Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apa yang Terjadi pada Telur dan Anak Satwa saat Karhutla?
ilustrasi telur burung (pexels.com/PRIYA MISHRA)
  • Karhutla meningkatkan suhu di sekitar sarang, berpotensi mengganggu perkembangan embrio dan menurunkan peluang telur menetas, terutama pada sarang terbuka atau habitat kehilangan tutupan vegetasi.
  • Anak satwa yang belum mandiri sulit menyelamatkan diri; panas, api, dan asap mengancam tempat berlindung serta berpotensi menghambat pertumbuhan, seperti pada anak burung terpapar PM2.5.
  • Setelah api padam, kerusakan vegetasi dan habitat tetap mengurangi perlindungan serta sumber makanan, membuat telur dan anak satwa lebih rentan terhadap panas, predator, dan perubahan lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Hutan di Kalimantan, Sumatera, dan Papua merupakan habitat bagi berbagai burung, reptil, serta mamalia, termasuk spesies yang dilindungi. Ketika kebakaran terjadi, telur yang berada di sarang dan anak satwa yang belum mampu bergerak jauh menjadi kelompok yang paling rentan.

Suhu panas, asap, dan api dapat mengganggu perkembangan telur hingga mengancam keselamatan anak satwa. Selain itu, kerusakan habitat dapat mengurangi ketersediaan makanan dan tempat berlindung bagi induk maupun anaknya. Lalu, apa saja yang bisa terjadi pada telur dan anak satwa ketika karhutla melanda habitat mereka? Berikut beberapa penjelasan dari kacamata sains yang perlu kamu tahu!

1. Suhu panas karhutla bisa merusak telur satwa

ilustrasi telur burung (pexels.com/Alvin Sadewo)

Telur satwa yang berada di sarang dapat terancam ketika karhutla meningkatkan suhu lingkungan di sekitarnya. Mengutip penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ornithological Applications pada 2021, suhu tinggi bisa memengaruhi keberhasilan hidup anak burung, terutama ketika kebakaran mengubah kondisi habitat dan ketersediaan makanan. Pada telur, paparan panas berlebihan dapat mengganggu perkembangan embrio dan menurunkan peluang telur menetas.

Penelitian terhadap burung pemangsa di kawasan Mediterania yang terbit dalam jurnal Global Change Biology pada 2023 menemukan bahwa kegagalan penetasan meningkat ketika suhu maksimum di kotak sarang melampaui 44 derajat Celsius. Meski begitu, dampak panas bergantung pada spesies, lama paparan, serta kemampuan induk menjaga suhu sarang. Karena itu, telur yang berada di sarang terbuka atau lokasi yang kehilangan tutupan vegetasi dapat menghadapi risiko lebih besar saat kebakaran terjadi.

2. Asap dan kebakaran mengancam anak satwa yang belum mandiri

ilustrasi anak orangutan (pexels.com/Bruno Peinemann)

Anak satwa yang belum mampu terbang atau berpindah tempat dengan cepat memiliki kemampuan terbatas untuk menyelamatkan diri dari kebakaran. Berdasarkan studi yang terbit dalam jurnal Scientific Reports pada 2025, paparan polusi partikel halus dari asap kebakaran hutan dapat menghambat pertumbuhan anak burung. Penelitian tersebut menemukan bahwa anak burung house wren yang terpapar peningkatan PM2.5 selama tiga hari pada awal kehidupannya memiliki berat badan dan ukuran tulang kaki yang lebih rendah dibandingkan anak burung pada tahun-tahun pembanding.

Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak asap tidak hanya berkaitan dengan gangguan pernapasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan anak satwa. Sementara itu, kebakaran yang menjangkau sarang dapat menimbulkan ancaman langsung melalui panas dan kerusakan tempat berlindung. Besarnya dampak bergantung pada intensitas kebakaran, tingkat paparan asap, serta kemampuan induk melindungi dan merawat anaknya.

3. Kehilangan habitat membuat telur dan anak satwa lebih rentan

ilustrasi karhutla (pexels.com/Eclipse Chasers)

Karhutla dapat merusak pepohonan, vegetasi bawah, dan tempat berlindung yang dibutuhkan satwa untuk berkembang biak. Menurut penelitian yang terbit dalam jurnal Forest Ecology and Management pada 2016, tingkat keparahan kebakaran memengaruhi keberadaan mamalia asli di hutan yang terbakar di Australia tenggara. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kondisi lingkungan setelah kebakaran, termasuk pemulihan vegetasi, berperan dalam menentukan kesesuaian habitat bagi satwa.

Ketika vegetasi dan tempat berlindung rusak, telur serta anak satwa dapat kehilangan perlindungan dari panas dan predator, sementara induknya mungkin harus mencari makanan di area yang lebih jauh. Dampaknya tidak selalu sama pada semua spesies karena sebagian satwa dapat bertahan atau kembali ke habitat yang terbakar, sedangkan spesies lain lebih rentan terhadap perubahan tersebut. Artinya, meskipun api sudah padam, kerusakan habitat masih dapat menjadi ancaman bagi kelangsungan hidup telur dan anak satwa.

Karhutla jelas bisa mengancam telur dan anak satwa melalui paparan panas, asap, serta kerusakan habitat tempat mereka berlindung dan berkembang. Dampaknya bisa terus berlangsung setelah api padam, terutama ketika sumber makanan dan vegetasi belum pulih. Menurutmu, apa yang bisa dilakukan untuk melindungi telur dan anak satwa ketika karhutla terjadi?⁠

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article