Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta Ittoqqortoormiit, Beruang Kutub lebih Banyak dari Manusia!
Ittoqqortoormiit (unsplash.com/AnnieSpratt)

Intinya sih...

  • Transportasi non-konvensional: Warga Greenland mengandalkan helikopter, pesawat kecil, perahu, mobil salju, dan kereta luncur anjing untuk mobilitas jarak jauh.

  • Tradisi berburu: Berburu menjadi keterampilan vital untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari dengan hasil buruan seperti daging rusa kutub dan anjing laut.

  • Kuliner ekstrem: Makanan tradisional mereka meliputi maktak (kulit paus) dan suaasat (sup hangat) yang unik bagi lidah orang asing.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Bayangkan, kamu tinggal di sebuah pulau raksasa yang hampir seluruh permukaannya tertutup oleh lapisan es abadi. Greenland bukan sekadar destinasi wisata yang menawarkan pemandangan aurora memukau, melainkan rumah bagi ribuan orang yang harus berhadapan dengan iklim ekstrem setiap harinya. Bagi kebanyakan orang, suhu yang membeku mungkin menjadi alasan untuk terus berdiam diri di dalam rumah. Namun bagi warga lokal di sana, ini adalah realitas kehidupan normal yang harus mereka takhlukkan dengan cara yang tidak biasa.

Tantangan geografis yang berat memaksa penduduk Greenland mengembangkan gaya hidup yang sangat berbeda dari negara Eropa pada umumnya. Mulai dari sistem transportasi yang sama sekali tidak mengandalkan jaringan jalan raya antar kota hingga pola makan unik yang mungkin terdengar ekstrem bagi lidah orang asing. Mereka memiliki strategi adaptasi luar biasa yang memadukan tradisi leluhur dengan kebutuhan bertahan hidup modern. Penasaran gimana cara mereka bertahan hidup? Simak artikel ini sampai tuntas, yuk!

1. Mengandalkan transportasi non-konvensional

Ittoqqortoormiit (commons.wikimedia.org/RobOo)

Di Greenland, kamu tidak akan menemukan jaringan jalan raya aspal yang menghubungkan satu kota dengan kota lainnya seperti di negara kebanyakan. Mobil hanya berguna untuk mobilitas jarak pendek di dalam batas kota saja. Untuk bepergian ke wilayah lain, warga setempat sangat bergantung pada transportasi udara seperti helikopter atau pesawat kecil serta jalur laut menggunakan perahu. Saat musim dingin tiba, mobil salju dan kereta luncur anjing menjadi moda transportasi utama untuk menembus medan bersalju yang sulit dijangkau kendaraan biasa.

2. Tradisi berburu untuk bertahan hidup

Greenland (commons.wikimedia.org/MarkusTrienke)

Berburu bukanlah sekadar hobi akhir pekan bagi penduduk setempat, melainkan keterampilan vital untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Meskipun supermarket tersedia, harga barang impor di sana sangat mahal dan stoknya tidak selalu segar karena kendala pengiriman. Oleh karena itu, banyak keluarga yang mengandalkan hasil buruan sendiri seperti daging rusa kutub, anjing laut, atau musk ox untuk mendapatkan asupan protein berkualitas. Kemampuan melacak dan menangkap hewan di alam liar ini diajarkan turun-temurun sebagai bentuk kemandirian pangan yang nyata.

3. Kuliner ekstrem maktak dan suaasat

suaasat (commons.wikimedia.org/distrita.com)

Adaptasi terhadap lingkungan juga terlihat jelas dari menu makanan tradisional mereka yang mungkin terdengar ekstrem bagi lidah orang asing. Salah satu hidangan populernya adalah maktak, yaitu kulit paus beserta lapisan lemaknya yang sering disantap mentah karena kandungan vitamin C yang sangat tinggi untuk mencegah penyakit. Selain itu, mereka memiliki sup hangat bernama suaasat yang biasanya berisi daging anjing laut, kentang, dan bawang sebagai penghangat tubuh alami di tengah cuaca Arktik yang menusuk tulang.

4. Kode warna bangunan yang unik

Ittoqqortoormiit (unsplash.com/AnnieSpratt)

Jika kamu melihat foto permukiman di Greenland, pasti mata akan tertuju pada rumah-rumah kayu yang dicat dengan warna-warni mencolok. Pewarnaan ini bukan tanpa alasan, melainkan berfungsi sebagai kode visual untuk membedakan fungsi bangunan di tengah lanskap yang didominasi warna putih salju. Secara historis, warna merah menandakan toko atau gereja, kuning untuk rumah sakit, hitam untuk kantor polisi, biru untuk pabrik ikan, dan hijau untuk pusat telekomunikasi, sehingga memudahkan warga mengenali tujuan mereka dari kejauhan.

5. Pakaian nasional yang fungsional dan simbolis

warga Greenland (commons.wikimedia.org/ArianZwegers)

Pakaian nasional warga Greenland dirancang khusus untuk menahan suhu beku tanpa mengesampingkan nilai estetika. Secara tradisional, busana mereka terbuat dari kulit hewan buruan seperti anjing laut atau beruang kutub yang terbukti paling ampuh menahan hawa dingin. Untuk acara spesial seperti pernikahan atau perayaan ulang tahun, mereka mengenakan versi modern yang terbuat dari bahan sutra atau wol yang dihiasi dengan sulaman manik-manik rumit sebagai simbol identitas budaya yang sangat mereka banggakan.

6. Tradisi kaffemik

tradisi Kaffemik (youtube.com/atvdenmark)

Di balik cuaca yang dingin, warga setempat menjaga kehangatan hubungan sosial melalui tradisi unik bernama kaffemik. Ini adalah acara kumpul-kumpul santai di rumah salah satu warga untuk menikmati kopi dan kue buatan sendiri sambil bertukar cerita. Menariknya, mereka tidak membutuhkan alasan besar untuk mengadakan acara ini; perayaan sederhana seperti hari pertama sekolah, tumbuh gigi pertama pada bayi, atau sekadar ingin bertemu kerabat sudah cukup menjadi alasan untuk mengundang tetangga berpesta di rumah.

7. Hidup berdampingan dengan isolasi dan alam

Ittoqqortoormiit (unsplash.com/RodLong)

Tinggal di wilayah paling terpencil di bumi, membuat penduduknya memiliki mentalitas baja dalam menghadapi isolasi. Koneksi internet sering kali lambat atau bahkan tidak tersedia di beberapa wilayah, memaksa mereka untuk lebih menikmati interaksi langsung dengan alam dan sesama daripada dunia maya. Mereka hidup selaras dengan ritme alam yang ekstrem, mulai dari menghadapi malam polar di mana matahari tidak terbit selama berminggu-minggu hingga fenomena matahari tengah malam saat musim panas tiba.

Kemampuan warga lokal beradaptasi dengan kondisi ekstrem membuktikan bahwa manusia memiliki ketangguhan luar biasa untuk bertahan hidup di mana saja. Jika suatu saat kamu berkesempatan mengunjungi pulau es ini, cobalah untuk meresapi kearifan lokal mereka yang unik karena pengalaman tersebut pasti akan memberikan perspektif baru tentang arti kenyamanan dan kebersamaan di tengah kesunyian kutub.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team