Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
ilustrasi tokek (pixabay.com/Milchdrink)
ilustrasi tokek (pixabay.com/Milchdrink)

Intinya sih...

  • Struktur kaki tokek yang super detail dan kuat

  • Gaya Van der Waals: lem alami tanpa lem

  • Cara tokek menempel dan melepaskan diri

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernahkah kamu melihat tokek merayap santai di dinding, bahkan di langit-langit rumah? Kelihatannya seperti melawan gravitasi, ya. Tanpa jatuh, tanpa tergelincir, dan pastinya tanpa lem. Kemampuan ini bukanlah trik sulap, melainkan hasil dari perpaduan luar biasa antara biologi dan fisika dalam skala super kecil.

Selama puluhan tahun, para ilmuwan dibuat kagum oleh cara tokek menempel di permukaan yang licin seperti kaca. Ternyata, rahasianya bukan ada pada zat lengket atau isapan seperti penyedot, melainkan pada struktur kaki tokek yang bekerja di tingkat nano. Di sini, kita akan membahas lebih dalam bagaimana tokek bisa menempel di dinding tanpa lem.

1. Struktur telapak kaki tokek yang super detail dan super kuat

Bagian bawah kaki tokek dilapisi bantalan jari yang sangat lebar. Di permukaan bantalan ini terdapat jutaan rambut mikroskopis yang disebut setae. Setiap seta panjangnya hanya sekitar 30–130 mikrometer, jauh lebih kecil dari rambut manusia.

Menariknya, setiap seta bercabang menjadi ratusan ujung super halus yang disebut spatulae. Ukuran ujungnya hanya sekitar 0,2–0,5 mikrometer. Bayangkan satu kaki tokek memilik jutaan “sikat mini” yang menempel ke permukaan!

Karena terbuat dari keratin (bahan yang sama dengan kuku manusia), rambut-rambut ini sangat kuat tapi juga fleksibel. Hasilnya? Kontak permukaan jadi maksimal, baik di dinding kasar maupun kaca licin. Bahkan, satu jari kaki tokek saja secara teori bisa menopang berat badannya yang sekitar 200 gram.

2. Gaya Van der Waals: lem alami tanpa lem

Tokek tidak mengeluarkan cairan lengket. Reptil ini juga tidak menyedot permukaan seperti vakum. Yang bekerja justru gaya fisika bernama gaya Van der Waals.

Gaya ini adalah tarikan sangat lemah antara molekul-molekul netral akibat pergerakan elektron. Satu gaya ini kecil sekali. Namun, saat jutaan spatulae bersentuhan dengan permukaan, semua gaya kecil itu bergabung menjadi kekuatan besar.

Dalam satu bantalan kaki tokek, bisa ada sampai satu juta titik kontak. Secara total, kekuatannya luar biasa, bahkan sepetak kecil setae seukuran koin bisa menopang beban hingga puluhan kilogram. Jauh lebih dari yang dibutuhkan tokek.

Oleh karena itu, tokek tetap bisa menempel di kaca, di ruang hampa, bahkan di bawah air. Ini membuktikan bahwa bukan lem atau hisapan yang bekerja, melainkan murni gaya molekuler.

3. Cara tokek menempel

ilustrasi tokek (pexels.com/Nikolett Emmert)

Saat akan menempel, tokek melakukan gerakan halus:

  • Kaki didorong ke permukaan

  • Lalu digeser sedikit ke belakang

Gerakan ini membuat setae terbuka dan menempel rapat ke dinding. Posisi ini mengaktifkan gaya geser (shear adhesion) yang mengunci spatulae ke permukaan.

Menariknya, arah sangat menentukan. Tekanan ke depan akan menyebabkan tokek menempel. Namun, jika jari kaki diangkat sedikit ke atas, ikatannya langsung lepas.

Tokek juga memiliki sistem self-cleaning. Debu dan kotoran otomatis terlepas saat berjalan sehingga kaki tetap bersih dan selalu siap menempel lagi.

4. Cara tokek melepaskan diri

Untuk melepaskan kaki, tokek tidak menariknya secara kasar. Tokek mengangkat jari-jari kaki satu per satu dari belakang ke depan dengan sudut kecil. Karena gaya Van der Waals hanya bekerja pada jarak sangat dekat (nanometer), sedikit saja jarak terbuka, ikatan akan langsung hilang. Proses ini membuat tokek bisa bergerak cepat tanpa risiko terpeleset. Saat berjalan di dinding, tokek memakai pola langkah seperti tripod atau diagonal, jadi selalu ada kaki yang menempel saat kaki lain bergerak.

5. Inspirasi teknologi dari kaki tokek

Ilmuwan dan insinyur meniru sistem ini lewat bidang biomimikri. Salah satu contohnya adalah teknologi “Geckskin” dari Stanford, yang bisa mengangkat beban ratusan kilogram di permukaan kaca tanpa meninggalkan bekas.

Teknologi ini mulai digunakan untuk:

  • Robot pemanjat dinding

  • Alat bantu medis

  • Perekat tanpa residu

  • Drone yang bisa mendarat di dinding

Kendati masih ada tantangan soal daya tahan dan distribusi tekanan, riset tentang kaki tokek terus berkembang.

Akhir kata, tokek tidak butuh lem, tidak menyedot, dan tidak licin karena sihir. Hewan ini mengandalkan jutaan rambut super kecil di kakinya yang memanfaatkan gaya Van der Waals untuk menempel dengan sempurna.

Ini bukti bahwa alam sering menemukan solusi yang jauh lebih canggih daripada teknologi manusia. Di balik langkah santai tokek di dinding rumahmu, tersimpan fisika tingkat nano yang luar biasa.

Referensi

Adventist Educators. Diakses pada Februari 2026. Learning From a Gecko’s Sticky Feet
Backpack Full of Question. Diakses pada Februari 2026. How The Gecko Forces its Way Up A Wall
Lewis & Clark. Diakses pada Februari 2026. Biologists Unlock Secret of Gecko Sticking Power
Live Science. Diakses pada Februari 2026. Geckos' Sticky Secret? They Hang by Toe Hairs
SingularityHub. Diakses pada Februari 2026. Gecko-Inspired Adhesive Sticks 700 Pounds to a Wall
The Environmental Literacy Council. Diakses pada Februari 2026. How Can a Gecko Climb a Wall and Not Fall Off?

Editorial Team