Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
pexels-cottonbro-5608107.jpg
ilustrasi deforestasi (pexels.com/cottonbro studio)

Intinya sih...

  • Deforestasi mengganggu siklus air dengan meningkatkan limpasan permukaan, menurunkan debit dasar sungai, dan memicu banjir serta erosi.

  • Pohon yang ditebang menghilangkan proses transpirasi, menyebabkan kekeringan regional, dan meningkatkan risiko banjir bandang.

  • Hilangnya hutan berdampak pada kualitas air dengan meningkatkan erosi, membuat air keruh, dan memperburuk ketersediaan air bersih.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah terpikir kenapa banjir makin sering terjadi di satu daerah, sementara wilayah lain justru mengalami kekeringan berkepanjangan? Banyak orang langsung menyalahkan perubahan iklim, padahal ada satu penyebab besar yang sering luput dari perhatian: hilangnya hutan. Ya, hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan sistem alami yang mengatur pergerakan air di Bumi.

Saat hutan ditebang, dampaknya tidak berhenti pada rusaknya ekosistem atau hilangnya habitat satwa. Yang lebih mengkhawatirkan, deforestasi mengacaukan siklus air—proses alami yang menentukan kapan hujan turun, seberapa banyak air meresap ke tanah, dan seberapa stabil ketersediaan air bersih bagi manusia. Efeknya merambat ke mana-mana, dari banjir, kekeringan, hingga krisis air minum. Mari, kita bahas lebih dalam bagaimana dampak deforestasi terhadap siklus air.

1. Bagaimana deforestasi mengganggu siklus air

Hutan berperan penting dalam mengatur siklus hidrologi. Tajuk pohon menahan air hujan agar tidak langsung menghantam tanah. Air kemudian mengalir perlahan atau meresap ke dalam tanah. Namun, ketika hutan hilang, hujan langsung jatuh ke permukaan tanah yang terbuka. Akibatnya, hingga 40 persen lebih banyak air berubah menjadi limpasan permukaan, membawa tanah, lumpur, dan polutan ke sungai.

Akar pohon juga berfungsi menahan tanah dan membantu air meresap ke lapisan bawah tanah. Proses ini penting untuk mengisi air tanah yang menjaga aliran sungai tetap stabil saat musim kemarau. Tanpa hutan, tanah menjadi padat dan sulit menyerap air, sehingga debit dasar sungai bisa turun hingga 20–50 persen di wilayah yang mengalami deforestasi.

2. Peran transpirasi pohon yang sering diremehkan

Pohon tidak hanya menyerap air, tetapi juga mengirimkannya kembali ke atmosfer melalui proses transpirasi. Di hutan tropis, hingga 75 persen curah hujan kembali ke udara dalam bentuk uap air yang membantu pembentukan awan dan hujan di wilayah lain. Ketika pohon ditebang, sumber uap air ini menghilang.

Akibatnya, udara menjadi lebih kering dan curah hujan regional bisa menurun 10–30 persen. Inilah yang memperparah kekeringan di wilayah seperti Amazon dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

3. Risiko banjir dan erosi yang meningkat tajam

ilustrasi banjir (pexels.com/hitesh choudhary)

Tanah gundul tidak mampu menyerap hujan deras. Saat hujan lebat turun, air langsung mengalir deras dan memicu banjir bandang. Setelah deforestasi, puncak aliran sungai bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat, terutama di daerah beriklim monsun.

Selain banjir, erosi menjadi masalah serius. Tanah yang terkikis terbawa ke sungai, meningkatkan sedimentasi hingga 100–1.000 kali lipat. Dampaknya tidak hanya merusak habitat ikan, tetapi juga mempercepat pendangkalan waduk dan memperburuk kualitas air.

4. Dampak deforestasi terhadap kualitas air

Hilangnya hutan berdampak langsung pada kualitas air. Tanpa akar pohon yang menahan tanah, erosi meningkat dan air menjadi keruh. Tingginya sedimen dan kekeruhan membuat biaya pengolahan air minum melonjak dan menyulitkan masyarakat mengakses air bersih.

Penelitian di Malawi menunjukkan bahwa penurunan tutupan hutan sebesar 14 persen menyebabkan penurunan curah hujan hingga 9 persen, sekaligus memperburuk ketersediaan air minum bersih. Temuan ini menegaskan bahwa hutan berperan besar dalam menjaga kualitas dan kuantitas air di daerah tangkapan air.  (Proceedings of the National Academy of Sciences, 2019)

5. Dampak global dan lokal

Dalam skala global, deforestasi tropis mengganggu fenomena “atmospheric river”—aliran uap air di atmosfer yang membawa hujan ke wilayah pertanian jauh dari hutan. Deforestasi di Amazon, misalnya, terbukti mengubah pola hujan hingga memengaruhi pertanian di Amerika Serikat dan sistem monsun di India.

Secara lokal, masyarakat di daerah aliran sungai yang gundul menghadapi krisis air saat musim kemarau. Ketersediaan air menurun, biaya pengolahan meningkat, dan risiko konflik antarwilayah pun naik.

Menjaga hutan berarti menjaga aliran air yang menopang kehidupan. Selama pohon masih berdiri, hujan tetap turun teratur, sungai tetap mengalir, dan air bersih masih bisa diandalkan. Namun sekali hutan hilang, siklus air ikut runtuh—dan dampaknya akan dirasakan jauh lebih lama daripada manfaat sesaat dari penebangan. Karena itu, melindungi hutan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan investasi paling mendasar untuk keberlangsungan hidup manusia.

Referensi

Earth Reminder. Diakses pada Desember 2025. How Does Deforestation Affect the Oxygen Cycle?
Emission-Index.com. Diakses pada Desember 2025. How Deforestation Affects Water Quality.
Mapulanga, A. M., & Naito, H. (2019). Effect of deforestation on access to clean drinking water. Proceedings of the National Academy of Sciences, 116(17), 8249–8254. https://doi.org/10.1073/pnas.1814970116
Sustainability Directory. Diakses pada Desember 2025. How Does Deforestation Affect Water Cycles?
Sustainability Directory (Pollution). Diakses pada Desember 2025. How Does Deforestation Impact Global Water Cycles?

Editorial Team