orang-orang Ukraina, Rusia, dan penduduk Kaukasus Utara lainnya pindah ke rumah-rumah kosong. Rezim Stalinis menghancurkan bukti budaya Chechnya dan Ingush. Batu nisan dihancurkan, manuskrip kuno dibakar, dan menara-menara berusia berabad-abad juga dirobohkan. 

8. Pengasingan 13 tahun

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph Stalinbarak tempat orang-orang yang dideportasi (State Historical Museum of South Ural)

Sekitar 13 tahun kemudian, orang Chechnya dan Ingush terpaksa tinggal di desa pengasingan mereka. Meski secara fisik tidak tertutup kawat berduri, namun pergerakan mereka tetap terpantau. Mereka tidak diizinkan pergi lebih dari tiga mil dari kamp, dan setiap bulan atau bahkan setiap 15 hari, mereka harus mendaftar ke kantor NKVD setempat (spetskomandatur). 

BBC menulis bahwa beberapa orang Ingush terpaksa tinggal dengan orang setempat yang tidak terlalu senang dengan situasi tersebut dan tidak mau berkomunikasi dengan mereka. Dilansir laman Irish Times, rupanya, penduduk setempat telah diberitahu bahwa mereka adalah 'pemberontak'.

NKVD juga memaksa orang-orang Chechnya dan Ingush untuk bekerja di pabrik-pabrik, mereka menerima upah yang tidak layak untuk kerja keras mereka. Sementara itu, anak-anak dikirim ke sekolah dasar Rusia dan juga dilarang menggunakan bahasa mereka sendiri. Beberapa dari mereka menolak untuk mematuhi, setidaknya 4.000 akhirnya dikirim ke kamp-kamp penjara di Krasnoyarsk. 

9. Berapa perkiraan jumlah kematian? 

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinMonumen orang Ingush dan Chechnya yang tewas selama deportasi ke Kazakhstan dan Asia Tengah. Didirikan di Nazran pada tahun 1997. (euromaidanpress.com)

Sangat sulit untuk mengetahui berapa banyak orang yang meninggal selama deportasi paksa dan pengasingan ini. OC Media memperkirakan bahwa sepertiga dari orang yang dideportasi meninggal selama perjalanan atau pada tahun-tahun pertama kehidupan di pengasingan. Human Rights Watch melaporkan bahwa sekitar 24,7 persen orang Kaukasia yang dideportasi (termasuk Karachays, Balkars, Chechnya, dan Ingush) meninggal selama lima tahun pertama.

Berdasarkan laporan NKVD, diperkirakan antara 14,6 persen dan 23,7 persen orang yang dideportasi secara paksa meninggal selama tiga tahun pertama. Angka kasar ini, tidak termasuk dengan mereka yang meninggal selama pengusiran awal dan perjalanan. Selama beberapa bulan pertama, puluhan ribu orang meninggal karena kelaparan.

Selama beberapa tahun pertama, ribuan orang tewas karena penyakit, kekurangan gizi, kekurangan pasokan dasar (seperti pakaian atau alas kaki) dan tidak adanya perawatan medis. Tetapi karena orang-orang Chechnya dan Ingush dikecualikan dari sensus penduduk selama tahun-tahun pengasingan mereka. Akibatnya, perkiraan 125.000 kemungkinan adalah angka terendah. Laporan NKVD juga memperkirakan bahwa 30 persen orang meninggal antara tahun 1944 hingga 1952. Sejarawan Chechnya mengklaim angka kematian mendekati 50 persen, meskipun perkiraan ini berdasarkan kesan dan kesaksian, bukan sensus atau studi.

Baca Juga: Menginspirasi, 12 Tokoh Terkenal yang Berhasil Selamat dari Holocaust

10. Sejarahnya ditulis ulang dengan perspektif yang berbeda

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinRusia larang film tentang deportasi Stalin terhadap Chechnya (Reuters)

Setelah deportasi, sejarah Soviet ditulis ulang. Orang-orang Chechnya digambarkan sebagai 'pengkhianat', 'bandit yang haus darah dan pembangkang'. Secara historis, orang-orang Chechnya dan Ingush menentang pemerintahan kolonial Rusia, jadi sangat mudah bagi rezim Stalinis untuk memainkan stereotip dan propaganda yang sudah ada.

Tokoh sejarah juga ditulis ulang. Menurut A Revolt of Social Memory, Imam Shamil, yang diperlakukan sebagai simbol perjuangan melawan rezim tsar selama tahun 1920-an dan 1930-an, tiba-tiba digambarkan sebagai pengkhianat dan mata-mata Anglo-Turki. Namanya juga dilarang. 

Otoritas lokal ASSR Chechnya-Ingush juga memainkan peran tidak langsung sebelum dan selama deportasi. Selama tahun 1930-an, mereka membesar-besarkan perlawanan orang-orang Chechnya terhadap Sovietisasi dan kolektivisasi. Pihak berwenang setempat juga memuji orang-orang Chechnya karena memerangi Jerman, tetapi menuduh mereka bekerja sama dengan Jerman. 

11. Kembalinya dari pengasingan

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph Stalinpondok para pemukim yang kembali setelah dideportasi (Archive Photo)

Pada tahun 1957, Perdana Menteri Nikita Khrushchev mengeluarkan dekrit yang mengizinkan orang-orang yang dideportasi untuk kembali ke tanah air mereka. Namun, baru terwujud pada tahun 1989. Keputusan ini membuka jalan bagi para penyintas untuk mendapatkan kompensasi. Tetapi keputusan ini tidak dapat menghapus stigmatisasi atau trauma yang dihadapi penyintas.

Mereka yang kembali ke wilayah mereka juga harus membeli rumah karena tempat tinggal mereka ditempati orang lain. Banyak dari penjajah berbahasa Rusia juga memprotes kembalinya penduduk asli dan ada beberapa kerusuhan di Grozny. Prasangka terhadap orang-orang Chechnya dan Ingush juga tetap berlanjut, mereka dipandang sebagai pengkhianat.

Pada tahun 1991, pemerintah Yeltsin mengesahkan Undang-Undang tentang Rehabilitasi Masyarakat Tertindas. Namun menurut International Crisis Group, undang-undang tersebut tidak dapat memastikan bahwa pemindahan wilayah akan berjalan lancar. Pada tahun 2021, orang Chechnya dan Ingush masih belum dapat kembali ke rumah dan desa mereka di Distrik Aukh di Dagestan.

12. Nasib para penyintas deportasi saat ini

12 Fakta Aardakh, Pengusiran Selama Perang Dunia II oleh Joseph StalinIsopropil Chaniyev (lahir 1940), yang tinggal di dekat kompleks menara arsitektur bersejarah Pyaling di Distrik Dzheirakh Republik Ingushetia. (Said Tsarnaev/RIA Novosti)

Pada saat deportasi dan sesudahnya, banyak saksi dilarang berbicara tentang deportasi tersebut. Pembungkaman ini secara langsung mempengaruhi orang-orang yang dideportasi. Orang-orang Chechnya tidak memiliki hak untuk berbicara secara terbuka tentang pengasingan paksa yang mereka alami, atau bahkan menulis kesaksian tentang pengalaman traumatis mereka.

UNPO menulis bahwa pada tahun 2004, Parlemen Eropa secara resmi mengakui Aardakh, genosida rakyat Chechnya. Sementara itu, undang-undang tahun 1991 mengakui bahwa tindakan Soviet terhadap negara-negara tertentu dianggap sebagai pencemaran nama baik dan genosida. Meskipun banyak kesaksian tentang Pembantaian Khaybakh, pemerintah Rusia menolak untuk mengakui bahwa itu pernah terjadi.

Setelah jatuhnya Uni Soviet, gerakan separatis di Chechnya mulai berjuang untuk nasib mereka sendiri, yang ditekan oleh Federasi Rusia selama dua perang, tulis DW. Pada tahun 2000, setelah Vladimir Putin berkuasa, ia menyatakan Chechnya berada di bawah kekuasaan Rusia, tiga tahun kemudian, Chechnya secara resmi diserap ke dalam Federasi Rusia dengan "pemerintah boneka". Pada 2021, Chechnya tetap menjadi lokasi pelanggaran hak asasi manusia yang sering terjadi, dari segala bentuk perbedaan pendapat dan kritik.

Itulah dua belas fakta sejarah tentang deportasi Aardakh pada masa pemerintahan Joseph Stalin. Semoga menambah wawasanmu tentang sejarah Rusia, ya! 

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Write to communicate. https://ameliasolekha.blogspot.com/

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Kalyana Dhisty

Berita Terkini Lainnya