Saat nama Leonardo da Vinci disebut, kanvas berisi senyum misterius Mona Lisa atau perjamuan agung The Last Supper langsung terlintas di benak kita. Wajar saja, ia adalah maestro pelukis era Renaisans yang karyanya abadi. Namun, di balik kuas dan paletnya, tersimpan ribuan halaman berisi sketsa dan catatan yang membuktikan bahwa ia adalah seorang visioner sejati. Jauh sebelum teknologi memungkinkan, pikirannya telah melanglang buana merancang mesin-mesin yang baru terwujud ratusan tahun setelah kematiannya.
Lahir pada 1452 di Italia, da Vinci hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan dan engineering masih dalam tahap awal. Namun, rasa penasarannya yang tak terbatas mendorongnya untuk membedah anatomi manusia, mempelajari cara burung terbang, hingga merancang senjata untuk para penguasa. Banyak dari idenya hanya tertuang di atas kertas, dianggap angan-angan mustahil oleh orang-orang sezamannya. Kini, kita tahu bahwa catatan-catatan itu bukanlah fantasi, melainkan cetak biru dari masa depan yang ia lihat lebih dulu.
