Comscore Tracker

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik Opera

"Text first, rhythm second, melody third."

Saat kita memikirkan para komposer hebat, kita pasti memikirkan simfoni. Atau mungkin, karya-karya besar yang bercerita tentang konflik moral dan sosial, serta perjuangan heroik melawan otoritas. Singkatnya, kita memikirkan komposer-komposer terkenal yang telah menciptakan berbagai masterpiece.

Begitu pula dengan Claudio Monteverdi. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah musik. Karya-karya Monteverdi menjadi penghubung antara gaya musik Renaissance dan Baroque pada masa itu. Ia juga menjadi orang pertama yang membuat musik bergenre opera.

Namun, kelahiran sang maestro Italia yang satu ini belum diketahui secara pasti. Berbagai literatur hanya menyebutkan bahwa Monteverdi dibaptis pada tanggal 15 Mei 1567 di Cremona dan wafat 29 November 1643 di Venesia. Penasaran dengan sosok Monteverdi? Yuk, kita simak biografinya di bawah ini!

1. Monteverdi, 'Si Gunung Hijau' yang sudah berbakat sejak kecil

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik Operaspectator.net

Monteverdi lahir dengan nama lengkap Claudio Giovanni Antonio Monteverdi. Nama belakangnya, Monteverdi, memiliki arti 'gunung hijau' dalam Bahasa Italia.

Ayahnya, Baldassare Monteverdi, merupakan seorang dokter, ahli kimia, sekaligus tukang cukur. Sementara ibunya, Maddalena née Zignani, adalah putri dari seorang tukang emas. Monteverdi mempunyai 3 saudara laki-laki dan 2 saudara perempuan. Adiknya, Giulio Cesare, juga menjadi musisi terkenal. Sayang sekali, Monteverdi kehilangan ibunya ketika ia masih berusia sembilan tahun.

Momen ketika Monteverdi mengenal musik adalah ketika ia menjadi anggota paduan suara di katedral setempat, dan menerima pelajaran musik pertamanya di sana. Ia menjadi murid dari A.A. Ingegneri, seorang komposer terkenal dan direktur musik di sebuah katedral.

Di tahun 1582, ia sudah menciptakan beberapa motet. Pada usia 15 tahun, Monteverdi menciptakan sebuah madrigal –genre utama musik Italia pada abad ke-16. Lima tahun kemudian, ia menyusun buku madrigal pertamanya, dan mulai mencari pekerjaan di luar Cremona.

2. Monteverdi memulai takdirnya sebagai penyanyi, pemain musik, dan komposer di usia muda

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik Operamagazine-photo.fr

Sepuluh tahun kemudian, Monteverdi berusaha untuk mendapatkan pekerjaan di Milan. Upaya Monteverdi memang gagal, tetapi hal itu tidak menghambatnya untuk menciptakan karya-karya lain. Akhirnya, tawaran pekerjaan datang pada tahun 1590 di Mantua. Ia bekerja untuk Adipati Vincenzo I dari Gonzaga.

Monteverdi mulai bekerja sebagai vokalis dan pemain biola. Pada tahun 1602, ia diangkat menjadi konduktor karena bakatnya yang diakui oleh orang-orang.

Monteverdi tinggal di Mantua sekitar 20 tahun. Ia sering menemani sang adipati untuk kunjungan ke luar negeri. Pada tahun 1599, ia menikah dengan seorang penyanyi kerajaan, Claudia de Cattaneis. Mereka memiliki dua putra –Francesco dan Massimiliano– serta seorang putri –Leonora– yang meninggal ketika masih bayi. Namun, sang istri meninggal beberapa tahun kemudian setelah pernikahan mereka yang tergolong singkat.

Baca Juga: Kisah Hidup James Naismith, Penemu Permainan Bola Basket

3. Sebagai komposer yang menghidupkan Opera, nama Monteverdi sangat melegenda

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik Operaexpress.co.uk

Pengaruh Monteverdi dalam musik opera juga sangat besar. Sebelumnya, para seniman yang menciptakan opera berusaha untuk menghidupkan kembali kisah tragedi Yunani kuno. Opera ditampilkan semirip mungkin dengan aslinya. Meskipun opera melibatkan musik dan nyanyian, mereka belum mengetahui jenis musik apa yang digunakan oleh orang Yunani. Bahkan, saat itu belum ada tempat untuk pertunjukkan opera.

Monteverdi segera memperbaharui seni yang belum sempurna itu dengan sebuah karya opera yang berjudul 'L'Orfeo'. Opera milik Monteverdi memang revolusioner dan menentang segala tradisi musik yang ada. Karya tersebut menekankan emosi yang sangat luas, tidak seperti gaya sebelumnya di mana semua elemen vokal dibuat rata.

Melalui karyanya, Monteverdi memperkenalkan unsur yang lebih ekspresif dan dramatis ke dalam musik. Gaya itu disebut sebagai stile concitato, atau jika dijelaskan secara detail adalah musik dengan melodi yang berulang, cepat, dan diperpanjang untuk menampilkan kegelisahan dan kemarahan.

Dalam hal ini, karya Monteverdi juga menyerupai musik modern. Ada garis melodi tunggal yang menonjol dan iringan akor untuk warna dan latar suara. Ia menonjolkan dinamika serta berbagai nada untuk menyampaikan emosi manusia dengan cara yang memukau penonton dan membingungkan para kritikus konservatif.

Bahkan, pada awal tahun 1600-an, Giovanni Maria Artusi, seorang ahli teori terkenal, mengkritik Monteverdi karena 'modernisme' yang keras. Hal itu tidak berpengaruh, karena Monteverdi sudah dianggap sebagai orang pertama yang membangun opera melalui karakter yang hidup, bernapas, bisa mencintai, dan bahkan membenci.

4. Perjalanan karier, karya-karya, dan sisa hidupnya dihabiskan di Venesia

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik Operaoperasandcycling.com

Monteverdi diangkat sebagai konduktor di Basilika San Marco, Venesia, pada tahun 1613. Ia sukses mengangkat standar musik melalui paduan suara dan orkestra, yang terlanjur salah urus dan melempem di tangan pendahulunya, Giulio Cesare Martinengo. Para pengurus basilika akhirnya merasa lega setelah Monteverdi menempati jabatan itu.

Saat berada di Venesia, Monteverdi juga menulis tiga buah buku tentang madrigal. Bukunya yang kedelapan adalah yang paling terkenal. Buku itu berisi karya-karya yang ditulis selama tiga puluh tahun, seperti 'Tancredi e Clorinda' di tahun 1624. Ia membuat instrumen dan vokal menjadi dua unsur yang terpisah.

Dua karya terakhirnya adalah opera 'Il Ritorno d'Ulisse in Patria' dan 'L'incoronazione di Poppea' yang terinspirasi dari kehidupan seorang Kaisar Romawi, Nero. 'L'incoronazione' dianggap sebagai titik puncak dari karya Monteverdi dan sebuah mahakarya opera.

Hal itu ditandai oleh berbagai adegan tragis maupun romantis, penggambaran karakter yang realistis, dan melodi yang terdengar lebih hangat dibandingkan opera-opera lain di zaman itu.

5. Akhir dari kehidupan sang legenda, Claudio Monteverdi

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik Operatalkclassical.com

Claudio Monteverdi berhasil membuktikan dirinya sebagai komposer opera terbaik sepanjang masa. Ia dijunjung tinggi oleh orang-orang di Venesia, bahkan mendapat banyak hadiah uang dari mereka. Dengan pemberian tersebut, Monteverdi pergi untuk mengunjungi kota asalnya dalam beberapa bulan terakhir menjelang kematiannya.

Monteverdi terlalu banyak bekerja dan pada akhirnya jatuh sakit. Beberapa ahli menghubungkan kondisi kesehatannya dengan wabah mematikan pada tahun-tahun sebelumnya, namun hal ini tidak terbukti.

Rakyat Venesia sangat menghormati Monteverdi, dan mereka menghadiri pemakamannya di Basilika Dei Freri pada tanggal 29 November 1643. Sampai hari ini, monumen yang dibuat untuk Claudio Monteverdi masih ada.

6. Satu hal yang perlu kamu ketahui, Claudio Monteverdi sangat bijak dalam bermusik!

Claudio Monteverdi: Revolusioner Italia yang Menghidupkan Musik OperaPexels/Donatello Trisolino

1. "Music is spiritual. The music business is not."

Musik bersifat spiritual. Musik tidak untuk bisnis.

Perasaan gelisah dituangkan oleh Monteverdi dalam berbagai lantunan musik, paduan suara, lagu pengiring opera, hingga instrumen. Eksplorasi terhadap musik membuatnya 'kaya' akan rasa. Ini melebihi uang yang didapatkannya, karena banyak kalangan menyukai performa Monterverdi.

Tidak-segan-segan Monteverdi menghidupkan kembali kelompok paduan suara yang hampir bubar, bangkrut, dan salah urus. Memberi kehidupan pada musik adalah tujuan spiritual Monteverdi, bukan membangun musik sebagai imperium bisnisnya.

2. "The end of all good music is to affect the soul."

Tujuan akhir musik yang baik adalah untuk menyentuh jiwa.

Meski pernah mendapatkan tentangan akan warna musik yang dianggap terlalu revolusioner, Monteverdi tetap teguh pada keyakinannya. Seorang budayawan di zaman Renaissance yang bernama Giovanni Maria Artusi, bahkan pernah mengkritiknya dengan keras.

Monterverdi dianggap telah keluar dari pakem yang ada. Musiknya dianggap 'liar'. Namun, hal itu tidak mempengaruhi Monteverdi. Musik di tangannya harus 'hidup' dan mampu menangkap berbagai rasa yang ada. Rasa cinta, kegelisahan, dan kebencian dalam relung jiwa manusia.

3. "The goods of this world are most dear to me, but much dearer are peace of mind and my own honor."

Benda-benda dunia menyenangkan hati saya, namun lebih dari itu, saya sangat menginginkan pikiran yang damai dan kehormatan pribadi.

Sebagai seorang musisi besar, Monteverdi tidak jauh berbeda dengan seorang 'selebritas' di masa kini. Ketenaran membawa seseorang pada gemerlap duniawi. Namun, apakah Monteverdi terseret ke dalamnya? Tidak! Monteverdi tetap menjaga kehormatan pribadinya. Ia juga memilih untuk tetap bersahaja agar pikiran dan hatinya tenang.

Sungguh luar biasa kisah hidup Monteverdi. Ia adalah legenda, pembaharu musik di zaman Renaissance, dan orang yang mewarnai zaman Baroque yang berkembang sesudahnya.

Sebagai penyeimbang dari kisah Monteverdi, ada baiknya kamu menyimak komposisi musiknya yang diberi judul 'Pur Ti Miro'. Alunan musik ini sesungguhnya merupakan lagu cinta yang dinyayikan oleh Nero dan Poppea dalam opera Monteverdi yang bertajuk 'L'incoronazione di Poppea'.

Di akhir pertunjukan, Nero dan Poppea berduet untuk menyanyikan lagu cinta. Kamu juga dapat juga menemukannya dalam alunan musik instrumental tanpa vokal. "Pur ti miro, pur ti godo.” (Aku menatapmu, aku memilikimu). Sangat indah dan romantis!

https://www.youtube.com/embed/7GkMuOKEgtw

Baca Juga: Kisah Vlad Tępęs, Raja Dracula yang Ternyata Hidup di Dunia Nyata

Vondra Photo Verified Writer Vondra

She/her.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Arifina Budi A.

Berita Terkini Lainnya