Comscore Tracker

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)

Hal ini terkait fakta arkeologi dan sejarah Mesir kuno

The Mummy tahun 1999 adalah film petualangan yang dibintangi Brendan Fraser, dan Rachel Weisz. Mereka berperan sebagai pustakawan yang ahli dalam sejarah Mesir Kuno. Sinematografi yang indah, kostum yang mengagumkan, replika artefak, dan situs Mesir yang menakjubkan melengkapi petualangan ini.

Film ini mencampurkan kisah horor, romansa, dan kutukan Mesir. Akan tetapi, arkeologi dalam The Mummy tidak realistis. Apakah yang dilakukan para arkeolog dalam film tersebut akurat dengan aslinya? Apakah jalan cerita dalam film ini sesuai dengan sejarah yang ada? Yuk, kita cari tahu!

1. Menerjemahkan hieroglif Mesir tidak semudah kelihatannya 

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)cuplikan adegan Evelyn Carnahan membaca hieroglif (dok. Universal Pictures/The Mummy)

Dalam The Mummy, karakter Evelyn Carnahan yang diperankan Rachel Weisz, sangat pandai dalam menerjemahkan hieroglif Mesir, padahal dia hanyalah seorang pustakawan. Kenyataannya, tidak sesederhana itu. Bahasa Mesir kuno bukanlah bahasa informal yang bisa dipelajari oleh sembarang orang.

Arkeologi memiliki banyak subdisiplin yang berbeda, termasuk arkeolog prasejarah dan bawah air, ungkap National Geographic. Ahli paleopatologi mempelajari sejarah penyakit, dan arkeolog bersejarah mempelajari era setelah penemuan tulisan dan pencatatan. Jadi, tidak semua arkeolog dapat membaca hieroglif, apalagi hanya seorang pustakawan.

Para cendekiawan pertama kali mulai menerjemahkan hieroglif dengan mengandalkan Batu Rosetta pada tahun 1799 di Prancis. Mereka melakukan ini dengan mempelajari sebuah dekrit yang ditulis oleh Ptolemy V, seorang firaun Mesir era Helenistik. Ditulis dalam bahasa Yunani, Demotik, dan hieroglif, para sarjana akhirnya dapat memecahkan kode tersebut dengan membandingkan simbol-simbol yang tidak diketahui dalam bahasa Yunani dan Demotik, tulis laman British Museum.

2. Warna khaki bukanlah pakaian resmi arkeolog

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)cuplikan adegan Rick O'Connell (dok. Universal Pictures/The Mummy)

Dari Indiana Jones hingga Rick O'Connell, penggambaran para arkeolog di layar lebar sering kali terlihat sangat mirip, terutama pakaian berwarna khaki yang digunakan. 

Melansir laman Warfare History Network, orang pertama yang mengenakan pakaian berwarna khaki adalah anggota militer Kerajaan Inggris yang bertugas di India pada tahun 1840-an. Awalnya, mereka mengenakan pakaian khas Inggris berwarna merah yang terbuat dari wol, tetapi pakaian ini tidak cocok di iklim tropis.

Khaki digunakan kembali selama Perang Dunia II oleh Angkatan Darat AS. Pada dekade berikutnya, pakaian berwarna khaki ini menjadi mode kaum laki-laki. Kata khaki berasal dari bahasa Urdu yang berarti 'berwarna debu.'

3. Arkeolog bukan pemburu harta karun seperti yang digambarkan dalam film

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)penggalian arkeologi di pemukiman Samosdelsky, artefak dari periode invasi Mongol-Tatar (commons.wikimedia.org/SergeyZabelinASU)

Teknik penelitian yang biasa digunakan oleh para arkeolog adalah penelitian kearsipan. Mereka akan memeriksa sumber-sumber sejarah, yang mencakup peta, foto, laporan tertulis, catatan pajak, dan banyak lagi. Beberapa arkeolog juga mengeksplorasi sejarah lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Jadi, banyak sekali pekerjaan dasar yang harus dilakukan sebelum para arkeolog terjun ke lapangan, sebagaimana yang dijelaskan American Museum of Natural History. Kerja lapangannya juga sangat jauh dari aktivitas penuh drama yang digambarkan dalam film Hollywood. Alih-alih bergulat dengan mumi dan menghindari malapetaka, para arkeolog sungguhan justru hanya berlutut menggores lapisan tipis sedimen sebelum menyaringnya untuk mencari artefak.

4. Penghancuran artefak dan situs arkeologi adalah kesalahan yang sangat fatal

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)penggalian situs arkeologi (commons.wikimedia.org/Saadnanoderhuner)

Terlihat Banyak sekali miniatur artefak dan situs arkeologi yang dihancurkan dalam film The Mummy. Faktanya, arkeologi melakukan penggalian yang sangat lambat, mencatat, serta melakukan laporan yang konstan menggunakan foto, sketsa, dan jurnal.

Selain itu, ada berbagai alat yang digunakan, seperti sekop, saringan, sikat gigi, pengki, dan pita pengukur. Beberapa arkeolog juga mempelajari hal-hal berteknologi tinggi seperti Scanning Electron Microscopes, radar penembus tanah, dan drone untuk membantu meminimalkan kerusakan di situs tertentu dan memperoleh informasi sebanyak mungkin.

Para arkeolog juga sangat berhati-hati dalam menggali situs. Mereka menggunakan jurnal dan foto untuk mendokumentasikan setiap aspek penggalian, termasuk lokasi dalam sistem grid dan keselarasan dalam strata geologi tertentu. Dan semua ini tidak digambarkan dalam film The Mummy.

5. Kesalahan kronologi dalam sejarah Mesir kuno di film The Mummy

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)cuplikan adegan Imhotep (dok. Universal Pictures/The Mummy)

The Mummy menampilkan karakter Imhotep. Tokoh sejarah yang mengilhami karakter Imhotep yang hidup pada akhir 2600-an SM, lapor BBC. Namun, sosok laki-laki ini bukanlah seorang pendeta yang berselingkuh dengan istri firaun dan berakhir dengan menjadi mumi yang membalas dendam.

Dalam sejarahnya, ia lahir dari latar belakang keluarga miskin yang berhasil naik ke puncak kekuasaan Mesir sebagai tangan kanan Firaun Djoser. Djoser bahkan mempercayakannya untuk membangun makam piramid berundaknya. Warisan Imhotep bertahan karena generasi Mesir, khususnya juru tulis, yang menghormatinya karena tekad dan kebijaksanaannya.

Namun, dalam The Mummy, Imhotep mengakui Yahudi sebagai 'budak' dan menyebut Sepuluh Tulah dari Kitab Keluaran dalam Alkitab. Akan tetapi, sebagian besar ahli memperkirakan bahwa kisah Keluaran tentang orang-orang Yahudi yang meninggalkan Mesir ada sekitar tahun 1440 SM, lama setelah Imhotep yang asli hidup, seperti yang dilaporkan oleh Britannica.

6. Jantung tidak dikeluarkan selama proses mumifikasi

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)mumi di Royal Ontario Museum, Queens Park, Toronto, Canada (unsplash.com/Narciso Arellano)

Sepanjang film, Evelyn Carnahan berperan sebagai ahli Mesir Kuno. Terlepas dari kemampuannya yang luar biasa dengan menerjemahkan hieroglif secara real time, dia justru melakukan kesalahan saat menjelaskan bagaimana proses mumifikasi bekerja. Imam yang terlibat dalam mumifikasi mengeluarkan semua organ selama proses tersebut, salah satunya jantung.

Faktanya, proses mumifikasi dimulai dengan pengangkatan otak. Para Pendeta akan mengeluarkan organ seperti perut, usus, hati, dan paru-paru, tetapi jantung tidak. Mengapa? Karena orang Mesir menganggap jantung sebagai pusat emosi dan kebijaksanaan, esensi sejati dari manusia. Lalu, mayat akan diisi dengan natron (garam alami) sebelum merendam seluruh tubuh di dalam air garam tersebut.

Baca Juga: 3 Hal Berbeda Film KKN di Desa Penari dengan Kejadian Sebenarnya

7. Mumifikasi adalah praktik yang suci bagi orang Mesir kuno

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)ilustrasi mumi (Wikimedia Commons/metmuseum.org)

Salah satu konsep yang paling mengerikan dalam The Mummy adalah Hom Dai, mumifikasi hidup dengan dimakan kumbang scarab. Namun, Smithsonian melaporkan bahwa orang Mesir menganggap kehidupan setelah kematian itu sangatlah suci, jadi tidak mungkin ada praktik barbar semacam itu.

Orang Mesir berharap untuk dihidupkan kembali setelah kematian dan melakukan semua hal yang dapat mereka lakukan saat hidup. Mereka juga percaya bahwa hukuman bagi orang jahat akan dibalas di akhirat oleh para dewa, jadi mereka tidak perlu repot-repot membalas kejahatan di dunia.

8. 'Kitab Orang Mati' tidak dapat menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)Papirus 'Kitab Orang Mati' Hunefer (britishmuseum.org/Antoine Barthélemy Clot)

Dalam The Mummy terdapat "Kitab Orang Mati," yaitu dokumen yang menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Kumpulan tulisan ini sebenarnya tidak dikenal sebagai "Kitab Orang Mati", seperti yang dilaporkan World History. Orang Mesir kuno menyebutnya "The Book of Coming Forth by Day."

Beberapa sarjana mengatakan bahwa ia juga bisa disebut "Kitab Kehidupan". Buku itu berisi mantra dan formula untuk membantu orang yang sudah meninggal mencapai tujuan mereka ke alam baka, dan juga pedoman bagi orang-orang Mesir bahwa mereka bisa selamat dari kematian. Akan tetapi, dokumen itu tidak bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal.

9. Di Mesir kuno, buku tidak memiliki halaman, tetapi berupa gulungan

9 Sejarah yang Keliru dalam Film The Mummy (1999)cuplikan adegan Evelyn Carnahan saat membaca Kitab Orang Mati (dok. Universal Pictures/The Mummy)

Dalam film, "Kitab Orang Mati" memiliki sampul, penjilidan, dan halaman, hal ini tentunya tidak ada di Mesir kuno. Jadi, tidak mungkin "Kitab Orang Mati" terlihat seperti buku tebal kontemporer. Orang Mesir mengembangkan skrip tertulis pertama mereka sekitar 3000 SM, dan mereka menulis di berbagai permukaan, seperti kulit hewan, batu, tanah liat hingga tulang. Saat memasuki era literatur dan pencatatan, mereka menggunakan gulungan papirus dan alat tulis buluh, seperti yang ditunjukkan iBook Binding.

Mereka membuat gulungan papirus dengan menjahit atau menempelkan potongan papirus untuk membuat gulungan standar dengan panjang 900 cm dan lebar 17 hingga 25 cm. Konon, beberapa gulungan dibuat sangat panjang, dan terpanjang yang ditemukan sejauh ini berukuran 40 meter.

Berbicara dari perspektif yang dramatis, memasukkan sensualitas, aksi mendebarkan, pembunuhan, dan balas dendam setelah kematian, terbukti menjadi kisah yang sangat menarik, terlepas dari sejarah dan fakta sebenarnya. Tidak masalah, sih, toh, The Mummy dibuat memang untuk menghibur penonton. Akan tetapi, kamu juga harus tahu sejarah sebenarnya, ya.

Baca Juga: Film Kopi Pahit: Film Romansa Mahalini Raharja dan Giannuca

Amelia Solekha Photo Verified Writer Amelia Solekha

Write to communicate. https://linktr.ee/ameliasolekha

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Debby Utomo

Berita Terkini Lainnya