TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Mengenal Aliran Psikologi Humanistik Maslow, Pernah Baca?

Konsepnya lebih positif dan optimis

potret Abraham Maslow (instagram.com/clickthroughcollege)

Tahukah kamu bahwa dalam ilmu psikologi ada banyak aliran yang memandang manusia dengan cara yang berbeda-beda? Salah satu aliran tersebut dikenal dengan istilah aliran humanistik. Aliran ini populer medio tahun 1970-1980 setelah psikoanalisis dan behaviorisme (dua aliran besar dalam ilmu psikologi) dianggap tidak mampu menjelaskan manusia dengan lebih utuh.

Psikologi humanistik pertama kali dipopulerkan oleh Abraham Maslow bersama dengan Carl Rogers. Keduanya berhasil membelokkan fokus psikologi ke arah yang lebih positif dan optimis. Dalami lebih lanjut, simak ulasan berikut hingga tuntas, yuk!

1. Abraham Maslow sebagai pendiri aliran psikologi humanistik

potret Abraham Maslow (instagram.com/abraham.maslow._)

Abraham Maslow merupakan seorang pionir dari psikologi humanistik yang lahir pada tahun 1908. Ia lahir dari keluarga yang tidak berkecukupan secara finansial. Orang tuanya merupakan imigran asal Rusia yang menetap di United States. Abraham Maslow merupakan anak tertua dari 7 orang bersaudara.

Di usia 18 tahun, Maslow mengambil jurusan hukum dan berniat untuk menjadi seorang pengacara demi menyenangkan dan memenuhi kepuasan sang Ayah. Akan tetapi, Maslow ternyata merasa bahwa jurusan tersebut tidak menarik dan tidak ia senangi. Ia pun memutuskan untuk berpindah haluan.

Sempat berpindah-pindah, Maslow akhirnya mendapatkan gelarnya di University of Wisconsin. Dalam proses perjalanan pendidikannya inilah ia kemudian memiliki pandangan pribadi yang menjadi awal mula terbentuknya aliran humanistik dalam ilmu psikologi.

Baca Juga: Mengenal dan Memahami Orientasi Seksual dari Perspektif Psikologi

2. Awal mula terbentuknya aliran humanistik

ilustrasi memandang manusia secara utuh (pexels.com/cottonbro studio)

Pada awalnya, Maslow mempelajari aliran stukturalisme Wundt/Titchener yang mengkaji manusia melalui elemen sensasi dan persepsi. Namun, Maslow berpindah pada aliran behaviorisme karena menganggap strukturalisme adalah hal yang membosankan. 

Akan tetapi, dalam proses perjalanannya ia merasa tidak setuju dengan konsep behaviorisme yang hanya terpaku pada stimulus respons (S-R) dalam mengkaji manusia. Ia menganggap bahwa hal tersebut tidak memandang manusia secara holistis, padahal untuk mampu memahaminya, manusia hendaknya dapat dipandang secara utuh.

Selain itu, aliran psikoanalisis juga dianggap terlalu pesimis dalam memandang manusia karena menganggap manusia hanya sekadar penyintas dari masa lalunya. Berawal dari gagasan inilah, Maslow bersama seorang rekannya Carl Rogers mulai berpisah dari aliran yang telah ada dan membuat sebuah konsep baru yang disebut sebagai aliran humanistik.

Aliran ini menekankan posisinya dengan menyatakan bahwa esensi perilaku manusia sangat subjektif. Untuk dapat memahaminya secara utuh, ia harus dilihat dari bagaimana mereka memaknai pengalamannya masing-masing. 

3. Konsep psikologi humanistik

ilustrasi manusia sebagai makhluk unik (pexels.com/Luis Quintero)

Psikologi humanistik percaya bahwa manusia memiliki motivasi dalam dirinya yang mendorong mereka dalam melakukan berbagai tindakan. Maslow menganggap bahwa untuk memahami manusia, ia perlu dilihat melalui pengalaman subjektifnya.

Dari sudut pandang humanistik, manusia dianggap bukan hanya sekadar robot yang melaksanakan sesuatu berdasarkan stimulus yang diperoleh seperti yang dijelaskan oleh para penganut behaviorisme. Melainkan, manusia dianggap sebagai makhluk yang unik. 

Manusia memiliki mimpi dan pandangan tentang masa depan serta mampu mengambil keputusan untuk diri sendiri. Ia bukan hanya sekadar penyintas dari masa lalunya yang banyak dibahas oleh para psikoanalis. Ia juga memiliki kehendak bebas (freewill) yang membuat mereka mampu menyusun tujuan dan masa depannya.

4. Bahas tentang kebutuhan manusia. Apa saja itu?

ilustrasi hierarki kebutuhan manusia (instagram.com/abraham.maslow._)

Dalam teorinya, Maslow banyak berbicara tentang dorongan-dorongan yang melatarbelakangi munculnya tingkah laku atau tindakan manusia di kehidupan nyata. Ia berpendapat bahwa dorongan tersebut muncul untuk memenuhi kebutuhan manusia yang kemudian ia bentuk dalam lima tingkatan.

Maslow mengategorikan tingkatan kebutuhan tersebut ke dalam dua bagian, yakni kebutuhan dasar (basic needs) dan kebutuhan perkembangan (growth needs). Menurutnya, untuk dapat mencapai kebutuhan tertinggi, yakni aktualisasi diri, maka kebutuhan-kebutuhan dasar di bawahnya perlu diselesaikan atau dipenuhi terlebih dahulu.

Dengan demikian, seseorang akan mampu mengembangkan dirinya ke arah yang lebih positif. Kebutuhan yang dimaksud oleh Maslow berbentuk hierarki, berupa:

  1. Kebutuhan fisiologis, seperti makan, minum, oksigen, kepuasan seksual, dan lain sebagainya. Orang-orang akan tergerak untuk mencari makan ketika lapar, mencari minum ketika haus, dan seterusnya.
  2. Kebutuhan atas rasa aman, mencakup rasa aman secara fisik maupun psikis, seperti kecukupan makanan, rumah untuk tempat berlindung, bebas dari ancaman, dan sebagainya.
  3. Kebutuhan atas kasih sayang, berarti bahwa manusia memiliki keinginan untuk merasa diterima, dicintai, dan disayangi oleh orang lain sehingga mereka melakukan apa saja agar keinginan tersebut dapat tercapai.
  4. Kebutuhan atas penghargaan, mencakup harga diri, kepercayaan diri, kompetensi diri ataupun rasa dihargai oleh orang lain.
  5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri, merupakan kebutuhan tertinggi yang mencakup self-fulfillment, pemenuhan potensi dan kemampuan diri, ataupun kebutuhan kreativitias.

Baca Juga: Yuk, Belajar Ilmu Psikologi Positif dari Martin Seligman!

Verified Writer

Nur Tazkiyah Sejati

rarely found someone who wants to listen carefully, so i write to release what is inside my mind

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya